
Di sebuah ruangan sempit, terlihat seorang wanita tengah terduduk memeluk lututnya sendiri. Wajahnya penuh dengan luka lebam dan ada darah kering di sudut bibirnya.
Duk...
Duk...
"Hei kau! bangun! bos menyuruhmu untuk memijatnya sekarang," seorang wanita yang mengenakan baju tahanan menendang kaki Annya beberapa kali.
Srettttt..
"Kau tuli hah?" wanita itu menarik rambut Annya sambil berteriak.
Annya menyeringai, bibirnya tertarik keatas menerima perlakuan sesama tahanan yang satu sel dengannya. Annya bisa saja membalas wanita itu jika satu lawan satu, tapi karena mereka berkelompok, Annya tidak bisa berbuat apapun selain menurut untuk saat ini.
"Kau masih tidak mendengarku?"
Annya melepas cengkraman tangan wanita yang sedang menarik kasar rambut panjangnya. Dia mengangguk kemudian berjalan mendekati seorang bos yang sedang duduk bersila sambil memejamkan kedua bola matanya. Tangan Annya terulur memijat bahu wanita gempal itu, perlahan.
"Aku akan membuatmu membayar semua ini Go Hera."
******
__ADS_1
Minhyuk laki-laki brengsek yang telah membuat banyak dosa dan menyakiti orang yang tidak seharusnya menerima hukuman yang di putuskan hakim untuknya. Sejauh ini dia menerima dan berusaha berkelakuan baik di dalam penjara. Minhyuk mendapat sel khusus karena selain telah berbuat jahat, dia juga harus di rehabilitasi agar bisa menghentikan rasa kecanduannya terhadap obat terlarang.
Laki-laki itu sering mengamuk saat rasa haus, dan rasa dingin yang teramat membuatnya sakit, menerpa tubuhnya. Dia sering berhalusinasi melihat segerombolan semut merayap di atas betisnya yang membuat dia menggaruk betisnya sampai berdarah-darah. Matanya merah dan wajahnya pucat seperti mayat.
"Kau! jangan melakukan hal-hal yang akan membuat dirimu celaka!" seorang sipir memperingatkan Minhyuk sambil mengeratkan ikatan di tangan dan kaki laki-laki itu. Ya, akhir-akhir ini Minhyuk memang lebih sering mengamuk, entah apa dan kenapa proses rehabilitasi yang di jalaninya semakin lama semakin membuat laki-laki itu berkelakuan seperti orang gila.
Orang tua Minhyuk bukan tidak bisa membantunya, hanya saja mereka berpikir ini lebih baik daripada harus membebaskan Minhyuk dan membiarkannya terjerumus lebih dalam.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya pria paruh baya kepada salah satu penjaga lapas yang bertugas untuk memantau keadaan anaknya.
"Aku tidak tau ini berjalan ke arah yang lebih baik atau lebih buruk. Kita tinggu beberapa waktu lagi, kalau masih tidak ada kemajuan, kita harus segera memindahkannya, supaya dia bisa mendapat perawatan yang lebih khusus."
Hikssss.. "Pa, kenapa kau tidak membebaskan Minhyuk saja, dia putramu, kenapa kau membiarkannya tersiksa seperti ini." Pria paruh baya itu memeluk dan berusaha untuk menenangkan istrinya.
Wanita itu masih menangis, dia masih meraung-raung sambil memukul dada suaminya berkali-kali. Seorang ibu mana yang akan tega melihat putranya tersiksa di balik sel tahanan yang dingin dan asing. Hati siapapun pasti akan sakit jika hal seperti ini menimpanya.
******
"Alex! aku akan baik-baik saja di sini. Profesor Caterine akan menjagaku dengan sangat baik. Kau tau bukan, kalau ini adalah kesempatan bagus supaya aku bisa sembuh dari trauma masa laluku? kau harus yakin bahwa semua ini adalah jalan terbaik untuk kita semua."
"Tapi sayang, aku ingin menemanimu disini, aku tidak mau berpisah denganmu, aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak baik selama aku jauh darimu," Alex masih enggan untuk melepaskan pelukannya ditubuh sang istri.
__ADS_1
"Aku akan menjaganya dengan baik Tuan. Kau bisa bertanya pada ibumu jika masih tidak percaya dengan proses pengobatan yang akan aku lakukan pada istrimu. Semua ini adalah jalan terbaik, bukankah kau ingin istrimu menjalani kehidupan normal seperti orang lain? dengar tuan! kasus istrimu ini bukanlah kasus berat, tapi jika terus di biarkan kemungkinan dia akan membunuh dirinya sendiri di masa depan tidak bisa terbantahkan. Trauma yang dimilikinya sedikit berbeda karena dia bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya secara tidak sadar," prof Caterine menjelaskan semuanya dengan sabar, dia tau apa yang sedang di rasakan Alex saat ini, wajar jika seorang suami ingin menemani istrinya menjalani terapi. Namun pengobatan yang dilakukan prof Caterine sedikit berbeda dengan pengobatan yang sering di lakukan oleh dokter Psikologi lain.
Alex berpikir untuk beberapa saat, ingatannya kembali pada saat dirinya tidak sengaja melihat Hera sedang bersembunyi di bawah meja kerjanya saat di kantor. Hari itu hujan petir melanda sebagian besar kota Seoul. Alex terkejut saat melihat rekaman CCTV tidak menampakan sosok istrinya. Dan alangkah lebih terkejutnya dia ketika masuk ke ruangan Hera dan melihat wanita itu sedang bersembunyi dibawah meja, sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Alex tidak tau kalau Hera takut suara petir. Alex pernah melihat istrinya itu berjalan di bawah hujan petir, namun tidak memperlihatkan ketakutannya seperti saat ini. Dan lagi, tikus, Alex tau istrinya itu sangat takut jika melihat tikus berkeliaran di depan matanya. Tapi suatu hari dia juga pernah melihat Hera sedang mencincang seekor tikus dengan pisau dapur yang ada di apartemen kecil milik istrinya.
"Baiklah prof, aku akan membiarkan istriku tinggal bersamamu untuk beberapa waktu. Tolong jaga dia! aku sangat menyayanginya. Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai terjadi hal-hal buruk kepada istriku saat dia bersamamu."
Prof Caterine mengangguk, tentu saja dia tau apa yang harus dilakukannya saat dirinya diberi kepercayaan penuh oleh pasien dan keluarga pasien. Prof Caterine sudah berpengalaman, dia sudah sangat hapal dengan tindakan yang harus diambilnya saat berada dalam kondisi tertentu. Jadi dia sangat yakin bahwa dia akan memulangkan Hera dalam keadaan yang sangat baik.
"Sayang, jaga dirimu baik-baik! kabari aku segera saat kau memerlukan bantuan ku," Alex memeluk istrinya sekali lagi, kemudian mengecup kening Hera cukup lama.
"Prof Caterine tidak akan mengijinkanku untuk berkirim pesan denganmu Alex. Bersabarlah untuk sebulan ini! aku janji aku tidak akan pernah menjauh darimu setelah pengobatan ku dengan prof Catetine selesai," Hera mengusap punggung tangan suaminya sebelum Alex benar-benar pergi meninggalkan dia dan prof Caterine di kediamannya.
Kenapa ini bisa terjadi?. Karena setelah seminggu lebih Alex mengajak Hera berkeliling di Melbourne, Laki-Laki itu memutuskan untuk mempertimbangkan usulan Jessica yang menyuruhnya untuk membawa Hera ke dokter profesional, sahabat sang mama yang sudah ahli di bidangnya. Sejak saat itu juga Alex mengajak Hera untuk pergi ke Amerika dan membuatnya bertemu dengan prof Caterine seperti saat ini. Jika di katakan menyesal, ya , Alex memang sedikit menyesal kalau hanya memikirkan egonya sendiri. Berada jauh dari Hera adalah sebuah penderitaan untuknya. Tapi demi kesembuhan mental istrinya itu, Alex rela jika dia harus tersiksa selama satu bulan ke depan.
"Cepat sembuh Go Hera, aku akan menunggumu pulang."
To Be Continued.
Hai Readers, jangan lupa like dan komennya ya. Thank you.
Jangan lupa mampir ke Karya barunya Author.
__ADS_1