
Hera terus bergerak gelisah di samping Alex yang sedang fokus menyetir. Wanita itu menghela nafasnya beberapa kali saat mencoba menghubungi adik iparnya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Angela tidak mengangkat panggilannya.
"Ada apa sayang? kenapa kau sangat gelisah, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Alex. Laki-laki itu bingung, kenapa istrinya sangat heboh, bahkan dia tidak memperdulikan Alex yang sudah dari tadi bertanya kepadanya.
"Alex aku akan mengatakannya nanti, untuk sekarang kau fokus saja menyetir," Hera masih berusaha untuk menghubungi Angela. "Kau kenapa tidak menjawab panggilanku Angela," umpat Hera membuat Alex menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Katakanlah apa yang kau ketahui? kenapa kau sangat khawatir? aku tidak akan mengantarmu ke hotel itu kalau kau masih enggan memberitahu ku semuanya." Alex menatap lekat Hera , membuat orang yang di tatap menghela nafas panjang.
" Aku bukan tidak ingin memberitahumu Alex, tetapi aku khawatir kau akan lebih cemas dari ku jika aku mengatakan semuanya sekarang. Sebenarnya Andrew Garfield adalah seseorang yang aku kenal ketika aku masih kuliah di New York. Aku mengenalnya karena salah satu temanku mempertemukan kami. Namun aku benar-benar tidak menyangka jika dia ternyata adalah seorang psycho. Dia menjerat mangsa dengan dalih menawarkan pekerjaan yang saat ini sedang dilakukannya kepada Angel. Kita harus cepat ke sana Alex. Aku takut laki-laki itu belum berubah, aku takut dia akan menyakiti Angel. Aku tidak ingin apa yang pernah aku alami dialami juga oleh Angela. Saat itu aku selamat karena aku berusaha melawan dan memukulnya dengan.... Aku tidak tahu aku memukulnya dengan apa, hanya saja saat itu dia terluka dan aku langsung melarikan diri. Sejak saat itu juga aku tidak pernah ingin bertemu dengan siapapun, aku tidak mempercayai siapapun dan aku memutuskan untuk tidak berteman dengan siapapun." Hera menghela nafas panjang. Dia tidak punya banyak waktu. Tapi dia harus menjelaskan semua ini pada Alex.
"Seharusnya kau mengatakannya dari tadi Hera," ucap Alex . Dia langsung menginjak pedal gas setelah mendengar semua cerita Hera.
"Maaf," ucap Hera lirih. Dia hanya tidak ingin Alex khawatir dan berbuat ceroboh jika mengetahui semuanya.
Alex Alex mendengar permintaan maaf dari Hera namun saat ini dia tidak bisa menjawab Aku tidak bisa merespon apapun yang harus diutamakan adalah Angel. Tidak boleh ada yang menyentuh adik kesayangannya. kalau sampai itu terjadi Alex tidak akan mengampuni siapapun yang memiliki niat jahat kepada Angel.
Kitttt.... Mobil Alex berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah bintang 5. Dia dan Hera berlari ke meja resepsionis yang ada di lobby hotel itu.
"Maaf, kamar atas nama Andrew Garfield no berapa? kami ada urusan mendesak," ucap Hera pada salah satu resepsionis yang ada di sana.
"Maaf, kalau boleh saya tahu anda siapanya tuan Andrew? kita tidak bisa memberikan informasi pelanggan kepada orang yang tidak bersangkutan."
"kau akan memberitahuku atau tidak!" teriak Alex sambil menggebrak meja resepsionis.
Hera terlonjak kaget, begitupun dengan resepsionis itu. Semua orang yang ada di lobi menatap mereka dengan tatapan yang Heran. Mereka juga saling berbisik satu sama lain.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya, tapi saya hanya menjalankan tugas," ucap resepsionis itu dengan suara yang tertahan, tangannya bergetar karena takut.
"Maaf, ada apa?" tanya seseorang dengan pakaian rapi menghampiri Alex dan Hera.
"Kau, katakan kepada resepsionis bodoh ini, siapa yang dia tentang, apa dia tidak memiliki otak. Apa aku sama sekali tidak memiliki hak apapun di hotel ini?" Alex bersungut marah. Hera yang ada di sampingnya memeluk lengan Alex dan berusaha untuk menenangkan sang suami. "Alex, tenanglah! aku harap apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi. Bicaralah baik-baik. Kau menakuti semua orang."
"Maaf, Tuan, Nyonya, dia adalah resepsionis baru di sini, dia mungkin belum tahu siapa Anda. Aku akan menegur dan juga mendisiplinkan nya," ucap laki-laki yang berpakaian rapi sambil menunduk dalam. Resepsionis itu semakin takut, keringat besar mulai bercucuran dari pelipisnya.
"Maafkan saya Tuan, saya akan memberitahukan dimana kamar Tuan Andrew kepada Anda. Tuan Andrew ada di lantai 30 no kamarnya xxxx ," ucap resepsionis itu.
"Berikan kunci cadangannya!" titah Alex dengan suara yang dingin. Resepsionis itu menyerahkan key card kepada Alex.
Alex dan Hera berjalan dengan tergesa memasuki sebuah lift. Setelah sampai di lantai 30 mereka berdua menelusuri lorong yang ada di lantai tersebut, mereka terus menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat setiap deretan angka yang terdapat di pintu. Dan....... Mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar ketika melihat nomor yang ada di pintu tersebut adalah nomor yang disebutkan oleh resepsionis kepadanya. Hera meraih tangan Alex lalu menatap laki-laki itu dalam.
"Ya, Tuhan, semoga Angela baik-baik saja," ucap Hera dalam hati.
Alex menempelkan kunci yang dia pegang di handel pintu kamar.
Klik. Pintu kamar terbuka. Alex langsung masuk ke dalam kamar itu tanpa menunggu apapun. Dia melangkah dengan tergesa. Otot rahangnya sudah mengetat dan kedua tangannya terkepal dengan erat di setiap sisi tubuhnya.
Hera, wanita itu bernafas lega saat melihat Angel baik-baik saja. Dia juga bisa melihat Angel tersenyum ke arahnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Angel sambil beranjak dari duduknya.
Alex mendekati adiknya lalu menelisik setiap bagian dari tubuh Angel. Dia harus memeriksanya sendiri. Dia tidak boleh melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Kakak kau kenapa? aku baik-baik saja, dan kenapa kalian bisa masuk ke sini?" Angel mengerutkan keningnya bingung. Dia melirik Hera dan Angel bergantian. Sementara laki-laki yang sedang duduk di sofa hanya memperhatikan drama yang sedang terjadi di depan matanya.
"Ikut kakak pulang sekarang!" ucap Alex meraih tangan Angel lalu menariknya untuk segera keluar.
Angel menepis tangan kakaknya. Dia masih belum mendapat jawaban apapun. Dan Alex malah langsung menyeretnya. Pekerjaannya dengan Andrew bagaimana.
"Kakak apa-apaan sih. Main tarik aja. Aku gak mau pulang, aku masih harus mendiskusikan pekerjaanku dengan Tuan Andrew," ucap Angel bersungut marah.
"Batalkan saja!" ucap Alex dingin.
Hera menghela nafas panjang saat melihat perdebatan antara adik dan suaminya itu. Dia menghampiri Angel lalu membisikan sesuatu padanya. "Andrew Garfield adalah seorang psycho," bisik Hera membuat Angel membelalakkan matanya tak percaya. "kita pang dulu, nanti kita bahas lagi semuanya setelah di rumah." Angel mengangguk ketika mendengar titah dari kakak iparnya.
Alex mendengus kesal, sementara Hera berjalan mendekati manager Angel dan juga Andrew Garfield.
"Jangan pernah mengusik keluargaku Andrew!" ucap Hera sebelum melangkah pergi hendak meninggalkan kamar itu.
Setttt.. Andrew menarik lengan Hera . Laki-laki itu tersenyum kemudian berbisik di telinganya. "Akhirnya aku berhasil memancing mu keluar Go Hera. Kita akan sering bertemu mulai sekarang," Hera menolehkan kepalanya membuat matanya beradu pandang dengan mata Andrew.
"Bajingan!" ucap Hera. Dia menepis tangan Andrew lalu keluar dari kamar hotel itu yang di ikuti oleh manager Angela.
" Wellcome my princess. I always think of you. It's my turn, jangan pernah mencoba untuk lari lagi," ucap Andrew dengan seringai licik di wajahnya.
To Be Continued.
Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you... 😉🤗
__ADS_1