
Sudah satu jam sejak Alex duduk berkutat dengan laptop di atas meja kerjanya. Alex sesekali mengalihkan pandangannya ke arah di mana Hera berada. Hera tertidur saat ini, Alex tersenyum, dia menyandarkan punggungnya ke senderan kursi, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Hera. Hera yang tidur dengan posisi duduk seperti ini terlihat lucu karena rambut panjangnya menutupi sebagian dari wajah Hera. Alex sudah harus siap-siap karena sekarang sudah hampir jam 10 siang.
Alex membuka kaca mata bacanya, dia memijat tulang hidung di antara kedua matanya sebentar, menutup laptop lalu berjalan ke arah ranjang, Alex menelusupkan tangannya di belakang leher dan di belakang lutut Hera, mengangkatnya sedikit lalu membaringkannya kembali di atas bantal dan ranjang yang empuk itu, bibirnya mengecup lembut kening Hera dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Hera.
Tok. Tok. Tok.
Alex berjalan ke arah pintu kamar saat mendengar pintu itu di ketuk dari luar.
Cklekkk..
Sstttt.... Alex menempelkan jari telunjuknya di atas bibir ketika melihat bibi Lim akan berbicara.
"Maaf Tuan, tapi tuan belum makan sejak tadi pagi, Tuan hanya minum kopi, bibi sudah menyiapkan makanan , makan dulu Tuan! bibi Lim berbicara namun suaranya sangat pelan seakan-akan dia sedang berbisik kepada Alex.
Alex memang takut suara ketukan pintu itu akan membangunkan Hera, apalagi kalau bibi Lim sampai membuka suara. (Protex banget bang)😁
Alex berjalan menuju meja makan dengan bibi Lim yang mengekor di belakangnya.
Bibi Lim mulai mengambilkan mangkuk dan juga peralatan makan lain untuk Alex, Alex memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja. Setelah selesai dia kembali ke kamar dengan sedikit mengendap ngendap takut suara langkah kakinya akan membuat Hera terbangun.
Alex sudah rapih dengan setelan kemejanya. Rambutnya yang di tarik ke atas membuat Alex benar-benar sangat tampan. Alex tadi masuk ke kamar hanya untuk mengambil setelan dan kembali ke luar setelah semua yang dia butuhkan sudah ia dapatkan. Alex tidak berani mandi di kamar mandi miliknya , lagi-lagi karna takut Hera terbangun.
Sebenarnya Alex tidak terbiasa menggunakan kamar mandi yang sering orang lain gunakan. Namun demi Hera, apapun terasa mudah baginya, walaupun dia harus melakukan hal-hal yang sebetulnya bukan kebiasaannya, setelah bertemu dengan Hera semuanya berubah begitu saja.
Suara bel terdengar. Bibi Lim berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Tuan Wohyun," ucap bibi Lim mempersilahkan Wohyun dan juga Sara untuk masuk.
Sara membungkukkan badannya sambil tersenyum ramah kepada bibi Lim.
"Bi Alex di mana?" tanya Wohyun.
__ADS_1
Belum sempat bibi Lim menjawab , Alex sudah keluar dari dalam kamar dengan setelan jas yang sudah sangat rapi.
"Bi tolong jaga Nona Hera sebentar! dan itu adalah Sara teman Nona Hera," tunjuk Alex pada Sara yang berdiri di samping Wohyun.
"Baik Tuan," ujar bibi Lim.
"Ayo Wohyun," ajak Alex setelah melirik pintu kamar yang sedang di tempati Hera saat ini.
"Bi jangan lupa siapkan nona Hera bubur dan ingatkan dia untuk meminum obatnya ketika Nona Hera bangun nanti!" ucap Alex berbalik sebelum keluar dari pintu apartemennya.
Alex keluar dengan Wohyun yang mengekor di belakangnya. Sedangkan Sara mulai celingukan melihat seisi apartemen mewah Alex yang membuatnya terperangah. Bagai mana tidak, apartemen pribadi milik Alex ini terletak di bagian paling atas gedung ini, bahkan ketika kita melihat ke luar dari dinding kaca yang ada di sana, kita bisa melihat hiruk pikuk kota yang sangat ramai.
"Nona Sara, Nona mau di buatkan minum apa?" bibi Lim bertanya pada Sara yang sedang memandang ke luar dinding kaca di ruangan itu.
"Apa aja Bi," jawab Sara kemudian berjalan ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di sana.
"Kak Ara sudah lama tidurnya bi?" tanya Sara ketika bibi Lim menaruh orange jus di atas meja.
"Ah kak Hera maksudnya," ucap Sara cengengesan.
"Sepertinya belum lama Nona," jawab bibi Lim.
"Hmmm Baiklah," ucap Sara. Lalu meneguk orange jus yang ada di gelasnya.
"Makasih ya Bi!" Sara merasa malu karena lupa mengucapkan terimakasih sejak tadi.
Bibi Lim mengangguk.
Hari semakin Sore. Hera sudah bangun, demamnya sudah turun sekarang. Hera sudah membaik, Bibi Lim menjaganya dengan sangat baik, dan sara yang memang pembawaannya heboh dan ceria sesekali membuat Hera tersenyum dengan celotehan celotehannya yang sedikit nyeleneh.
Hera sudah mandi, tampilannya kini sudah lebih segar, wajahnya tidak sepucat sebelumnya. Hera hanya memperhatikan Sara yang dari tadi terus berceloteh seperti burung kenari yang sedang ada di arena lomba..
__ADS_1
Drttt...
Ponsel Hera bergetar.
"Apa kabar Hera? sudah lama kita tidak bertemu , apa kamu baik-baik saja?" Isi pesan teks yang Hera baca.
"I'm ok, " balas Hera singkat.
"syukurlah. kapan kau ada waktu? bisakah kita bertemu lagi?" Isi pesan teks yang kembali masuk ke ponsel Hera .
"Aku sedang sibuk minhyuk, Maaf, mungkin lain kali aku akan menemui mu," Balasan yang Hera kirimkan.
Hera menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Pesan demi pesan terus masuk, namun Hera enggan untuk membalasnya.
"Gimana keadaan di kantor Sara?" tanya Hera kemudian.
"Baik, semuanya terkendali, kak Ara jangan khawatir, ada aku yang akan membuat semuanya aman," Sara memasukan potongan apel yang di siapkan nibi Lim ke mulutnya.
"Baguslah, besok aku akan kembali bekerja, tidak nyaman terus berada di rumah seperti ini," Ucap Hera lalu mengunyah buah apel yang di suap kan Sara untuknya.
"Kak Hera, kak Hera di rumah aja dulu, kak Hera masih sakit, kak Hera gak usah khawatir masalah pekerjaan di kantor, semua orang di tim kita adalah orang-orang yang sudah ahli dan andal di bidangnya. Kak Hera tenang aja," ucap Sara membanggakan tim di kantor mereka.
Hera hanya tersenyum melihat Sara yang begitu percaya diri. Hera merasa nyaman berada di sekitar orang-prang yang selalu menemaninya akhir-akhir ini. Kejadian di masa lalu membuatnya takut untuk sekedar bercengkrama dengan orang yang baru di kenalnya.
Namun entah kenapa saat Hera bertemu dengan Alex, Mama Jessica, Sara ,Wohyun, papa Tae Jon dan juga bibi Lim membuatnya merasa seolah olah mereka sudah saling mengenal di masa lalu.
Perhatian Alex dan juga kebaikan yang Sara berikan kepadanya seakan membuat Hera melupakan apa yang terjadi di masa lalu yang membuatnya waspada terhadap orang -orang di sekelilingnya.
Takut di hianati adalah alasan pertama Hera enggan membuka hati untuk orang lain, namun, untuk orang-orang ini Hera merasa mereka akan baik-baik saja.
To Be Continued...
__ADS_1
Hai readers. Jangan lupa, Like , komen ,vote dan juga Favoritkan novel nya ya.. Thank you.😘