
Drtttt, Drtttt, ponsel Hera yang berada di atas nakas bergetar.
Hera mengambil ponsel itu, lalu melihat layar ponsel yang menyala pertanda ada panggilan masuk.
"Alex!.... Gumam Hera Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo!"
"Halo Hera, kamu dimana?" teriak Alex di sebrang telepon.
Hera sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ada apa Tuan? saya sedang berada di luar," ucap Hera malas.
"Aku tau kau sedang di luar Go Hera, tapi di mana? Aku barusan mampir ke apartemenmu, tapi kau tidak ada di sana," Alex mengoceh agak kesal karna gadis yang sangat di rindukannya ternyata tidak ada di apartemennya.
"Dih, Cerewet banget," batin Hera "Aku sedang di rumah pamanku."
"Paman yang mana Hera?, siapa?, di mana? kasih tau aku alamat rumahnya!"
"Astaga Tuan, aku ini bukan putri anda jika anda ingin tau, di manapun saya berada itu bukan urusan anda seharusnya," Hera benar-benar gak habis pikir dengan kelakuan tuannya ini. Bisa-bisanya dia mencecar Hera dengan pertanyaan-pertanyaan konyol.
"Hera aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja."
Hera memutar bola matanya jengah.
"Aku baik-baik saja Tuan Kim," ucap Hera penuh penekanan , karena dia sudah sangat jengkel.
Tok.
Tok.
Tok
"Masuk Bi!" Sahut Hera dari dalam.
"Nona, ini kompresannya!" bibi Han memberikan sebuah kain yang di dalamnya terdapat batu es.
"Nona, jika sudah di kompres, oleskan obat anti memarnya ya! apa boleh Bibi bantu?"
"Go Hera, apa yang terjadi, kau terluka? kau kenapa? sudah di periksa ke dokter? parah tidak lukanya?" Alex yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Hera dan bibi Han menjadi sangat khawatir.
Hera kembali menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Astaga baji*** ini," umpat Hera dalam Hati.
"Aku baik-baik saja," teriak Hera sebelum mematikan teleponnya.
Tut....
"Tidak usah Bi, biar Hera saja," ucap Hera mengambil kompresan dari tangan bibi Han.
Di sisi lain malam itu..
"Go Hera astaga!" ucap Alex yang masih ada di dalam mobil di area apartemen Hera. Alex memukul pintu mobil dengan tangannya ketika Hera tidak mengangkat panggilannya untuk yang ke sekian kalinya.
"Awas kau jika besok tidak menjelaskan apapun," geram Alex yang sedang dongkol.
__ADS_1
"Jalan Pak! Kita pulang saja!" ucap Alex kepada sopir di depannya.
"Baik Tuan."
🍓🍓🍓
Hera berjalan Menuruni Anak tangga di rumah ayahnya. Sayup-sayup wanita itu mendengar Hye Mi yang sedang bercerita kepada ayah mereka. Sungguh Hera merasa sesak melihat pemandangan seperti ini. Bayangan dirinya yang dulu sama seperti Hye Mi yang akan mengoceh dan bercerita apapun tentang kesehariannya, kembali berputar di atas kepalanya.
"Ayah, ayah tau, kemarin aku bertemu seorang pangeran yah," ucap Hye Mi dengan wajah berbinarnya.
"Kau ini , mana ada pangeran di kota kita Hye Mi," ucap tuan Go sedikit Heran.
"Ayah tau, kemarin Presdir dari Estate Group datang ke acara seminar di kampus Hye Mi yah."
"Tunggu!" tuan Go yang sedang memegang sendok dan garpu menghentikan gerakan tangannya.
"Maksudmu putra dari Kim Tae jon pemilik dari Estate Group?" tanya tuan Go.
"Aku tidak tau ayah, aku hanya tau kalau Presdir Kim itu sangat tampan, berkarisma juga berwibawa."
"Kau ini emang gak pernah bisa liat laki-laki ganteng dikit Hye Mi," tuduh Yeseul.
"Ibu, ibu harus tau, kali ini berbeda bu, aku benar-benar menyukainya," ucap Hye Mi dengan senyum mengembang di wajahnya bahkan pipinya sudah memerah saat ini.
"Kau benar-benar menyukainya Hye Mi?" tanya tuan Go.
"Sangat ayah, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Sebenarnya Tuan kim adalah kenalan lama Ayah, Ayah bisa saja mengajak keluarga mereka makan malam di sini," ucap tuan Go sambil memandang Hye Mi.
"Ahh, benarkah Ayah? boleh? akhh aku senang sekali. Ayah memang yang terbaik," ucap Hye Mi berdiri dari duduknya dan memeluk tuan Go.
"Kamu mau ke mana Hera?" tanya tuan Go.
"Kerja."
"sarapan dulu Nak!" Yeseul menawarkan.
"Gak usah sok manis."
"Go Heraaa," teriak tuan Go Hendak marah, namun, Yeseul memegang tangan tuan Go dan menggelengkan kepalanya.
"Bicara dengan baik!" titah tuan Go.
"Aku sibuk," ucap Hera Hendak pergi dari sana.
"Kak Hera tunggu!" teriak Min Ji menghentikan langkah kaki Hera.
"Kak Hera , ini aku Min Ji kak, sekarang aku sudah besar, sudah 7 tahun kita gak ketemu, kakak lupa sama aku? tanya Min Ji kepada Hera .
"Mana mungkin Aku lupa dengan kalian, bukankah kalian adalah Parasit yang menempel pada ayahku?" Sarkas Hera , memberikan senyum yang meremehkan.
"Go Heraa!" kamu benar-benar keterlaluan," teriak tuan Go.
"Sudahlah, aku sudah telat, silahkan makan sarapan kalian! selamat menikmati," Hera tersenyum meremehkan ke arah tuan Go.
"Aku kira kak Hera sudah berubah," ucap Min Ji sedih.
__ADS_1
"Iya, padahal aku sangat senang kak Hera kembali ke rumah ini," lanjut Hye Mi.
"Sudahlah, Habiskan makanan kalian!, mungkin Kakak kalian masih butuh waktu supaya dia bisa menerima kita di sini," ucap Yeseul, berusaha untuk menghibur kedua anknya.
Hye Mi dan Min Ji sama-sama mengangguk. Mereka tahu kalau sikap Hera memang sudah seperti itu dari dulu. Jadi mereka sudah terbiasa.
"Terimakasih sayang," ucap tuan Go menarik tangan Yeseul ke genggaman tangannya.
Yeseul, wanita itu hanya tersenyum.
🍓🍓🍓
Srettt... Alex menggeser pintu kaca di ruang kerja Hera.
"Kau kenapa Hera?" tanya Alex yang sudah menyandarkan pantatnya di meja Hera dan menatap Hera tajam.
Hera Hanya diam, dia memfokuskan matanya ke layar laptop. Bosnya ini benar-benar membuatnya jengkel.
Sretttt.. Alex menutup paksa laptop yang sedang di gunakan Hera. Hera mau tidak mau mengalihkan pandangannya dan mendongakkan wajahnya kepada Alex.
"Ada apa Tuan Kim?" tanya Hera kemudian.
"Kau tidak menjelaskan apapun padaku Hera, bagai mana aku bisa bekerja," ucap Alex, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang harus ku jelaskan, Aku memang tidak kenapa-napa. Dan juga atas dasar apa saya harus menjelaskan sesuatu yang terjadi pada diri saya kepada Anda?" Hera ikut menyilangkan tangannya di depan dada.
"Hei lihat itu, bukankah Presdir Kim sering banget ke sini ya sekarang, ngapain sih ganggu bu Hera, jelas-jelas ada aku di sini yang dengan suka rela menerima perhatian dari pak Alex yang ganteng itu," ucapnya menampilkan cengir kuda.
"Akhh ngimpi kamu," ucap salah satu orang di tim Hera.
"Aku jadi iri," ucap yang lain.
Alex sedikit melihat ke arah bawah kantor Hera yang terhalang dinding kaca. Alex meraih sebuah remote di atas meja Hera, lalu menekan salah satu tombol di remote itu.
"Apa yang Tuan lakukan? mereka nanti bisa salah paham," ucap Hera yang terheran karena Alex menutup dinding kaca ruangannya dengan tirai bambu yang selama ini sudah terpasang disana.
"Kembalikan! aku akan membuka tirainya kembali," ucap Hera berdiri dan berusaha mengambil remote di tangan Alex. Namun dengan sigap Alex menjauhkan tangannya dari jangkauan Hera.
Hera semakin gencar ingin mengambil remote itu, namun Alex malah menaikan tangannya ke atas, membuat Hera sedikit melompat lompat untuk meraih remote itu.
"cih, Tuan kira aku tidak ada akal apa," ucap Hera kemudian naik ke atas Kursi kerjanya. Kursi itu sedikit bergoyang ketika Hera mulai menaikinya. Hera akan mengambil remote itu namun Alex selangkah mundur membuat keseimbangan Hera runtuh. Hera yang tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya limbung, dia kehilangan pijakan di kursi yang di pijak kakinya saat ini.
Alex yang tidak sadar akan hal itu tidak ada persiapan sama sekali ketika tubuh Hera jatuh menimpa tubuhnya yang juga ikut jatuh terjungkal ke belakang.
Brughhhhh....
wah, wah, suara apa itu? apa yang sedang mereka lakukan?" para karyawan di tim Hera semakin riuh.
Hera membuka matanya perlahan ketika merasakan tubuhnya tidak sakit setelah terjatuh cukup keras.
Tatapan mereka bertemu, Alex memandang kagum kecantikan yang ada di depan matanya saat ini, hanya berjarak beberapa senti meterdari wajah Hera, membuatnya sangat leluasa untuk memandang maha karya Tuhan yang luar biasa di hadapannya.
Hera memandang Alex dengan tatapan yang, mungkin kalau orang lain lihat, adalah tatapan kagum juga, semakin lama Hera mengenal Alex semakin dia tahu kelakuan asli tuannya itu, namun baru hari ini Hera melihat wajah Alex dari jarak yang sangat dekat, bahkan tidak ada jarak di antara tubuh mereka, benar-benar situasi yang sangat mendebarkan. Wanita itu tidak sadar kalau saat ini dia sedang menatap Alex dengan tatapan yang membuat laki-laki itu ingin menerkamnya saat ini juga.
Tampan..
To Be Continued...
__ADS_1
Hai para Readers .. jangan lupa Like, Komen, Vote dan juga Hadiah nya ya.. Jangan lupa favoritkan juga ya...
makasihhh semuanya..