THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Fakta Mengejutkan


__ADS_3

"Astaga.... Hidung mu mengeluarkan darah Hera." Alex mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jas yang dia kenakan. Belum sempat Alex menyeka darah yang keluar dari hidung istrinya, Hera sudah ambruk dan tidak sadarkan diri. Beruntung karena Alex langsung menyangga tubuh Hera, jadi Hera tidak sampai jatuh ke bawah.


"Hera! kau kenapa Sayang?" tanya Alex panik.


"Pak Song!" teriak Alex pada sopirnya. "Kita ke rumah sakit sekarang!"


Pak Song langsung membukakan pintu mobil kemudian berlari mengitari mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobil. Kepanikan terjadi bukan hanya pada Alex dan pak Song. Bibi Lim yang tadi mendengar keributan di depan rumah majikannya langsung ke luar di ikuti semua pelayan yang ada di rumahnya.


Sementara Min Ji, dia hanya mengintip dari balik tirai jendela yang ada di rumah itu. Dia panik dan juga gelisah, Min Ji menggigiti kuku-kukunya saat melihat Hera tidak sadarkan diri. Min Ji sangat takut saat ini. Dia hanya ingin membuat perhitungan dengan Hera. Annya tidak mengatakan kalau reaksi yang di timbulkan Hera akan se parah ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Min Ji sambil bergerak gelisah.


Flashback on


Seminggu sebelum kejadian ini terjadi ..


"Min Ji sayang, jangan munafik. Kau tahu, apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran. Di antara Ibu kita, hanya Ibunya Hera yang di nikahi secara sah oleh Ayah. Itu artinya, anak Ayah yang sah pun hanya Hera. Oleh karena itu, orang-orang selalu meremehkan kita dan menganggap kalau kita itu hanya anak haram dan benalu di keluarga ini. Tapi coba kau bayangkan jika Hera lenyap dari dunia ini, orang-orang akan berhenti memandang rendah kita. Dan lagi, semua kekayaan Ayah hanya akan menjadi milik kita. Kita tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu Ayah hanya akan menjadikan Hera sebagai pewaris nya yang sah." Annya tersenyum menyeringai. Dia menarik kepalanya supaya bisa menjauh dari telinga Min Ji.


Min Ji diam. Dia tidak marah ataupun membantah semua perkataan Lee Annya. Dia ingin membantah tapi apa yang di katakan Annya sangat masuk akal. Kalau saja Hera tidak ada di dunia ini. Mungkin Min Ji tidak harus menderita dan menanggung malu sampai sekarang.


Min Ji melengos meninggalkan Annya yang masih diam di tempatnya sambil tersenyum evil pada Min Ji. Apa yang di katakan Annya sepertinya sukses membuat Min Ji goyah. Annya yakin kalau cepat atau lambat Min Ji akan menyadari semuanya.


Dan benar dugaan Annya. Setelah beberapa hari dia mendoktrin otak Min Ji, ternyata Min Ji mau ikut bergabung dengannya. Sontak saja itu membuat Annya bersorak soraya di dalam hati.


"Kau yakin ingin melakukan ini Min Ji?" tanya Annya menatap lekat adik terbontotnya itu.


Min Ji mengangguk. Annya tentu saja bisa melihat kilatan amarah di mata Min Ji. Tidak sia-sia dia dengan sabar dan tekun mengompori Min Ji supaya hatinya menghangat lalu panas dan akhirnya terbakar.


"Baiklah, kau hanya harus mengikuti perintahku!"

__ADS_1


Annya mulai menjelaskan semua rencananya. Dia juga menjelaskan apa yang harus di lakukan Min Ji supaya Hera bisa merasakan apa yang mereka rasakan.


"Kau tenang saja Min Ji. Dia tidak akan langsung mati. Kita hanya akan menyentil nya sedikit," ucap Annya.


"Apa kau yakin kalau Kak Hera tidak akan mati karena ini?" tanya Min Ji berusaha untuk memastikan.


Annya mengangguk yakin. "Kau tidak perlu takut. Bulu-bulu halus yang terdapat pada buah persik ini hanya akan membuatnya alergi ringan. Aku akan memberikannya padamu jika kau sudah yakin kalau kau bisa melakukan ini semua."


Min Ji hanya mengangguk. Dia mempercayai semua yang di katakan Annya padanya. Jangan salahkan Min Ji kalau dia melakukan ini. Dia hanya tidak mau Hera merasa bahagia dan damai sementara dia harus tersiksa .


Satu jam kemudian, Annya menghentikan mobilnya di depan gerbang yang akan menuju ke kediaman Hera dan Alex, komplek yang Hera tempati adalah komplek elit. Jadi untuk masuk ke dalamnya pun masih sangat jauh jika hanya berjalan kaki. Namun, Annya harus menurunkan Min Ji di sini supaya rencananya bisa berjalan lancar .


"Aku harus melakukan sesuatu dulu sebelum kau pergi ke rumah Hera," ucap Annya . Min Ji hanya menatapnya tanpa bersuara.


Plakkkkk... Satu tamparan mendarat di pipi Min Ji. Min Ji meringis, dia ingin mengeluarkan sumpah serapahnya. Namun, belum sempat dia berbicara, telapak tangan Annya sudah kembali mendarat di pipinya.


"Maafkan aku Min Ji. Ini adalah cara untuk membuat Hera semakin mempercayaimu. Aku tidak ingin dia curiga dan semua rencana kita akan hancur berantakan begitu saja."


Min Ji memegangi pipinya yang terasa sangat nyeri. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena dia sudah menerima tawaran ini sejak awal. Min ji mengulurkan tangannya saat Annya menyodorkan sebuah plastik klip kecil di hadapannya.


"Kau taburkan ini di makanan yang Hera makan. Bulu-bulu buah persik ini sangat halus. Dia tidak akan menyadarinya jika kau melakukannya dengan hati-hati."


Lagi dan lagi Min Ji hanya mengangguk patuh. Dia bertekad untuk melakukan ini semua, dia tidak akan masuk penjara hanya karena membuat Hera alergi bukan?


Annya tersenyum menyeringai saat Min Ji berjalan di tengah hujan lebat malam itu. Dia sama sekali tidak merasa kasihan atau takut Min Ji akan sakit jika terlalu lama berada di bawah derasnya air hujan.


"Cihhhh... Dasar bodoh.. Kau pikir aku akan melakukan hal gila seperti ini kalau efek yang akan di rasakan Hera hanya respon alergi biasa? kau benar-benar tidak tertolong Min Ji. Dalam sekali tepuk, dua nyamuk akan mati saat waktunya tiba."


Flashback of

__ADS_1


Tuttttt.....


Tutttt.....


"Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku," geram Min Ji. Pasalnya dia sudah berusaha untuk menghubungi Annya sejak tadi. Tapi wanita Ular itu tidak mau menjawab panggilannya. Dia harus apa, apa yang harus dia lakukan. Bagaimana kalau Hera mati. Dan bagaimana kalau ini hanya akal-akalan Annya untuk menjebaknya saja. Pikiran-pikiran buruk mulai hadir di kepalanya. Dia sungguh merasa sangat takut saat ini.


Tutttt...


"Halo," ucap Min Ji saat orang yang sejak tadi dia hubungi mengangkat panggilan darinya.


"Kenapa kau berbohong padaku Annya. Kau bilang Kak Hera hanya akan alergi biasa. Tapi kenapa tadi aku melihat Kak Hera mimisan dan langsung pingsan."


"Hahahaha," suara gelak tawa jelas terdengar oleh telinga Min Ji.


Deg.


Apa mungkin yang dia takutkan adalah sebuah kenyataan? ini tidak mungkin bukan? bagaimana bisa Annya dengan teganya menjebak dia untuk melakukan ini semua.


"Kau benar-benar bodoh Min Ji. Tidak mungkin aku melakukan hal-hal gila tanpa memikirkan konsekuensi nya. Sekecil apapun perbuatan yang kau lakukan, Hera pasti akan mengetahuinya. Jadi, daripada kau harus menanggung sesuatu hal yang karena melakukan tindakan sepele, lebih baik kau langsung melakukan hal yang besar. Jadi kalau pun kau masuk penjara, semuanya tidak akan sia-sia karena Hera juga sudah mendapatkan apa yang harus dia dapatkan."


Brukkkkk.... Min Ji ambruk di samping ranjang yang semalam menjadi tempatnya beristirahat. Bayangan dimana Hera yang sudah begitu baik padanya perlahan muncul. Sesal yang dia rasakan saat ini terasa sangatlah besar. Sebenarnya Min Ji ingin mengurungkan niatnya karena melihat kebaikan yang di tunjukan Hera padanya. Tapi karena semalam dia tersulut dengan kata-kata Angel, kewarasannya langsung hilang dan niat jahatnya kembali muncul saat itu juga.


"Arghhhhh," geram Min Ji sambil menarik rambutnya dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku Kak Hera," ucapnya lirih. Namun seberapa besarpun penyesalan Min Ji, apa yang telah terjadi tidak akan bisa di ulang lagi. Hera mungkin saja sedang berjuang untuk hidup dan matinya saat ini. Kesalahan yang dia lakukan sungguh sudah di luar batas. Seorang manusia yang memiliki hati nurani tidak akan mungkin bisa melakukan perbuatan keji seperti ini.


...To Be Continued....


...Hai reader, jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank You....

__ADS_1


__ADS_2