THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Gara-gara Makarel


__ADS_3

"Cih, si anak haram masih berani sekolah disini, tidak tahu malu!" hardik Sarang ketika melihat Min Ji masuk kedalam kelas.


"Mungkin urat malunya sudah benar-benar putus. Dia tidak malu meskipun sudah membuatmu masuk rumah sakit Sarang," ucap teman Sarang sambil menatap Min Ji dengan ekspresi mengejek.


Min Ji tidak menghiraukan mereka sama sekali. Dia memasang earphone di telinganya kemudian mulai membuka buku pelajaran dan membaca nya perlahan. Jika saja ini di liar sekolah Min Ji sudah pasti akan menghajar Sarang habis-habisan.


"Dasar anak haram , sok budeg. Aku sumpahin budeg beneran nanti."


Semua orang yang ada di kelas itu menatap Min Ji dengan tatapan tidak sukanya. Mereka sangat membenci orang-orang yang tidak tahu malu seperti Min Ji. Sarang sudah menyebarkan gosip di seluruh sekolah, jadi tak satupun dari mereka yang tidak tahu seluk beluk dan juga masa lalu Min Ji. Teman Min Ji pun perlahan menjauh. Mereka tidak ingin menjadi bulan-bulanan siswa lain karena berteman dengan orang yang di benci seluruh penghuni sekolah.


Lagi dan lagi, anak yang tidak memiliki kesalahan apapun menjadi korban atas keburukan yang telah di lakukan kedua orang tuanya di masa lalu.


Di sisi lain, di rumah baru sepasang suami istri, terlihat seorang wanita sedang berkutat dengan peralatan dapur. Namun anehnya, dapur itu terlihat sangat berantakan. Sayur-mayur dan juga peralatan dapur yang lain tercecer di atas meja begitu saja. sementara beberapa pelayan hanya berdiri memperhatikan wanita cantik yang sedang kesulitan membalik masakan yang ada di atas wajan.


"Nyonya biarkan saya membantu, "ucap salah seorang pelayan kepada Hera.


"Aku sudah bilang aku tidak membutuhkan bantuan mu, aku bisa melakukannya sendiri." Hera masih kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak memperdulikan keadaan dapur yang sudah terlihat seperti kapal pecah, dia bertekad ingin memaksakan sesuatu untuk suaminya. Namun siapa sangka, jika wanita cantik yang katanya hidup mandiri di luar negeri malah tidak bisa memasak hal sepele seperti memanggang ikan makarel.


"Akhh!"


Prang.... Tutup panci yang sedang di pegang Hera jatuh ke lantai ketika wanita itu memekik dan melompat saat makarel yang dia panggang meletup. Sebenarnya dia bukan sedang memanggang tapi malah menggoreng makarel nya.


"Nyonya, seharusnya Anda tidak memakai minyak sebanyak itu," ucap bibi Lim.


Hera ingin menyela namun sebuah tangan kokoh merebut spatula dari tangannya.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya," ucap Hera. Namun, saat Hera berbalik dia di buat terkejut ketika melihat Alex sedang menatapnya dengan tatapan yang horor.


"Kau sedang apa?" tanya Alex kepada Hera setelah mematikan kompor. Dia menatap tajam semua pelayan yang sedang berdiri tak jauh dari tempat istrinya berdiri.


"Maaf Tuan, saya sudah mencoba untuk menghentikan Nyonya. Tapi Nyonya bersikeras dan mengatakan kalau dia ingin membuat sarapan untuk Tuan," ucap bibi Lim sambil menunduk dalam . Begitupun dengan pelayan yang lain. Mereka tidak berani bersuara atau mengangkat kepala mereka. Alex menghela nafasnya kasar. Dia sudah pernah memperingati semua pelayan termasuk bibi Lim untuk tidak membiarkan istrinya mendekati dapur.


Setelah tinggal cukup lama dengan Hera, Alex semakin tahu semua tentang istrinya. Bahkan Alex tahu kalau selama ini Hera sama sekali tidak bisa memasak. Alex pernah bertanya perihal Hera yang pernah membantu Jessica saat Jessica memasak di rumah keluarga Kim. Dan apa yang dikatakan Hera? dia mengatakan kalau saat itu dia hanya membantu, seperti mengambil sutil, mencuci sayur, menyiapkan piring dan mematikan kompor. Alex di buat terperangah dengan penuturan Hera saat itu. Di tambah lagi Hera mengatakan kalau selama dia tinggal di luar negeri dia selalu membeli makanan dari luar. Atau dia akan memakan makanan instan. Alasannya karena dia sibuk menggambar dan tidak ada waktu untuk memasak. Sungguh luar biasa bukan.


Setttt... Alex menggendong Hera dan membawa istrinya ke lantai atas.


"Apa kau terluka?" tanya Alex setelah mendudukkan Hera di tepian ranjang. Alex ikut duduk kemudian menarik tangan istrinya dan menelisiknya cukup lama. "Syukurlah kau baik-baik saja."


"Kau jahat Alex," ucap Hera dengan wajah yang di tekuk. Alex mendongakkan wajahnya lalu menatap Hera penuh tanya.


"Aku jahat! tapi kenapa?" batin Alex bersuara.


"Alex!" rengek Hera pada suaminya. "Kau itu membuatku malu. Aku hanya ingin memasak bukan ingin pergi berperang. Kenapa kau harus bersikap seperti ini. Mereka pasti akan menertawakan ku karena aku tidak becus mengurus suami," Hera berucap sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Siapa yang akan berani menertawakan mu sayang? dan kenapa kau mengatakan kalau kau tidak mengurusku dengan baik hanya karena kau tidak bisa memasak? dengarkan aku! aku menikahi mu karena aku mencintai dan menyayangi mu. Aku ingin merawat dan juga membahagiakan mu. Aku tidak menikahi mu untuk menjadikanmu babu, kau itu seorang ratu di rumah ini. Kau juga satu-satunya ratu dalam hatiku. Jika kau tidak bisa memasak, itu bukan masalah. Kalau perlu kita akan mempekerjakan seorang koki di rumah ini. Kau cukup berdandan yang cantik dan juga terus ada di sisi ku. Itu sudah cukup bagiku Hera. Dan," Alex mendekatkan bibirnya ke telinga Hera. "Tugas utamamu adalah melayaniku di atas ranjang Baby."


Hera mendorong bahu suaminya cukup keras. Pipinya sudah memerah padam bak buah tomat matang. "Haha, kenapa? kau malu hmm?" tanya Alex ketika melihat Hera menunduk sambil memegangi kedua pipinya.


"Kau benar-benar pandai membual Alex," tuduh Hera seraya berdiri lalu berlari ke kamar mandi.


Brakkkk... Pintu kamar mandi di banting dengan kencang oleh ibu ratu. Alex menatap pintu itu sambil terkekeh.

__ADS_1


Tok Tok Tok.


Cklek...


"Tuan, dapur sudah kami bereskan. Tuan mau di buatkan sarapan apa? Nyonya tidak marah bukan?"


Alex tersenyum. "Apa saja Bi, dan jangan khawatir, Nyonya kalian itu memang sedikit kekanakan," bisik Alex.


Bibi Lim tertawa mendengar penuturan majikannya. "Kalau begitu saya permisi Tuan!" pamit bibi Lim.


"Bi!"


"Maafkan saya. Saya tadi sedikit khawatir kepada Hera."


"Tidak apa Tuan, kami mengerti. Ini juga kesalahan kami yang tidak berusaha lebih keras untuk membujuk Nyonya. Dan lagi Nyonya sangat antusias tadi pagi. Kami tidak tega Tuan. Maafkan kami," ucap bibi Lim.


Bibi Lim pergi meninggalkan Alex di kamarnya. Sementara Alex berjalan kembali ke dalam kamar dan menatap pintu kamar mandi cukup lama.


"Aku tahu kau sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik Hera. Terimakasih."


...To Be Continued....


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you 🤗🤗🤗...


__ADS_1


Tinggal manggang doang harusnya gampang ya Neng...


__ADS_2