
Setelah Hera resmi bertunangan dengan Alex Hera masih bekerja seperti biasnya. Hanya saja kini para karyawan maupun atasannya di perusahaan sangat menghormatinya karena mengetahui status baru Hera sebagai tunangan dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka juga baru tau kalau ternyata Hera adalah anak orang kaya yang nama keluarganya di hormati di kalangan para petinggi.
Hera berjalan melewati para karyawan yang membungkukkan badan ketika melihatnya melewati mereka. "Kak Ara, aku rasa kesenjangan status memang ada. Dulu saat mereka belum tau kalo kak Hera anak dari memilik Group Go mereka merendahkan dan tidak menghormatimu, malah menuduh mu yang tidak-tidak. Apa kak Ara gak sakit hati mendengar cibiran mereka dulu?" Sara yang berjalan di samping Hera merasa jengah melihat sikap para karyawan lain yang berubah 180 derajat.
"Ketika orang tidak menyukaimu mau kamu sebaik apapun, mau kamu se cerdas dan seberguna apapun mereka akan tetap menganggap mu tidak baik, dan akan berpikiran buruk tentangmu. Jadilah dirimu sendiri, tidak harus mengurusi omongan mereka. kau tau istilah tong kosong nyaring bunyinya? itu lah mereka. Jika kamu merasa sakit hati dengan apa yang mereka katakan tentangmu, kamu akan tetap berada di titik yang kamu sendiri tidak sadar bahwa titik itu sangat rendah. lakukan yang terbaik. maslah orang menyukaimu atau tidak itu hak mereka. Dan kau tau kita tidak bisa mengambil kendali atas itu. Mereka menghormati ku saat ini karena melihat status baru ku bukan? lalu apa yang aku lakukan dengan karya dan usaha ku? mereka tidak akan perduli. Jadi tidak usah memikirkan hal yang tidak penting," Hera memasuki ruangannya masih dengan Sara yang mengekor di belakangnya.
"Aku mengerti kak. Kau memang yang terbaik," Sara mengacungkan jempolnya dengan cengiran khas andalannya.
"Sekarang periksa apa ada pekerjaan yang harus kita dahulukan hari ini!" titah Hera kepada Sara.
"Hari ini kita harus pergi ke gudang untuk memeriksa stok kain yang ada di sana, akan lebih baik jika kita memeriksanya sendiri untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan.
'Baiklah. Kita berangkat setelah makan siang! Kau bisa kembali ke meja mu!" Sara pergi meninggalkan Hera yang mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Alex. Apa kau tidak menyuruh Hera libur? Aku dengar seorang calon pengantin itu tidak boleh lelah dan harus banyak beristirahat sebelum acara di hari H. Wohyun bertanya kepada Alex yang sedang menandatangi dokumen yang baru saja di serahkan Wohyun.
Alex menutup dokumen itu dan menatap Wohyun yang ada di depan nya. Huuuppt. Alex menghela napas lalu menyandarkan punggungnya di senderan kursi. "Kau tau sendiri Hera seperti apa Wohyun. Dia tidak akan mendengarkan siapapun yang mencoba untuk mengekangnya. Dia sangat keras kepala," Alex memijat pelipisnya sambil memejamkan mata.
"Aku tau, kau mencintai wanita yang sangat sulit untuk di taklukan. Jadi terima saja akibatnya sekarang!" Wohyun mengambil dokumen yang tadi di tanda tangani Alex.
"Kau pikir kau bisa memilih kepada siapa hatimu akan berlabuh Wohyun. Dan lagi Hera pantas mendapatkan cinta yang tidak pernah aku berikan kepda orang lain," Alex menatap Wohyun dengan tatapan kesalnya.
__ADS_1
Wohyun hanya menampakan cengir kudanya. "Besok akan ada sekertaris baru untukmu,"
"Sebenarnya sudah ada kau di sisiku, kenapa aku masih memerlukan yang lain.
"Kau pikir aku mampu mengurus semua pekerjaan mu tepat waktu jika tidak ada yang membantuku? jangan memaksa orang lain bekerja seperti kuda. Kau tau perusahan mu ini bukan perusahaan kecil. Jadi jangan harap bisa menghemat gaji dan mempekerjakan orang dengan tidak beradab."
"Cih . Ku berbicara seolah olah kau ini manusia Wohyun," Alex kembali menatap layar laptopnya.
Wohyun menggerutu merasa kesal dengan apa yang baru saja di katakan Alex. "Memangnya selama ini dia menganggap ku hewan atau apa?" Wohyun membatin.
"Hai Hera, Apa yang kau lakukan di sini?" Alex menolehkan kepalanya ke arah pintu saat Wohyun menyembut kan nama Hera.
Alex mendengus mengambil pulpen yang ada di sebelahnya dan melemparkannya ke arah Wohyun.
Peletakkkk....
"Ahhh," pekik Hera mengusap pelipis yang terkena pulpen yang di lempar Alex. Wohyun yang tidak tau jika Hera datang secara tiba-tiba menolehkan kepalanya. Wohyun tadi cuma bercanda. Kenapa Hera malah beneran ada di sana. " Matilah kau Alex," batin Wohyun penuh kemenangan.
Alex buru-buru bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri Hera yang sudah melayangkan tatapan membunuh kepada Alex.
"Hera maafkan aku, aku sama sekali tidak sengaja. Aku tadi berniat melempar pulpen itu kepada Wohyun," Alex mengulurkan tangannya dan menyingkap poni tipis Hera untuk melihat ada luka atau tidak. Alex meniup dahi Hera yang sedikit memerah. Sungguh Alex merasa bersalah saat ini.
__ADS_1
Hera menepis tangan Alex yang masih memegang keningnya. "Aku akan pergi ke gudang dan pabrik kain. Setelah selesai aku akan langsung pulang. Jadi jangan mencariku," Hera berbalik Hendak pergi meninggalkan Alex dan Wohyun. Namun Alex menahan pergelangan tangan Hera. "Aku akan menemanimu pergi ke sana!" ucap Alex .
"Tidak perlu. Ada sara yang akan pergi bersama ku. Kau urus saja pekerjaan mu!" Hera ingin pergi namun lagi-lagi Alex menahannya dan sekarang Alex malah memeluk Hera dari belakang membuat Wohyun yang melihat itu gelagapan. Mau keluar jalannya terhalang Alex dan Hera ,tidak keluar juga dia tersiksa melihat adegan yang membuatnya mati kutu .
"Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja. kau aman dan aku pun tenang Hera," Alex membenamkan kepalanya di bahu Hera, tangannya memeluk erat pinggang ramping calon istrinya itu.
"Aku bukan anak kecil Alex. Aku bisa menjaga diriku sendiri," Hera melepas paksa tangan Alex lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Alex menolehkan kepalanya ke arah Wohyun. sungguh saat ini dia benar -benar ingin membuat Wohyun mati di tangannya. Wohyun yang melihat aura membunuh di wajah Alex menggeser kakinya perlahan. Wajahnya tersenyum namun sudah pasti itu senyum yang di paksakan.
Wohyun berlari sekuat tenaga saat dirinya berhasil melewati Alex di dekat pintu.
"Astaga. Aku pikir aku akan mati hari ini," Wohyun mengelus dadanya merasakan degup jantung yang sudah berdetak tak karuan.
"Kau selamat kali ini Wohyun. Jika ada lain kali kau menyeret ku dalam situasi seperti ini, aku akan mengirim mu ke afrika," Alex kesal saat ini. Dia bingung, bagai mana caranya supaya Hera berhenti marah karna ulahnya yang tidak sengaja itu.
"Aku bisa gila," ucap Alex mengacak rambutnya frustasi.
To Be Continued ..
Hai readers. Jangan lupa Like dan komen nya ya. Gomawo... 😙😙
__ADS_1