
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😘🤗
Happy reading semuanya..
Di sebuah pemakaman cluster mewah, terlihat beberapa orang sedang berdiri di depan sebuah batu nisan. Seorang wanita sedang terduduk sambil memeluk batu nisan itu. Sementara seorang wanita lain sedang tersenyum sinis melihat wanita yang tadi memeluk batu nisan ibunya sambil menagis tersedu-sedu.
"Annya! sudah Nak! kita harus pulang. Sekarang sedang hujan deras, kau bisa sakit kalau terus menerus berada di bawah hujan seperti ini," imbuh seorang laki-laki paruh baya yang memegangi payung untuk menaungi Annya dari derasnya air hujan.
Ye-Seul hanya berdiri mematung di samping Myung Jin. Sementara Hye Mi, dia berdiri bersebrangan dengan Ye-Seul dan juga yang lainnya.
"Ibu!" panggil Hye Mi pada Ye-Seul. Wanita yang tadi di panggil ibu itu menoleh, dia yang sebelumnya menunjukan wajah dingin kini berekspresi seolah-olah dia sedang sedih, wajahnya sendu, bahkan matanya berkaca-kaca.
"Kita harus pergi sekarang Bu! hujan sudah semakin lebat, ini juga sudah hampir malam," ucap Hye Mi. Sebenarnya ini sudah dua hari sejak Ji Eun meninggal dunia, sebelum di kebumikan, jasad Ji Eun memang di bawa dulu ke rumah berkabung tidak banyak yang datang untuk berkabung karena memang Myung Jin tidak membuka identitas Ji Eun yang sebelumnya memiliki hubungan dengannya. Teman-teman Annya juga tidak banyak jadi memang proses itu dilakukan tidak lama.
Ye-Seul menarik tangan Myung Jin. Dia mengisyaratkan untuk membiarkan Annya sendiri dulu. Mungkin Annya memang butuh waktu untuk berdua bersama ibunya. Myung Jin berjongkok, dia memberikan payung nya kepada Annya. Annya tidak merespon, namun dia tetap menerima gagang payung yang Myung Jin letakan di tangannya.
Myung Jin menoleh sekilas kepada anak tersulungnya saat Ye-Seul menarik tangannya untuk segera meninggalkan area pemakaman. Begitupun dengan Hye Mi, dia memegang lengan Han Bin saat mereka hendak kembali menuju mobil mereka.
Syuhhhhh... Brukkkk... Payung yang tadi ada di tangan Annya terbang dan jatuh di atas tanah. Ya, dia malah membiarkan tubuhnya di guyur air hujan. Air mata yang sejak tadi keluar dari pelupuk matanya seakan menghilang bersama tetesan air hujan yang jatuh ke wajah Annya dan mengalir di pipi wanita malang itu.
"Ibu, ini aku Annya Bu. Kenapa Ibu meninggal kan Annya secepat ini? Annya sedang berusaha untuk mendapatkan apa yang harus kita dapatkan. Tapi kenapa Ibu malah pergi, lalu untuk apa aku mengusahakan ini semua kalau Ibu tidak bisa menikmati nya," lirih Annya dengan suara isakan yang tertahan. Tidak ada yang menyahut ucapannya. Siapa yang mau menyahut. Area pemakaman itu sepi. Apalagi sekarang sedang hujan deras. Orang-orang yang berziarah pun tidak ada.
Annya berdiri kemudian memberikan penghormatan terakhir kepada ibunya. Dia mengangkat kedua tangannya lalu menyatukannya dan meletakan punggung tangannya nya di depan kening, setelah itu dia sujud lalu kembali berdiri. Adegan itu terus dia ulang sampai tiga kali. "Selamat tinggal Bu. Aku berjanji, aku akan membuat mereka merasakan penderitaan yang kau rasakan."
__ADS_1
Sementara di dalam mobil, Myung Jin sedang melamun, dia tidak mengucapkan satu patah katapun sejak dia dan Ye-Seul masuk ke dalam mobil. Ye-Seul hanya meliriknya sekilas, sebuah senyuman tipis tercetak jelas di bibirnya. "Akhirnya kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan wanita sialan itu lagi Myung Jin."
Flashback on
Ye-Seul melihat Min Ji dengan tatapan nanar. Dia memukul dadanya beberapa kali saat sia merasakan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya. Bagaimana tidak, Min Ji di perlakukan seperti orang gila, dia di kurung di ruangan khusus seorang diri. Baju yang di kenakan putrinya pun baju khusus yang bisa menahan kedua tangan Min Ji supaya dia tidak bisa melakukan apapun yang bisa membahayakan dirinya.
"Ibu akan membuat perhitungan untuk orang-orang itu Sayang. Kau jangan khawatir." Ye-Seul mengusap air matanya kasar. Dia berjalan meninggalkan kamar Min Ji dengan mata yang berkilat marah.
Ye-Seul mengambil sebuah ponsel dari dalam tasnya. Dia menekan no seseorang lalu melakukan panggilan.
"Halo Nyonya!" ucap orang di sebrang telepon.
"Siapkan semuanya sekarang juga. Aku akan ke sana. Pastikan kalau dia akan mati dengan cara perlahan supaya tidak ada yang mengetahui penyebab kematiannya yang sesungguhnya."
Tut.. Panggilan telepon berakhir.
Ye-Seul memasuki mobilnya dengan tergesa. Dia langsung melesat membelah jalanan kota Seoul yang sangat ramai kala itu. Wanita ini mengeluarkan aura mencekam dari dalam dirinya. Dia melirik ponselnya saat mendengar sebuah panggilan masuk.
"Iya Sayang," ucap Ye-Seul pada orang di sebrang telepon.
"Bagaimana keadaan Min Ji Bu? apa dia baik-baik saja?" tanya Hye Mi.
"Hmm, dia baik-baik saja Hye Mi kau tidak usah khawatir," bohong Ye-Seul. "Kamu kuliahlah betul-betul jangan sampai kamu tidak fokus karena terus berhubungan dengan Han Bin."
__ADS_1
"Iya Bu. Ibu tidak usah khawatir Hye Mi tidak akan mengecewakan Ibu. Hye Mi masih ada kelas Bu, Hye Mi tutup dulu telponnya ya."
"Hmm. Hati-hati, dan semangat belajarnya."
"Iya Bu."
Ye-Seul melempar ponselnya ke jok samping kemudi. Dia memacu mobilnya lebih cepat lagi. Dan, tiga puluh menit kemudian, dia sudah sampai di depan rumah sakit tempat Ji Eun di rawat. Ye-Seul melangkahkan kakinya tergesa. Setelah keluar dari dalam lift, dia langsung masuk ke kamar rawat Ji Eun.
"Nyonya," ucap seorang perawat sambil membungkuk kepada Ye-Seul saat wanita paruh baya itu masuk ke dalam.
"Mana obatnya," minta Ye-Seul sambil menyodorkan tangannya di depan seorang perawat tadi. Dia mengambil sebuah suntikan . Matanya seketika berbinar. Dia berjalan mendekati hospital bad Ji Eun dengan perlahan.
"Selamat tinggal wanita sialan! pergilah ke neraka. Dan aku akan sangat senang jika kau mau membawa anak setan mu itu," bisik Ye-Seul di telinga Ji Eun..
Jrebbb... Ye-Seul menyuntikan sesuatu di tabung infus Ji Eun. Tidak ada pergerakan apapun dari wanita yang terbaring lemah itu. Obatnya memang bekerja perlahan. Dengan kata lain, obat itu memang membunuh Ji Eun perlahan-lahan.
"Dia baru akan mati saat cairan infusnya habis," ucap perawat yang bekerja sama dengan Ye-Seul.
Seringai licik muncul di wajah Ye-Seul. Dia tersenyum bahagia. Andai ada yang bisa mendengar suara batin, orang itu pasti akan mendengar gelak tawa Ye-Seul di dalam hatinya. Seseorang seperti Ye-Seul bisa sangat tega melakukan hal sebiadab ini ketika emosi dan amarah menguasai otak dan hatinya. Dia tidak pernah memikirkan konsekuensi apa yang akan terjadi di masa depan karena ulah yang dia lakukan saat ini.
Seburuk apapun kamu di masa lalu, perbuatan mu masih bisa di maafkan jika kau berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik. Tapi jika kau tidak ingin berubah dan malah semakin menjadi-jadi, maka tunggulah kehancuran yang akan datang menghampiri mu. Hidup itu adalah sebuah pilihan, apa yang akan kau tuai di masa mendatang, itu tergatung pada apa yang kau tanam sekarang.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hayo jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih karena selalu membaca novel ini. Semoga kalian sehat selalu. Salam sayang dari author rengginang.....