
Angel memasuki perusahaan Estate dengan langkah yang anggun bak seorang model profesional. Matanya berbinar ketika melihat sosok Hera yang sedang berjalan di lorong yang menuju ruang kerja Alex. Angel berjalan lebih cepat supaya bisa menyusul calon kakak iparnya.
"Hera!" panggil Angel yang sudah ada di belakang Hera . Hera menolehkan kepalanya dan nampak lah seorang wanita cantik yang sedang tersenyum ramah menampakan deretan gigi putihnya. Hera ikut tersenyum. "Angel, Kau sedang apa di sini?"
"Aku ada urusan sama kak Alex, ngomong-ngomong kok masih kerja aja sih. kenapa gak ngambil cuti. Calon manten kan harusnya banyak istirahat biar nanti wajahnya fresh pas acara," Angel memulai obrolan . Seperti biasa Angel adalah orang yang super cerewet dan humbel dia akan sangat cepat akrab dengan orang yang memang di sukainya.
"Aku bosan kalau harus tinggal di apartemen sendirian. Mending kerja supaya bisa menyibukkan diri dan tidak terlalu stres memikirkan hal-hal yang tidak perlu."
"Aku mengerti. kapan-kapan kita harus jalan bareng. Aku punya cara yang lumayan seru buat ngilangin kegabutan. Angel merangkul pundak Hera saking semangatnya dia menemukan teman baru buat di ajak main gila. Hera menganggukkan kepalanya dan mereka masih melanjutkan langkah mereka menuju ruangan Alex.
Hera mengerutkan keningnya ketika melihat seorang wanita yang duduk di meja tempat sekertaris Alex sebelumnya. Hera bisa melihat jika wanita itu cukup lumayan cantik. Tapi yang jelas tidak secantik dirinya maupun Angel.
"kalian siapa?" tanya Annya menahan tangan Hera ketika Hera ingin membuka pintu ruangan Alex. "Kalian tidak bisa masuk sekarang. Dan juga di larang masuk jika kalian tidak memiliki janji dengan Tuan Alexander."
Angel mengerutkan keningnya heran. "Ini orang apa gak tau siapa kita? dia gak punya tv atau gak pernah baca majalah fashion sih," batin Angel menggerutu. "Kamu tidak tau siapa kita?" tanya angel menunjuk dadanya.
Hera ingin membuka pintu itu kembali namun lagi-lagi Annya mencekal pergelangan tangan Hera. Hera meringis merasakan kuku-kuku Annya yang menancap di permukaan kulitnya. "Lepaskan tangan mu!" ucap Hera penuh penekanan. Namun entah di sengaja atau tidak Annya malah semakin menancapkan kukunya seakan dia sengaja ingin melukai Hera. Angel yang melihat tangan Hera mulai mengeluarkan darah dengan segera menarik paksa tangan Annya.
Plakkkkk. Sebuah tamparan mendarat di pipi Annya. "Kau gila hah? untuk apa kau melukai tangan Hera. Hera itu tunangannya Alex dan aku adik kandungnya. Apa hak mu melarang kita untuk menemui Alex. Perbuatan mu ini tidak bisa di benarkan. Aku akan melaporkannya pada kakak dan dia akan segera memcat mu," Angel yang sudah tersulut emosi tidak bisa menahan amarahnya lagi.
__ADS_1
Hera memegang luka yang ada di pergelangan tangan nya. Ingin sekali dia mencecar wanita di hadapan Angel dengan semua sumpah serapah yang dimilikinya. Namun Hera mencoba untuk berpikir positif dan tidak ingin memperbesar masalah ini. "Sudahlah Angel mungkin dia tidak sengaja," Hera berusaha untuk menenangkan Angel yang terus meneriaki dan memaki Annya.
"Ada apa ini?" Alex yang mendengar keributan dari dalam keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Alex membulatkan matanya ketika melihat ada darah di pergelangan tangan Hera. "Astaga. Ini kenapa?" Alex melepas satu tangan Hera yang menutupi lukanya.
Annya menundukkan kepalanya merasa takut dan juga merasa sangat bersalah. Namun siapa sangka jika itu hanya akting belaka. Annya yang sebenarnya sudah tau siapa dua wanita yang ada di hadapannya lebih memilih pura-pura tidak tau supaya dia bisa melancarkan aksinya. "Maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja," Annya membungkukkan badannya semakin dalam.
"Cih. Tidak sengaja? kau bilang tidak sengaja. Heii, buka mata mu baik-baik. Kau melukai orang sampai seperti itu masih bilang tidak sengaja. Ya tuhan. Seorang monyet aja gak mungkin langsung nyakar orang gitu aja."
Alex menatap Annya dengan tangan yang masih memegangi pergelangan tangan Hera. "Annya aku akan menanyakannya secara langsung pada mu nanti. Angel ikut kakak masuk dan tolong carikan kotak p3k di laci paling bawah di meja kerja kakak," Alex meraih pinggang Hera dan menuntunnya untuk masuk segera.
Annya menarik kedua sudut bibirnya ke atas ketika melihat Alex Hera dan Angel sudah masuk ke dalam. "Ini baru permulaan Hera. Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum kita masuk ke permainan inti," Annya menyeringai menatap pintu ruangan Alex yang sudah tertutup.
Angel berdiri dan Hendak membuka kembali mulutnya, namun Angel membeku ketika matanya beradu pandang dengan mata seorang laki-laki yang Angel yakin jika laki-laki itu adalah orang yang pernah menolongnya di KTV saat itu. Angel mengerejapkan mataya saat Alex memanggil namanya.
"Mangkanya punya mulut di jaga!" bisik Alex di telinga Angel saat adiknya itu menyerahkan kotak p3k. Angel gelalapan. Dia duduk di depan laki-laki yang pernah menolongnya . Angel bisa melihat wajah tampan bak seorang pangeran milik sang pahlawan di hidup Angel. "Apa karena lampu di KTV malam itu remang-remang jadi dia tidak terlihat setampan hari ini?" Angel berbicara dalam hati.
"Maaf Tuan Erick. Ada sedikit keributan yang tidak bisa di prediksi. Saya harap anda bisa memakluminya," Alex merasa tidak enak karena Erick harus melihat kejadian seperti ini di kantornya. Tapi yang lebih membuat Alex tidak nyaman adalah tangan Hera yang saat ini sedang terluka. "Bukan masalah. Aku masih ada banyak waktu. Lebih baik kau selesaikan dulu apa yang harus di selesaikan. Kita bisa atur pertemuan lagi di lain waktu," Erick berdiri dari duduknya begitupun sekertaris pribadinya .
"Saya permisi dulu," ucap Erick kepada Alex. Alex berdiri dan menganggukkan kepalanya. "Aku benar-benar minta maaf," ucap Alex tulus.
__ADS_1
"Bukan masalah," jawab Erick tersenyum kepada Alex. Angel yang dari tadi memperhatikan Erick memegangi kedua pipinya dengan senyum yang sangat lebar. Hera melirik Angel yang sedang bertingkah konyol di hadapannya.
"Wohyun Antarkan tuan Erick ke luar!" titah Alex kepada Wohyun. Wohyun mengangguk lalu mempersilahkan Eric untuk jalan lebih dulu.
Alex kembali duduk di sebelah Hera. Melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. "Ahhhh," pekik Hera tertahan saat rasa perih mencuat di permukaan lengannya yang terluka.
"Bersabarlah!" ucap Alex menatap Hera sebentar lalu kembali mengoleskan obat dan membalut pergelangan tangan Hera dengan perban.
"Kak. Aku keluar dulu!" ucap Angela yang entah kenapa sangat terburu-buru.
"Ada apa dengan anak itu?" gumam Alex yang melihat adiknya bertingkah aneh.
"Dia menyukai Erick," ucap Hera cuek.
"What?" pekik Alex menatap Hera tidak percaya. Namun Hera menganggukkan kepalanya meyakinkan Alex bahwa apa yang di katakannya barusan adalah sebuah kebenaran.
To Be Continued.
Hai reader jangan lupa Like sama komen nya ya. Makasih..
__ADS_1