
"kau sudah tau kalau selama ini ibu menyimpan rasa sakit di tubuhnya dengan bangganya kau menambah rasa sakit di hati ibu. Tapi, sampai akhir hayatnyapun ibu tetap mengatakan kalau dia mencintaimu... Mencintaimu Myung Jin."
"Laki-laki brengsek yang sampai kapanpun tidak akan pernah pantas mendapatkan cinta dari ibuku," Hera berteriak di hadapan Myung Jin dengan air mata yang tidak tau sejak kapan sudah meluncur bebas dari pelupuk matanya.
Myung Jin tidak bisa lagi menjawab umpatan Hera sekarang, dia benar-benar syok mengetahui fakta yang baru saja di berikan oleh anaknya itu. Myung Jin selalu menutup rapat rahasia perselingkuhannya dengan Ye-Seul, tapi bagai mana bisa Bae In Ha mengetahuinya.
Hera yang melihat myung Jin diam tanpa suara menyunggingkan senyum sinisnya.
"Cihhh, Hera berdecih... Kau pikir jika kau menyembunyikan bangkai, ibu tidak akan bisa mencium bau bangkai itu, benar-benar menjijikan,"
Hera yang saat itu tengah kalut keluar dari ruang kerja Myung Jin setelah membanting pintu dengan keras, Myung Jin hanya menatap nanar pintu itu.
"Maafkan ayah Hera," gumam Myung Jin yang jelas-jelas tidak bisa di dengar oleh Hera.
Hera berjalan gontai ke kamarnya. dia melupakan panas yang menjalar di pipi kanannya saat ini. Hera benar-benar sangat marah, hatinya hancur, batinnya terluka. Kebaikan ibunya di pertanyakan oleh Myung Jin sendiri? sampai kapanpun, Hera tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang telah menyakiti ibu kandungnya.
Hera menyambar ponsel dan kunci mobil yang ada di atas meja di samping tempat tidur. Hera harus pergi dari rumah ini untuk sekarang, Hera tidak mau menjadi gila karena tekanan yang di berikan keluarga berantakan ini.
Wanita itu memacu mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi walaupun di luar sedang hujan deras saat ini. Air mata yang mengalir di pipinya tidak mau berhenti sampai sekarang, membuat pandangan Hera sedikit kabur. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Hera mengarahkan mobilnya menuju sebuah pohon besar di tepian jalan yang lumayan sepi.
Hera makin gencar menginjak pedal gas, mobil melaju semakin cepat sampai pada akhirnya.
Ckiiiitttt.. Hera menginjak rem tepat sebelum mobil yang di kendarainya menabrak pohon.
Dia menjatuhkan kepalanya di atas stir. Wanita itu menangis, dia benar-benar terluka, hatinya sakit, dia merindukan ibunya.Hera benar-benar ingin bertemu ibunya. Baru saja pikiran jahat melintas di benak Hera, mungkin jika dia mati, dia akan bertemu kembali dengan In Ha. Namun tiba-tiba bayangan Alex muncul di kepalanya, membuat Hera menghentikan aksi gilanya itu.
"Alex," gumam Hera dalam hati.
Hera mengambil ponselnya dan meletakan ponsel itu di telinga.
"Alex... Hikssss... Alex... Aku, aku ..." Alex yang sedang berada di sebuah club bersama Wohyun terkejut. Bagai mana tidak, dia mendengar Hera menangis terisak di balik ponselnya.
Wohyun yang melihat itupun menoleh ke arah Alex dan terus memperhatikan gerak gerik bosnya itu.
"Kau di mana Hera?" tanya Alex .
"Katakan kau ada di mana!" teriak Alex yang tidak mendengar jawaban apapun dari Hera.
__ADS_1
"Wohyun, Kau menaruh GPS kan di mobilnya Hera?" tanya Alex kepada Wohyun.
Wohyun mengangguk... "Ikut aku sekarang, dan kau, coba lihat keberadaan mobilnya Hera ada di mana!" titah Alex kepada Wohyun kemudian berlari keluar dari club itu.
Alex dan Wohyun kini sudah berada di dalam mobil... Terlihat Alex yang sangat gelisah dan tidak tenang di samping Wohyun.
Shittt umpat Alex yang mencoba menghubungi Hera kembali setelah Hera menutup panggilan telepon, bahkan saat ini Hera tidak mengangkat panggilan dari Alex.
Hera menjatuhkan ponsel ke atas jok di sisi kanannya.
"Apa yang aku lakukan?" gumamnya menatap ponsel itu.
Hera membuka pintu mobil. Dia berjalan tak tentu arah. Hera butuh pengalihan sekarang, dia membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya. Entah apa yang Hera pikirkan, Hera terus berjalan menjauh dari mobilnya saat ini. Hera tidak memperdulikan pakaian yang sudah basah di guyur hujan. Setidaknya, di balik hujan ini tidak akan ada yang tau kalau Hera sedang menangis.
Hera limbung, Heels yang di gunakannya menginjak sebuah kerikil yang entah darimana asalnya.
Brukkk.. Hera terjatuh dengan lutut yang menjadi tumpuannya. Perih, yang Hera rasakan saat ini, kedua lututnya berdarah.
Hera duduk kemudian melepas sepatu yang dia kenakan . Heels nya patah. Hera melepas kedua sepatu itu kemudian kembali berjalan entah mau kemana.
Alex yang sudah sampai di depan mobil Hera segera turun dari mobilnya.
Namun nihil. Hera tidak ada di sana, hanya ponsel Hera yang tergeletak di mobil itu. Alex mengambil ponsel Hera kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya .
"Bagaimana ?" tanya Wohyun.
"Dia tidak ada , Jalan aja pelan-pelan, semoga dia masih ada tidak jauh dari sini," ucap Alex.
Wohyun kembali menjalankan mobil itu, sesekali dia celingukan mencari keberadaan Hera .
"Wohyun Stooopp!" pekik Alex yang melihat seorang perempuan berjalan di tengah hujan, Alex yakin itu Hera karena dia melihat pakaian yang di kenakan wanita itu sama persis dengan apa yang di kenakan Hera tadi malam, meskipun bajunya sudah basah dan tidak berbentuk, Alex tau itu Hera.
Hera berhenti ketika merasakan ada sebuah payung yang menaunginya.
"Alex!" gumam Hera ketika berbalik dan melihat Alex di hadapannya.
Alex memeluk Hera dengan erat, sangat erat hingga Hera merasa sesak.
__ADS_1
"Syukurlah kau tidak apa-apa" ucap Alex yang sudah sedikit menjauhkan dirinya dari Hera.
Hera terlihat sangat pucat sekarang, bibir ranum Hera tidak lagi merah saat ini, tubuh Hera menggigil dan jari jemarinya sudah keriput karna kedinginan.bAlex juga melihat kedua lutut Hera terluka, bahkan Hera tidak menggunakan alas kaki .
"Aku salah, kau tidak baik-baik saja Hera," ucap Alex menjatuhkan payung yang sedang dia pegang , kemudian Alex menggendong Hera membawa Hera masuk ke dalam mobil. Alex mendudukkan Hera di kursi belakang di sampingnya.
"Ke rumah sakit Wohyun!" titah Alex tanpa mengalihkan perhatiannya dari Hera, Alex memeluk tubuh rapuh Hera yang seakan-akan bisa ambruk kapan saja.
"Tidak, aku tidak mau ke rumah sakit!" tolak Hera enggan.
"Tapi kau terluka Hera!" ucap Alex yang memang agak panik saat ini.
"Alex aku bilang aku tidak mau ke rumah sakit," Hera mendongakkan wajahnya menatap Alex untuk memohon..
"Ke apartemen ku saja!" titah Alex.
"Baiklah!" ucap Wohyun memacu kendaraannya.
Setelah sampai di dalam apartemen pribadi Alex , Alex berbalik menatap Wohyun yang tadi mengekor di belakang Alex dan Hera.
"Wohyun, carikan baju dan juga dalaman untuk Hera!" Alex berbicara masih dengan Hera di gendongannya.
"Sekarang!" pekik Alex yang melihat Wohyun malah melongo.
"Ah baik," ucap Wohyun keluar dari sana.
Alex membawa Hera ke kamarnya. Kamar yang sangat luas dengan nuansa hitam dan abu-abu yang sangat dominan.
Alex menurunkan Hera di kamar mandi. mendudukkannya di atas meja wastafel yang ada disana.
"Tunggu sebentar!" ucap Alex yang ingin mengisi bath up dengan air Hangat. Setelah itu dia berjalan kembali mendekati Hera.
"Hera memandang Alex dengan tatapan yang sendu, Alex yang melihat Hera dengan keadaan seperti ini merasa sangat terluka, hatinya sakit entah kenapa.
"Hera, kau harus baik-baik saja?" 7cap Alex mengelus pipi Hera kemudian mengusap kepala Hera menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
To Be Continued...
__ADS_1
Hai Readers.. jangan lupa like komen, vote sama hadiah nya ya.. favoritkan juga novelnya.. Terima kasih...