
...Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😘🤗...
...Happy reading semuanya.....
"Apa kau gila Namra? aku bilang cairkan uang satu juta dolar, kenapa kau tidak mendengarkan ku?" teriak Annya dengan suara yang lantang. Namra hanya bisa menunduk pasrah saat bos nya itu terus memaki dan memarahinya.
"Bu, uang satu juta dolar itu bukan uang yang sedikit. Kalau Ibu tidak hati-hati, Tuan akan mengetahuinya. Itu uang perusahaan Bu. Perusahaan bisa bangkrut kalau Ibu terus menerus mencairkan uang dalam jumlah yang banyak. Saya yakin, sebentar lagi Tuan juga akan tahu."
Syuhhhh... Brukkkk.... Annya melemparkan sebuah dokumen ke wajah Namra. Dia sama sekali tidak memperdulikan pelipis Namra yang sudah mengeluarkan darah karena terkena ujung dokumen yang memang agak tajam.
"Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan! jangan membuatku marah. Dan ya, berapapun uang yang bisa kau cairkan, maka cairkanlah! aku tidak ingin mendengar kata-kata tidak penting lagi."
"Pergilah!" usir Annya sambil mengibaskan tangannya ke arah Namra. Lagi-lagi Namra hanya bisa diam dan pasrah. Dia bingung harus melakukan apa, yang terpenting sekarang adalah keselamatan putra nya. Untuk hal lain dia akan memikirkan nya nanti.
"Dasar wanita bodoh. Kau pikir aku tidak mengerti apa. Aku tahu semuanya, hanya saja, semakin cepat aku menguras uang kantor, maka semakin cepat pula keluarga ini hancur. Kau pikir aku tidak akan melakukan persiapan hah? aku akan membuatmu menanggung semua kekacauan yang telah aku perbuat."
Alex melepaskan earphone yang ada di telinganya. Kini bukti yang dia miliki sudah semakin banyak. Dia hanya perlu meyakinkan Namra untuk menjadi saksi atas korupsi yang di lakukan Annya di perusahaan Myung Jin.
"Bagaimana Alex?" tanya Hera. Ibu hamil itu memang ingin mendengar percakapan yang di lakukan Annya , tapi Alex melarangnya karena takut Hera mendengar hal-hal yang tidak perlu. Alex tidak ingin Hera terkejut atau terlalu marah.
"Semuanya sudah lengkap Sayang, tunggulah sebentar lagi! sekarang kita masih harus mengumpulkan bukti. Dan kita juga harus menemui Namra diam-diam. Sekertaris Annya itu adalah kunci dari laporan yang akan kita berikan kepada pihak kepolisian. Data tertulis pasti akan kita dapatkan darinya.
Hera hanya mengangguk. "Mama menyuruh kita untuk datang ke rumah Mama nanti malam Alex, katanya ada hal yang harus mereka diskusikan. Oh iya, Mama bilang Angela menyusul Erick ke China, kau tahu?" tanya Hera sambil menatap lekat suaminya.
Alex mengambil sumpit yang ada di tangan Hera, dia mulai memilah lauk dan memasukannya ke dalam mulut istri cantiknya itu. "Aku tahu, Papa yang bilang. Dia itu keras kepala, jadi biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan."
__ADS_1
"Kau juga makan Alex! aku sudah hampir kenyang."
"Aku akan makan setelah kau selesai makan," jawab Alex. Dia mengambil sebuah tisu lalu menyeka noda makanan yang tertinggal di sudut bibir istrinya.
Lagi-lagi Hera hanya menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum sambil terus menerima setiap suapan yang Alex berikan padanya.
Jam tujuh malam di kediaman Tae Jun dan Jessica.
"Hati-hati," ingat Alex saat Hera menginjak undakan tangga yang ada di depan rumah orangtuanya.
"Mama di mana Bi?" tanya Alex pada kepala pelayan yang ada di sana.
"Semua orang ada di ruang tamu Tuan."
Alex mengangguk kemudian menuntun Hera untuk berjalan menuju ruang tamu. Keadaan di ruang tamu sangat hening. Tidak ada yang berani berbicara karena mereka semua merasa sangat canggung.
"Angela!" gumam Hera. Dia mengerutkan keningnya bingung. Baru tadi siang dia membicarakan Angela yang pergi ke China untuk menyusul Erick. Kenapa sekarang dia sudah ada di rumah, bahkan di ruang tamu itu ada Erick juga wanita paruh baya di sampingnya.
"Duduklah Nak!" titah Tae Jun kepada Alex dan Hera. "Ini anak pertama kami. Dia juga adalah partner bisnis Erick. Dan wanita cantik yang ada di sampingnya adalah istri Alex, aset perusahaan kami."
Nyonya Hwang mengangguk. "Bolehkah saya duduk di sebelah menantu Anda?" tanya Nyonya Hwang yang membuat semua orang terbengong. Sejak tadi Nyonya Hwang hanya diam. Sekalinya bicara dia malah meminta izin untuk duduk di sebelah Hera.
Hera tersenyum, dia lantas berdiri lalu duduk di samping Nyonya Hwang, sementara Erick sudah Nyonya Hwang singkirkan ke sofa yang lain.
"Kau sedang hamil ya? aura orang hamil memang sangat berbeda, aku sangat menyukainya." Hera hanya mengangguk. Dia melirik Alex sekilas, namun suaminya tidak menunjukkan sikap protektif nya.
__ADS_1
"Kau boleh menyentuh perutku kalau kau mau," ucap Hera pada Nyonya Hwang.
"Bolehkah?"...
Hera kembali mengangguk. Semua orang malah di buat bingung. Sebenarnya Nyonya Hwang ini orang seperti apa, tadi dia berekspresi sangat menakutkan dan juga menyalurkan suasana tidak nyaman. Tapi sekarang dia malah tersenyum sumringah sambil mengelus perut buncit Hera lembut.
"Ekhemmmmm..." Dehem Tuan Kim. "Sebenarnya ada maksud apa Anda datang ke rumah kami Nyonya?" tanya Tae Jun dengan sangat hati-hati.
Nyonya Hwang yang sedang asyik mengelus perut Hera langsung menoleh ke arah Tae Jun. Dia kembali memasang wajah seriusnya. Angela dan Erick hanya bisa menunduk dan menunggu reaksi semua orang saat wanita paruh baya ini mengeluarkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Aku ingin menikahkan anak laki-laki ku dengan putri Anda Tuan."
Semua orang terdiam untuk sejenak. Maksudnya, Nyonya Hwang sedang melamar Angela untuk Erick? tapi kenapa mendadak. Apa yang sebenarnya terjadi di China sampai Angela harus di antarakan pulang oleh Nyonya Hwang dan Erick. Di tambah lagi, lamaran tiba-tiba ini. Angela bukan anak kucing yang sewaktu-waktu ada yang memintanya Tae Jun bisa memberikan nya begitu saja.
"Apa maksud Anda Nyonya Hwang?"
"Aku rasa perkataan ku sudah sangat jelas, aku ingin mereka menikah besok. Kalau tidak Angela akan menggunakan gaun pernikahan dalam keadaan perut yang sudah membesar."
Lagi-lagi orang-orang yang ada di ruangan itu kembali terdiam, mereka menatap Angela dan Erick bergantian. Sebenarnya apa yang mereka lakukan. Kenapa kata-kata Nyonya Hwang sangat ambigu.
"Apa kau hamil Angela?" geram Tae Jun. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Kalau saja tidak banyak orang di ruangan itu, Tae Jun pasti sudah akan menghukum Angela dan memukulnya sampai Angela menyesal dan merenungkan perbuatan memalukan yang telah dia lakukan.
"Aku akan bertanggungjawab," ucap Erick. Semua orang menoleh ke arahnya. Angela yang merasa semakin tersudut di buat pusing bukan main. Kenapa ini malah semaki rumit dan semakin runyam. Dia belum melakukan hubungan **** dengan Erick. Bagaimana caranya dia bisa hamil.
"Aku tidak ingin menikah," teriak Angela membuat mata semua orang beralih menatapnya.
__ADS_1
...To Be Continued....
...Hayo jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih karena selalu membaca novel ini. Semoga kalian sehat selalu. Salam sayang dari author rengginang.....