
"Bi!... Aku mau jus kiwi," teriak seorang wanita pada Bibi Han.
"Baik Nona!" ucap Bibi Han sambil membungkuk lalu berjalan menuju dapur.
"Kau siapa?" tanya Min Ji ketika dia sudah ada di dalam rumah. Dia di buat terkejut karena ada seorang wanita dengan tubuh tinggi besar sedang duduk di meja makan sambil menikmati makan siang dengan lahap. Wanita itu juga sangat berani menyuruh-nyuruh Bibi Han.
"Ada apa sayang?" tanya Ye-Seul pada Min Ji. Mereka memang baru pulang dari rumah sakit. Ya, Min Ji sudah di perbolehkan untuk pulang . Dia sudah sangat sehat. Min Ji hanya perlu cek up sesekali untuk memeriksa luka pada pergelangan tangannya.
"Jadi kau orang yang melakukan percobaan bunuh diri itu?" sinis Annya sambil memakan buah apel yang ada di tangannya.
"Kau siapa? kenapa kau ada di rumahku? kau juga bertingkah seolah kau adalah tuan rumah di sini?" Min Ji berteriak karena sudah tersulut emosi. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa ada wanita gila yang masuk ke rumahnya. "Bibi Han!!!" teriak Min Ji pada kepala pelayan di rumahnya. Bibi Han menghampiri Min Ji dengan membawa segelas jus kiwi .
"Ada apa Nona?" tanya Bibi Han.
"Kenapa kau membiarkan wanita gila ini masuk?" sarkas Min Ji dengan amarah yang sudah meluap-luap seperti gunung Merapi yang sedang mengeluarkan lava pijar.
"Tenang sayang!" ucap Ye-Seul berusaha meredam kemarahan putrinya. Ye-Seul memegang bahu Min Ji namun dengan segera Min Ji menepis tangan ibu sambungnya.
"Mana jus kiwi punyaku Bi?" tanya Annya tanpa menghiraukan pertanyaan yang di lontarkan Min Ji.
Byuuurrrrrrrr.... Min Ji mengambil gelas yang ada di tangan Bibi Han lalu menyiramkan jus kiwi itu di wajah Annya.
Lee Annya tersenyum sambil mengusap jus kiwi yang ada di wajahnya. Dia ingin kembali menyerang Min Ji namun langsung mengurungkan niatnya ketika melihat Go Myung Jin berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Myung Jin ketika mendengar keributan dan melihat kekacauan yang sedang terjadi.
"Ayahhhh!" ucap Annya sambil bergelayut manja di lengan Myung Jin. "Dia membentak ku dan menyiram wajahku dengan jus kiwi. Hikssss aku memang tidak di terima di rumah ini. Lebih baik aku kembali saja ke kontrakan lamaku."
Myung Jin menatap Min Ji dengan tatapan yang tajam. Dia menolehkan wajahnya melihat wajah Annya yang memang sudah basah dan juga berantakan. Lain dengan Myung Jin, Ye-Seul maupun Min Ji di buat terheran-heran karena wanita yang sedang bergelayut manja di lengan Myung Jin memanggilnya dengan sebutan Ayah. Ada apa sebenarnya, kenapa ada kekacauan seperti ini. Ye-Seul menatap Myung Jin seolah ingin mendapat jawaban dari laki-laki itu.
"Ada apa ini Myung Jin?" tanya Ye-Seul dengan suara dingin sedingin es di kutub Utara.
"Kau pergilah ke kamarmu!" ucap Myung Jin melepas pelukan Annya di lengannya. "Ada yang harus aku bicarakan dengan mereka," lanjut Myung Jin sambil tersenyum. Annya mengangguk . Dia tersenyum menyeringai lalu naik ke lantai atas menuju kamar nya.
"Jelaskan semuanya dengan jelas Myung Jin!" teriak Ye-Seul.
Myung Jin mengibaskan tangannya di depan Bibi Han. Bibi Han mengangguk kemudian pergi dari ruang makan tersebut.
Deg...
Jantung Ye-Seul seakan berhenti saat itu juga. Anak? anak siapa? wanita mana lagi yang bermain gila dengan suaminya ini. Apa belum cukup Ye-Seul menerima Min Ji sebagai anaknya meskipun dia tahu kalau Myung Jin mengkhianati nya kala itu. Sekarang Myung Jin membawa anggota baru dan mengatakan kalau dia adalah ayah dari orang tersebut. Gila.. Ini benar-benar gila.
"Apa maksud Ayah? kenapa dia menjadi anakmu? apa dia juga sama sepertiku? statusnya sama sepertiku bukan? dia adalah anak haram dari perempuan yang kau hamili? benar seperti itu Ayah? JAWABBB!!" bentak Min Ji di depan wajah Myung Jin.
"Dengarkan Ayah Min Ji! dia adalah Kakak dari kalian bertiga, sebelum aku menikah dengan Ibunya Hera, aku sudah memiliki hubungan dengan Ibunya Annya. Hanya saja aku tidak tahu kalau Ibunya Annya sedang mengandung saat itu. Aku baru mengetahuinya beberapa bulan terakhir."
"Hahahaha.. Kau sangat lucu Myung Jin. Kau adalah seorang pemain ulung. Kau bisa menanam benih di banyak ladang tanpa memikirkan konsekuensi nya sama sekali. Cihhhh. Aku pikir, kau tidak seburuk itu, tapi ternyata aku salah." Ye-Seul sudah pernah di khianati Myung Jin satu kali. Tapi entah kenapa kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ayah! Aku sangat kecewa terhadapmu. Aku merasa malu karena harus lahir sebagai putri dari bajingan sepertimu. Kau adalah laki-laki brengsek yang tidak pantas di hormati."
Plakkkkk.... Min Ji meringis saat mendapat sebuah tamparan dari Ayahnya. Dia tersenyum sinis lalu menatap Myung Jin dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kau memukulku Ayah? bunuh saja aku! toh aku juga tidak ingin ada di dunia ini. Aku terlalu malu untuk menampakan wajahku di depan umum," teriak Min Ji pada Myung Jin. Myung Jin kembali melayangkan tangannya namun Ye-Seul menangkap pergelangan tangan Myung Jin.
"Jangan pukul dia Myung Jin! pukul saja aku!" ucap Ye-Seul yang tidak terima anaknya di pukul dengan tangan kotor suaminya.
"Aku harus mendidik nya Ye-Seul. Kau selalu memanjakannya, dan inilah akibat dari didikan yang sudah kau berikan, dia tidak memiliki rasa hormat dan sopan santun."
"Kau pikir orang seperti apa yang harus di hormati? jangan bilang kau menganggap dirimu layak mendapat rasa hormat kami. Karena sampai kapan pun kau tidak akan pernah mendapatkannya." Ye-Seul memegang bahu Min Ji dan membawanya ke lantai atas. Dia sama sekali tidak memperdulikan Myung Jin yang terus berteriak memanggil namanya dan nama Min Ji.
"Aku tidak perduli, kalian harus memperlakukan Annya dengan baik. Dia adalah anakku. Dia harus mendapatkan hak nya di rumah ini." Myung Jin berteriak dengan keras, namun orang yang di teriaki tidak menjawab atau meresponnya sama sekali.
Sementara di dalam sebuah kamar. Annya sedang tertawa terbahak-bahak. Dia tentu tahu apa yang baru saja terjadi di ruang makan. Rencananya untuk membuat keluarga Go porak poranda selangkah demi selangkah mulai terjadi.
"Ternyata tidak sia-sia aku berlagak lemah dan bodoh di depan bandot tua itu. Dia sangat mudah untuk di kelabui."
Sebenarnya, Myung Jin membebaskan Annya dari penjara dengan jaminan. Dia harus melakukan itu agar dia bisa bertanggung jawab. Entah apa yang dia pikirkan, padahal Myung Jin tahu kesalahan yang di perbuat Annya sampai harus mendekam di penjara adalah karena melakukan kejahatan kepada Hera. Tapi dengan mudahnya dia membebaskan Annya hanya karena dia ingin bertanggung jawab. Sungguh tidak logis. Bandot tua itu selalu menganggap hal-hal seperti ini remeh. Dia hanya memperdulikan sisi luar seseorang daripada dalamnya. Mungkin dalam kata lain, Myung Jin hanya memperdulikan cover daripada isi. Dia tidak benar-benar memiliki hati untuk menyayangi orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Aku akan merebut semua kekayaan milikmu seperti aku merebut kamarmu ini Go Hera." Annya kembali tertawa. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya fokus menatap langit-langit namun pikirannya berkelana ke sana kemari memikirkan cara untuk mengambil alih semua kekayaan yang di miliki Go Myung Jin.
Annya memang mendiami kamar lama Go Hera. Myung Jin sudah mengatakan kalau dia tidak bisa membiarkan kamar itu di isi oleh orang lain. Namun karena kelicikan Annya, tentu saja dia bisa membuat Myung Jin simpati sampai pada akhirnya membiarkan Annya untuk menempati kamar lama Hera.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.🤗🤗...