
Alex, Hera, Angel dan Wohyun sudah berada di depan Mal saat ini. Mereka sudah menyelesaikan semua masalahnya dan ternyata memang benar bahwa bukan Hera ataupun Angel yang memulai pertengkaran antara ketiga wanita itu dan orang-orang yang disayangi Alex.
"Wohyun antarkan Angela! dan kau Angela aku akan mengadukan semua ini kepada Erick."
Alex yang sejak tadi melingkarkan tangannya di pinggang Hera menuntun istrinya itu untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Kak, jangan adukan ini pada Erick, aku sudah berjanji padanya. Aku mohon, aku mengaku aku salah karena aku tidak ijin padamu, tapi kak, aku sungguh tidak menyangka ini semua akan terjadi." Angel meraih tangan kakaknya dan menatapnya dengan tatapan memelas. Dia sungguh tidak ingin Erick mengetahui kalau dia melanggar janji yang telah diucapkannya kepada Erick hari ini. Wanita itu meruntuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa melupakan suatu hal seperti ini.
"Pergilah! Wohyun akan mengantarmu, dan ya, benahi dulu penampilanmu!. Jangan sampai mama tau tentang masalah ini," Alex masih enggan untuk memaafkan adik semata wayangnya ini. Di masa pandemik seperti ini, mereka malah asyik berebut barang diskon sampai terlibat perkelahian. Sungguh perbuatan yang tidak bisa di cerna dengan otak orang dewasa. Mereka benar-benar keterlaluan.
Angela berjalan dengan gontai menuju mobil yang tadi dibawanya bersama Hera. Dia merasa hidupnya akan berakhir saat ini.
"Huh.. Kakak benar-benar menyebalkan Wohyun. Aku salut padamu. Kenapa kau sangat sabar dan masih bertahan sampai sekarang?"
"Itu sudah resiko Nona, di jaman sekarang sangat sulit mendapat pekerjaan. Aku sudah mengenal Alex sejak lama. Kenapa dia bersikap seperti ini sekarang, itu karena dia sangat menyayangi kalian," Wohyun berbicara , namun tetap fokus menyetir.
"Hmmm, aku tahu, Alex memang menyebalkan," ucap Angela masih sedikit emosi.
Sementara di mobil yang lain, Hera masih memasang wajah masam dan enggan untuk berbicara kepada suaminya. Dia tahu dia salah, tapi kenapa dia bisa salah? ya itu karena Alex yang tidak menepati janjinya. Kalau begini, yang salah tetap Alex bukan? lalu kenapa malah dia yang dimarahi?.
"Sayang!, kau marah?" tanya Alex melihat istrinya hanya menatap keluar kaca mobil sejak tadi.
"Sayang! maafkan aku karena tadi aku sedikit membentakmu. Aku hanya takut kau kenapa napa. Kau bilang kau akan menungguku di rumah, tapi kenapa malah keluar bersama Angela?"
Alex menghela nafas panjang saat tak mendapat jawaban apapun dari sang istri. Dia bingung harus melakukan apa supaya Hera berhenti merajuk.
"Sayang, kau mau makan malam di luar atau aku masakin nasi goreng kimchi nanti?" Alex meraih tangan istrinya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih dia gunakan untuk memegang setir. Wanita yang ditanyainya masih enggan untuk membuka suara membuat Alex kelabakan setengah mati. Oke, untuk sekarang Alex mengalah.
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di parkiran apartemen. Hera hendak membuka pintu mobil setelah dia melepaskan sit belt yang dikenakannya. Namun, gerakannya terhenti saat tangannya ditarik secara tiba-tiba oleh Alex.
Cup...
Alex menempelkan bibirnya di bibir sang istri. Dia sudah kehabisan ide untuk membujuk istri cantiknya itu. Diamnya Hera membuat Alex benar-benar tidak nyaman. Dia merasa sangat bersalah dan ingin segera meluruskan semua masalah ini.
Hera menepuk pundak suaminya beberapa kali, dia juga berusaha untuk mendorong dada bidang suaminya. Namun, tenaga Hera kalah telak dengan tenaga Alex. Laki-laki itu malah semakin memperdalam ci um annya, bahkan tangannya sudah berada di tengkuk Hera saat ini. Semakin lama, pukulan yang dilakukan Hera semakin melemah, ci u man yang Alex lakukanpun semakin lembut dan semakin membuai.
Alex tersenyum di sela-sela ci u man nya dengan Hera. Laki-laki itu senang karena istrinya itu sudah mau membalas lu mat an nya bahkan kedua tangan Hera sudah bertengger manis di leher Alex. Sebuah cara baru yang Alex temukan untuk meredam kemarahan sang istri.
"Aku ingin yang extra pedas," ucap Hera setelah Alex melepas pangutannya.
__ADS_1
"Call," ucap Alex. Dia sangat bersemangat sekarang. Mendengar Hera berbicara lagi kepadanya. Membuat dia bahagia dengan hati yang berbunga-bunga.
"Makan pelan-pelan, aku tidak akan merebut makananmu!" Alex berbicara sambil mencomot butiran nasi yang tertinggal di sudut bibir istrinya.
"Aku sangat lapar Alex, tadi aku belum sempat makan siang. Jadi biarkan aku menghabiskan ini semua ya!"
"Makanlah! aku nanti bisa membuat ramyeon kalau lapar," Alex masih setia menatap wajah sang istri sambil menopang dagu dengan tangannya.
"Akhhh kenyangnya," ucap Hera menepuk perutnya beberapa kali.
"Aku akan mencuci peralatan makannya. Kau buatlah dirimu nyaman dulu sebelum tidur," Alex hendak mengambil piring yang ada di hadapan Hera, namun istri cantiknya itu menahan tangannya.
"Aku akan melakukannya, pergilah mandi!, aku tidak ingin tidur dalam keadaan terlalu kenyang. Biarkan aku sedikit bergerak ya!" Hera berbicara dengan senyum manisnya.
"Kau ini, baiklah. Aku mandi dulu," ucap Alex sambil mengacak poni istrinya gemas.
Alex masuk ke kamarnya , sementara Hera mulai beranjak dan mulai mencuci semua piring kotor yang tadi dia gunakan. Setelah selesai, Hera masuk ke kamar dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Greppp...
Hera tersenyum saat merasakan sepasang tangan kekar melingkar indah di perutnya saat ini.
"Aku tidak ingin lama-lama berjauhan darimu," ucap Alex, membuat Hera terkekeh mendengar jawaban konyol yang dia lontarkan.
"Kau benar-benar sudah tidak tertolong Alex."
Hera berbalik dan menyerahkan semua pakaian yang telah di ambilnya dari dalam lemari.
Bukannya mengambilnya, Alex malah melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya begitu saja. Sontak saja Hera yang melihat itu memekik tertahan.
"Kenapa kau melepasnya sekarang?"
"Kenapa? kau takut? atau, menginginkannya?" Alex mendekatkan dirinya pada Hera sampai punggung Hera membentur pintu lemari kerena terus berjalan mundur berusaha untuk menghindari suaminya.
"Alex apa yang kau lakukan?" tanya Hera semakin takut saat Alex malah semakin mendekatinya dan membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.
"Menurutmu, apa yang akan dilakukan suami istri dalam keadaan seperti ini?" Alex menaik turunkan alisnya dengan senyum menyeringai.
Satu jam kemudian, Hera dan Alex sudah selesai dengan kegiatan panas mereka malam ini. Hera memejamkan matanya karena terlalu lelah, dia ingin langsung tidur dan bangun dengan keadaan segar besok pagi.
__ADS_1
Grusukkk... Alex mengerejat saat Hera bangun dari tidurnya secara tiba-tiba.
" Ada apa?" tanya Alex ketika melihat istrinya menyibak selimut yang mereka gunakan.
"Aku datang bulan Alex," ucap Hera melihat bercak darah di atas seprai. Untung saja belum terlalu banyak.
"Aku pikir kenapa, kau mengagetkan ku sayang. Pergilah bersihkan dirimu! aku akan membereskannya."
Hera yang mendengar itu segera membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sementara Alex, laki-laki itu berjalan ke walk in closed dan mengambil pakaian yang berserakan di lantai. Dia tersenyum sambil mengenakan pakaian itu. Setelah selesai, Alex kembali ke ke kamarnya, mengambil tisu basah dan mengelap noda darah yang ada di atas seprai. Setelah dirasanya cukup, Alex menarik seprai itu dan menggantinya dengan yang baru.
"Alex!" teriak Hera dari dalam kamar mandi.
Alex yang sudah tau kenapa Hera memanggilnya, bukannya menjawab panggilan sang istri, malah kembali ke walk in closed yang ada di kamarnya kemudian mengambil CD dan juga pembalut dari dalam laci.
"Sayang!" Alex memanggil istrinya ketika dia sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Hera menyumbulkan kepalanya lalu mengadahkan tangannya meminta barang yang saat ini sedang dia perlukan.
Alex kembali menyelesaikan pekerjaannya setelah menyerahkan CD kepada Hera. Dia mengambil seprai yang teronggok di atas lantai kemudian membawanya keluar dan memasukannya ke dalam mesin cuci. Bukannya kembali ke kamar, Alex malah berkutat di dapur dengan wajah serius yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya.
"Apa yang sedang kau lakukan sayang?" Hera melingkarkan tangannya di perut sang suami.
"Aku sedang membuat jahe kunyit untukmu, bukankah selama ini aku selalu membuatkannya ketika kau datang bulan?" Hera menganggukkan kepalanya.
"Aku menyukainya Alex , ramuan yang kau buat ini sangat mujarab, tapi aku lebih suka kau mengelus perutku. Tanganmu sangat hangat, saking hangatnya, itu bisa mengalahkan kantong penghangat yang biasa ku gunakan sebelum aku menikah denganmu.
Alex membalikan badanya lalu menangkup wajah istri cantiknya itu. "Aku akan melakukannya nanti sayang, kau kembalilah ke kamar! ini akan segera selesai," ucap Alex setelah mengecup bibir istrinya sekilas.
Hera menggelengkan kepalanya saat mendengar titah dari Alex. Alex yang melihat itu di buat gemas dengan tingkah sang istri. Dia tahu, kalau istri cantiknya itu akan sangat sensitif juga sangat manja ketika masa haidnya datang.
Akhhh bikinn melenyottt kalian itu. 🥳
To Be Continued.
Jangan lupa like dan komennya reader.
Ini sedikit cuplikan dari bab baru yang akan rilis nanti sore reader. Jangan lupa mampir.
__ADS_1