
Sesuai dengan prediksi Hera dan Alex. Malam ini turun hujan yang sangat lebat. Akhirnya acara barbeque yang sedang mereka lakukan di depan vila kini beralih ke dalam. Yang tadinya mereka memakai alat barbeque yang besar, kini mereka hanya menggunakan pembakaran kecil dan beberapa kompor portabel.
Gelak tawa jelas terdengar di dalam vila tersebut. Suara gemuruh hujan dan petir yang sedang berlangsung di luar teredam dengan sempurna oleh suara tawa dan obrolan para karyawan.
"Makanlah ini," ucap Wohyun pada Sara. Ruangan itu menjadi sangat riuh karena semua orang menyaksikan kemesraan yang di lakukan Sara dan Wohyun. Mereka memang satu perusahaan tapi kebersamaan seperti ini jarang mereka dapatkan.
"Berhentilah menatap mereka!" cicit Alex kepada Hera. Wanita cantik itu mengalihkan perhatiannya dan mulai menatap sang suami. Sebenarnya Hera merasa kesal karena Alex selalu merasa cemburu tentang apapun. Jangankan menatap orang. Melihat Hera menatap pohon atau binatang saja dia akan sangat cemburu dan ujung-ujungnya pasti Alex merajuk.
"Alex Sayang! kurangilah rasa cemburu-mu itu. Kau akan tersiksa sendiri jika terus melakukannya. Aku sudah men cap namamu di hatiku jadi tidak usah terlalu khawatir," bisik Hera di telinga sang suami.
Alex menempelkan kedua tangannya di telinga Hera saat melihat kilatan petir dari jendela kaca vila yang sedang mereka tempati.
Duarrrrrr.... Suara petir itu membuat semua orang terperanjat. Hera menatap suaminya sambil tersenyum. Lagi-lagi Alex melakukan hal seperti ini depan banyak orang. Tapi kali ini Hera tidak marah atau kesal. Dia tahu, suaminya hanya ingin melindunginya dari suara petir itu. Setelah Hera sembuh dari gangguan psikologis yang di deritanya, dia mulai tahu apa yang dia takuti dan apa yang benar-benar dia sukai.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah bos mereka. Sungguh pemandangan ini membuat semua karyawan wanita di buat meleleh. Mereka merasa iri karena kebanyakan dari mereka yang ikut adalah jomblo. Sekalipun ada yang memiliki kekasih, mereka tidak seromantis bos mereka.
"Apa aku sedang menonton siaran drama secara langsung?" ucap seseorang dengan mata yang berbinar.
"Aku patah hati melihat calon imam-ku ternyata sudah berlabuh di tempat yang seharusnya," ujar yang lain.
"Ekhemm..." Wohyun berdehem. Alex langsung melepaskan tangannya dan menatap Wohyun sengit.
"Sungguh mengganggu," gumam Alex dalam hati.
Wohyun yang tahu akan arti tatapan bosnya langsung menunduk sambil membolak-balikan daging di atas pan.
__ADS_1
Satu jam kemudian. Acara makan malam mereka sudah selesai. Banyak di antara para karyawan menyarankan untuk bermain truth or dare. Mereka tidak mungkin langsung tidur setelah makan bukan. Mereka harus menunggu supaya makanan yang mereka makan sampai di lambung dengan sempurna.
"Tiga... Dua .... Satu...." ucap semua orang ketika botol soju di atas meja akan mulai di putar. Dan setelah botolnya di putar...... Botol itu berhenti tepat di depan seorang karyawan laki-laki.
"Truth or dare," tanya Wohyun pada orang tersebut.
"Truth," jawabnya yakin.
"Baiklah.. Jadi pertanyaannya. Apa kau memiliki seseorang yang kau sukai di antara semua karyawan wanita yang ikut karya wisata kita kali ini?" tanya Wohyun sambil memincingkan matanya dengan senyum evil yang menghiasi wajah tampannya.
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia mengangguk kemudian menunjuk salah satu karyawan wanita yang duduk di depannya.
Tepuk tangan dan suara sorakan kian terdengar. Ada beberapa orang yang membulatkan matanya, dan ada juga yang memekik kegirangan.
Dua jam kemudian... Suara gelak tawa terdengar dari dalam mobil karapan.
"Kau sangat bahagia hmmm?" tanya Alex. Dia hanya tersenyum sambil memperhatikan istrinya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Aha.. Ahaaa... Ahahahahaha.... Hera ingin berbicara namun, dia malah kembali tertawa. Bahkan kali ini dia memukul lengan Alex saking tidak kuatnya dia menahan tawa. Hera juga ingin berhenti. Tapi dia tidak bisa.
"Kau menyakitiku Sayang," ucap Alex dengan wajah cemberut nya. Hera yang melihat itu sontak saja langsung berhenti tertawa namun masih ada sisa-sisa kekehan di tenggorokannya.
"Maaf Alex. Tapi kau tidak lihat tadi bagaimana ekspresi Wohyun saat mendapat sebuah tamparan dari Sara?" tanya Hera.
"Ya itu salah nya sendiri. Wohyun malah memilih dare dan kau memanfaatkan itu untuk menyudutkannya," ujar Alex. Dia mengambil gelas wine lalu menegak isinya sampai habis.
__ADS_1
"Lha.. Mereka sendiri yang salah. Aku tahu mereka sudah saling menyukai. Tapi mereka masih sok jual mahal. Ya bukan salah ku dong kalau aku memberikan tantangan kepada Wohyun untuk mencium Sara di depan semua orang," ucap Hera. Dia mengambil gelas wine dari tangan Alex lalu menenggaknya sampai habis. "Jangan minum terlalu banyak," cegahnya.
Alex hanya tersenyum."Kau tau sayang, yang kau lakukan itu telah membuat Sara malu," ucap Alex. Dia menarik pinggang istrinya lalu memeluknya dan memainkan jari tangannya di belakang pengait bra yang Hera pakai.
"Aku tidak tahu kalau dia akan bereaksi seperti itu Alex." Hera mulai merasa tidak nyaman. Sentuhan-sentuhan yang di lakukan Alex membuatnya sulit untuk mengontrol hasratnya. Apalagi mereka sudah menghabiskan dua botol wine bersama. Tubuh mereka semakin panas dan sengatan-sengatan listrik mulai mereka rasakan.
"Alex!" gumam Hera dengan suara khas nya. Alex semakin bersemangat untuk memberikan sentuhan-sentuhan sen sual di tubuh sang istri. Perlahan, dia memangku Hera dan menurunkannya di atas ranjang. Suara air hujan di luar van membuat suasana di kamar minimalis tersebut semakin hangat dan semakin romantis. Lengguhan dan des ahan yang keluar dari bibir mereka seakan menjadi irama musik yang sangat menghanyutkan untuk siapa saja yang mendengarnya.
Beruntunglah van yang mereka tempati sangat besar. Jadi, van itu tidak bergoyang ketika mendapat getaran-getaran cinta dari dua sejoli yang sedang memadu kasih di bawah hujan lebat.
****
Matahari pagi mulai muncul. Suara burung berkicau kian terdengar membuat dua orang yang sedang bergelut di dalam selimut bergerak tidak nyaman. Hera memutar tubuhnya membelakangi sang suami , sementara Alex langsung melingkarkan tangannya di perut ramping Hera sambil menciumi pundak istrinya dengan sangat gemas.
"Alex!"
"Hmmmmm."
"Bangunlah! adikmu sudah bangun. Kenapa kau masih betah memelukku. Pagi ini kita ada jadwal untuk mengambil sayur bukan?"
Alex tersenyum. Yang di katakan Hera memang benar. Tapi Alex juga tidak tahu kenapa adiknya selalu bangun sebelum dia. "Biarkan aku memelukmu lima menit lagi sayang. Setelah ini akan banyak pengganggu yang tidak akan membiarkan ku leluasa untuk menyentuhmu."
Hera hanya menghela nafasnya. Dia tahu kalau suaminya itu hanya sedang membuat alasan.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader jangan lupa like dan komentarnya Ya... Thank You....