
Brakkk... Ye-Seul membuka pintu ruang kepsek dengan tergesa. Langkahnya semakin cepat saat matanya melihat Min Ji yang sedang duduk si sofa dengan wajah yang di tekuk masam.
"Maaf Pak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ye-Seul kepada Kepala Sekolah di tempat Min Ji belajar saat ini.
"Begini Bu, anak anda Min Ji, berkelahi dengan teman sekelasnya sampai temannya masuk rumah sakit."
"Astaga, kenapa itu bisa terjadi? apa yang kamu lakukan Nak?" ucap Ye-Seul pada anak bungsunya. Min Ji hanya diam. Wajahnya masam dan tidak menunjukan penyesalan sama sekali.
"Min Ji menyerang teman sekelasnya Bu, menurut teman-temannya yang lain, mereka terlibat adu mulut dan berakhir dengan Min Ji yang menarik rambut dan membenturkan kepala temannya ke sudut meja," Kepala Sekolah memperlihatkan rekaman CCTV kepada Ye-Seul.
Ye-Seul membekap mulutnya tak percaya. Selama ini Min Ji adalah anak yang manis, dia tidak pernah melakukan kesalahan yang akan membuat orang tuanya malu. Tapi kenapa, kenapa Hari ini dia bersikap kasar seperti ini.
"Maafkan anak saya Pak. Saya akan menghukumnya nanti, dan untuk korban, saya akan menemuinya sekarang," ucap Ye-Seul seraya membungkuk pada Kepala Sekolah. "Sekali lagi maafkan anak saya."
Ye-Seul meraih tangan Min Ji kemudian membawanya keluar dari ruangan kepala sekolah. "kenapa kau melakukan ini Min Ji?" tanya Ye-Seul ketika mereka sudah ada di dalam mobil. Min Ji masih bungkam, dia sama sekali tidak mau mengatakan sepatah katapun pada ibunya.
"Ke Rumah Sakit Wesung Pak!" titah Ye-Seul kepada sopirnya.
"Baik Nyonya."
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah kaki terdengar dari sebuah lantai sakit yang sangat besar di kota Seoul. Suara langkah itu semakin lama semakin mendekat dan semakin terdengar oleh orang-orang yang ada di dalam ruang inap pasien.
"Paman! Sa-rang kenapa?" tanya Hera pada pamannya ketika dia sudah sampai di samping ranjang rumah sakit yang sedang Sarang tempati.
__ADS_1
"Dia berkelahi dengan teman sekelasnya," ucap paman Bae.
"Kenapa bisa? bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?"
"Itu karena....
"Hera!" panggil seseorang dari belakang punggung Hera. Sontak saja Hera membalikan badannya dan pada saat itu, matanya bertemu dengan mata Ye-Seul yang sedang menatapnya dengan tatapan yang mungkin kaget saat ini.
"Bibi," ucap Hera pelan.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ye-Seul kemudian.
"Aku ke sini , karena mau menjenguk Sarang. Dia berkelahi dengan temannya." ucap Hera apa adanya.
Ye-Seul lagi-lagi dibuat ternganga, wanita itu membekap mulutnya untuk yang ke sekian kali. Kenapa begitu kebetulan? kenapa Min Ji harus berkelahi dengan orang yang masih memiliki hubungan dengan anak sambungnya, Hera.
"Bibi ada urusan apa ke sini?" tanya Hera. Dia juga melirik Min Ji yang berdiri di belakang Ye-Seul dan sedang memasang wajah malasnya.
"Ooh, jadi kamu yang sudah menyebabkan anak saya terluka. Kenapa kamu melakukan ini pada anak saya? memangnya anak saya salah apa?" teriak paman Bae pada Min Ji. Dia sangat kesal saat ini. Sarang adalah anak dia satu-satunya. Dan perjuangannya untuk mendapatkan sarang tidak mudah. Karena itu juga dia dan istrinya sangat menyayangi dan selalu memanjakan Sarang, jangankan memukulnya. Menyuruhnya menyiapkan keperluan sekolahnya saja tidak pernah. Sarang bagai seorang princess di keluarga Bae. Tapi dengan lancangnya orang lain membuat Sarang terluka. Jelas saja paman Bae emosi.
"Paman tenanglah!" aku yakin dia memiliki alasan kenapa sampai membuat Sarang terluka seperti ini," Hera mengelus pundak pamannya berusaha untuk membuat paman Bae lebih tenang.
"Dia yang duluan mencari gara-gara, dia mengatakan kalau aku ini anak haram. Dan dia juga mengatakan kalau ibu Ye-Seul adalah seorang pelakor," ucap Min Ji berusaha untuk membela diri.
"Astaga, jadi kamu melakukan ini karena kamu tidak terima dengan apa yang telah di katakan Sarang?. Cihhh, itu memang fakta," ucap bibi Bae yang baru saja masuk ke kamar inap Sarang.
"Aku bukan anak haram, dan ibu bukan seorang pelakor," teriak Min Ji.
Swuurrrrr... Air yang hendak bibi bae lempar ke wajah Min Ji berakhir di wajah Ye-Seul karena wanita itu mencoba untuk melindungi putrinya.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu malu! keluar dari sini!" teriak bibi Bae.
"Maafkan kami," ucap Ye-Seul membungkuk dalam kepada keluarga Bae. Paman Bae maupun istrinya tidak merespon sama sekali. mereka lebih suka memalingkan wajahnya daripada harus melihat wajah kotor Ye-Seul yang sangat mereka benci. Keluarga Bae tahu bagaimana adik mereka In Ha memperlakukan Ye-Seul selama ini. Kebaikan yang di lakukan In Ha sama sekali tidak membuat Ye-Seul memiliki hati nurani. Air susu yang di balas air tuba. Siapa yang akan senang dengan hal itu.
"Bibi, sabar!. Aku akan keluar sebentar, nanti aku akan kembali lagi," ucap Hera pada bibi Bae.
Hera berjalan keluar dari kamar inap Sarang. Langkahnya terhenti ketika dia melihat punggung Ye-Seul dan Min Ji yang sudah menjauh darinya. Tadinya Hera ingin mengatakan sesuatu. Tapi setelah memikirkannya dia mengurungkan niat saat itu juga.
"Aku tidak tahu ini benar atau salah, tapi apapun yang kalian lakukan di masa lalu, pasti akan terus berdampak pada kehidupan kalian di masa depan. Min Ji tidak memiliki kesalahan apapun. Tapi dia harus menanggung semua rasa malu dari perbuatan yang pernah kalian lakukan dulu," Hera menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia sadar, bahwa perlakuan tidak menyenangkan yang di terima Ye-Seul saat ini, adalah buah dari kesalahannya di masa lalu.
Drtttzz.... Drtttzz..
"Halo! ada apa Alex?"
"Kamu di mana? aku mencari mu ke kantormu tapi kamu tidak ada. Kamu keluar?"
"Aku sudah mengirim kan pesan . Kau sedang rapat saat aku ingin meminta ijin untuk pergi, jadi aku hanya ijin lewat chat saja. Kau tidak membacanya?"
"Aku buru-buru mendatangimu saat rapat selesai. Aku khawatir, mangkanya langsung menelpon mu saat tidak melihatmu di kantor dan aku tidak sempat memeriksa pesan lebih dulu. Kau di mana sekarang? sudah makan siang belum? apa Sara menemanimu?"
" Aku sedang di rumah sakit saat ini. Sarang , anaknya paman Bae terluka. Jadi aku menjenguknya sebentar. Sara ikut kok. Dia sedang membeli buah karena tadi aku lupa tidak membeli apapun."
Hera melambaikan tangannya pada Sara yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Wanita itu tersenyum . Begitupun dengan Sara.
"Kirimkan alamatnya padaku sekarang, aku akan ke sana. Dan ya, jangan pergi sebelum aku datang! kita akan makan siang di luar hari ini."
Hera mengiyakan apa yang di katakan suaminya. Dia tentu tahu, kalau suaminya itu memang tidak bisa jauh darinya barang sekejap pun. Sikap Alex yang seperti ini selalu membuat Hera merasa aman dan yakin kalau Alex berbeda dengan ayahnya yang suka bermain perempuan.
To Be Continued.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya reader. Thank You.