THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Terbongkar


__ADS_3

Ini udah mendekati ending ya..


Happy reading semuanya....


.


.


setelah seminggu menghabiskan waktu di pulau pribadi mereka. Alex dan Hera mulai beraktivitas seperti biasanya.


"Apa kau yakin ini akan berhasil Alex?" tanya Hera pada suaminya. Alex mengangguk mantap. Dia sudah tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Bukan karena dia ingin melindungi Myung Jin, tapi dia takut Myung Jin lah yang akan menyembunyikan dan menutupi kejahatan Annya.


"Permisi," ucap Seorang wanita usia tiga puluhan kepada Alex dan Hera.


"Ah, kau sudah datang, duduklah! titah Alex pada Namra.


"Kau sudah tahu bukan alasan kenapa aku mengajak mu untuk bertemu di sini?" tanya Alex.


"Saya tahu Tuan. Tapi apa yang bisa saya bantu? saya takut Bu Annya akan mengetahui hal ini."


Hera meraih tangan Namra lalu mengusapnya perlahan. "Kau tidak perlu takut. Kita akan melindungi mu. Dan untuk putramu, aku akan melakukan yang terbaik supaya dia bisa sembuh lagi. Annya itu hanya menggeretak mu. Dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya."


"Tapi Nyonya."


"Annya berencana untuk menjadikan mu kambing hitam Namra. Dia akan melimpahkan semua kesalahannya padamu karena selama ini kamulah yang selalu mencairkan dana perusahaan Go Grup."


Namra menggeleng dengan cepat. "Saya tidak ingin ini terjadi Pak. Saya tidak mau meninggalkan anak saya. Saya tahu saya salah, tapi saya terpaksa melakukan perintah Bu Annya."


"Kau tidak perlu khawatir. Semuanya akan aman jika kau meu bekerja sama dengan kita," ucap Alex meyakinkan.


"Apa aku bisa mempercayai kalian?" tanya Namra ragu.


"Tentu saja, kita juga akan segera menjadi orang tua sepertimu. Kita tahu apa yang kau rasakan ," ucap Hera tersenyum hangat.


Namra mengangguk. "Baiklah, aku akan menyerahkan ini pada kalian," ucap Namra sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Alex.


"Terimakasih Namra," ucap Hera tulus. "Aku janji aku akan membiayai semua pengobatan yang putra mu lakukan."


"Terimakasih Nyonya."

__ADS_1


Siang hari di perusahaan Go Grup.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Myung Jin pada segerombolan orang yang masuk ke dalam kantor Annya sambil membawa beberapa kotak berwarna biru.


"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan perintah. Ini adalah surat perintah penggeledahan nya," ucap salah seorang petugas sambil menunjukan selembar kertas di hadapan Myung Jin.


"Apa maksud kalian?" tanya Myung Jin .asih tidak mengerti.


"Kami mendapat laporan kalau Saudari Annya melakukan penggelapan dana."


"Apa? kalian salah. Ini adalah perusahaan saya. Dan Annya adalah anak saya. Tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu."


"Maaf Pak.. Kami hanya menjalankan perintah. Mohon kerja samanya."


Myung Jin pasrah. Percuma dia melakukan perlawanan. Orang-orang di hadapannya ini memang memiliki surat perintah . Tapi kenapa Annya melakukan ini semua. Dan siapa yang melaporkan ini pada kepolisian.


Annya menjalankan mobilnya dengan sangat kencang. Dia sebenarnya tadi baru akan kembali ke kantornya setelah makan siang. Namun, ketika dia melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangannya. Dia langsung mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi dari perusahaan.


"Sial," marah Annya sambil memukul stir mobilnya. "Siapa yang berani melaporkan ku?" garamnya. Annya mengambil ponselnya lalu berusaha untuk menelpon Namra. Hanya Namra yang tahu semua perbuatannya selama ini. Sekertaris nya itu juga yang selalu mencairkan dana perusahaan. Kalau bukan dia yang melaporkannya. Siapa lagi yang tahu akan hal ini.


"Kau cari mati Namra," geram Annya. Dia membanting ponselnya ke atas jok yang ada di samping kemudi. "Aku akan mencari mu meskipun harus ke ujung dunia, " ucap Annya.


"Halo Nyonya," ucap orang di sebrang telepon.


"Ada apa?" tanya Ye-Seul.


"Annya Nyonya, dia sekarang menjadi buronan. Selama ini Annya sudah menggelapkan uang perusahaan."


"Apa?" tetiak Ye-Seul langsung berdiri dari duduknya.


"Iya Nyonya. Sepertinya Nyonya Hera dan Tuan Alexander yang melaporkan perbuatan Annya."


"Hera!" gumam Ye-Seul. Dia langsung menutup sambungan telponnya dan langsung menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.


"Semoga kau baik-baik saja sayang. Semoga Annya tidak berbuat nekad. Aku yakin, kau dan anak-anak mu akan baik-baik saja."


Tiga puluh menit dia berkendara. Ye-Seul akhirnya tiba di perusahaan Estate Grup. Dia langsung turun dari mobilnya dan berjalan dengan tergesa untuk menemui anak sambungnya itu.


Mata Ye-Seul berbinar saat dia melihat Hera yang baru keluar dari perusahaan..Namun, kelegaan yang dia tunjukan di wajahnya mendadak menghilang begitu matanya melihat sebuah mobil yang Ye-Seul yakini adalah mobil Annya.

__ADS_1


Tidak. Cucuku! teriak Ye-Seul....


"Hera!"......


Brakkkkkk..... Sebuah benturan terjadi dengan sangat keras. Saat itu juga sebuah tubuh melayang ke udara.


Brakkkkkk... Tubuh itu jatuh di depan perusahaan Alexander.


"Akhhhhhh." Beberapa orang memekik saat melihat darah segar mengalir dari kepala orang yang sudah terkapar lemah tidak berdaya.


Flashback on


Annya memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sakit yang dia yakini rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat anak Namra di rawat. Dia yakin Namra juga pasti ada disini.


Annya langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa. Dia harus menanyakan semuanya pada Namra. "Namra!" pekik Annya setelah membuka pintu kamar rawat inap anaknya Namra dengan kasar.


Namra menoleh. Dia mendadak gugup dan sangat ketakutan.


Plakkkkkkk... Annya menampar Namra dengan kekuatan penuh.


Brukkkk.... Namra tersungkur di atas lantai. Dia memegangi pipinya yang terasa sangat panas dan sekarang sudah mulai berdenyut nyeri.


"Apa yang Ibu lakukan? Ibu melakukan kekerasan di hadapan anak kecil. Itu tidak baik Bu."


"Alah... persetan dengan itu semua. Aku tidak perduli. Kau melaporkan perbuatan ku bukan? orang-orang dari kepolisian menggeledah ruanganku. Ini semua perbuatan mu bukan?"


"Saya tidak tahu Bu," ucap Namra sambil menunduk dalam .


"Cih... Kau mau aku bunuh anak mu baru kau akan berbicara?" ancam Annya. Dia menarik bantal yang sedang di gunakan anak Namra lalu memindahkannya di atas wajah anak laki-laki malang itu.


"Tidak Bu, jangan! Saya akan memberi tahu Ibu, jangan lukai anak saya Bu."


Annya tersenyum sinis. "Katakanlah!"


"Tuan Alex dan Nyonya Hera yang meminta saya untuk menyerahkan semua bukti pencairan dana perusahaan. Maaf Bu." Namra terpaksa memberi tahu Annya. Dia harus menyelamatkan anaknya. Dia tidak bisa melihat anaknya mati begitu saja.


"Aku sudah tahu ini akan terjadi. Sekarang semuanya sudah terlanjur. Kau harus pergi ke neraka bersamaku Hera," ucap Annya dengan seringai iblis di wajahnya.


...To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2