
Rey bingung. Antara dirinya yang sedikit pusing juga entah gegara apa. Alkoholkah, Joy-kah, Xiao Jie-kah. Nalurinya sebagai pria baik selalu berkata "Tolonglah wanita yang dalam kesulitan. Jadilah seorang gentleman.'' Tapi akal budinya sebagai pria baik-baik malah bilang "Ingat wanita ini bukan siapa-siapamu. Ini jebakan. Ini sebuah kesalahan."
Tapi Xiao Jie memang terlihat lemah dan hampir pingsan. Maka Rey maju dan bergegas meraihnya ke dalam pelukannya.
Xiao Jie dalam hati bersorak-sorai. Sekaligus deg-degan tiada tara. Aroma Rey wangi sekali walaupun ia bukan cowok pemandi parfum dan minyak wangi. Dekapannya hangat dan tangannya lembut namun kuat.
Rey menggendong wanita itu ke sofa panjang terdekat.
"Thanks, Pangeran Reinhard."
Duh, aku ingin cepat-cepat, harus segera pergi dari sini, sebelum Setan Kecil penggoda di bahuku muncul lagi..
Rey masih pusing delapan keliling. Terduduk bingung di karpet di dekat Xiao Jie, ia bahkan tak tahu mengapa di matanya malah ada sosok Joy. Istrinya yang walau tomboy tapi tetap gemoy. Tak seperti cewek amoy di hadapannya ini, walau OMG mirip sekali, bikin sesuatu dalam dirinya merasa gelay.
Sementara Xiao Jie merasa gak tahan lagi ingin buru-buru terjadi hil-hil yang mustahal seperti di novel-novel best seller dunia, dimana cowoknya yang mabuk berat akan menghampiri cewek seksi yang pintunya setengah terbuka seakan mengundang masuk. Lalu terlupa akan segalanya, begituan dengan nikmatnya serasa bumi milik berdua dan yang lain ngontrak di bulan.
__ADS_1
Rey mendekat, ingin tahu apakah ini Joy atau Xiao Jie. Kok mirip banget sih, jangan-jangan ini jebakan romantis April Mop, mengingat hari ditulisnya kisah ini memang pas pada 1 April.
Sementara itu di rumah, Joy yang hari itu kebetulan izin pulang kerja cepat gegara kedua nenek Maverick sedang berhalangan momong cucu, sedang sibuk memasak di dapur. Ia tak tahu sama sekali kalau Rey sang suami sedang terjebak di Sarang Naga Betina Everiental.
"Mami.. mau telepon Papi.." si kecil Mav tiba-tiba nongol di dapur sambil menekan-nekan ponsel Joy yang tadi tertinggal di ruang tamu.
"Eh, bocahku, Mav ... Aduh, gawat, jangan main telepon!" Joy buru-buru mendekat.
Tapi Mav telanjur menekan hingga telepon itu beberapa kali memanggil Rey di seberang..
"Pangeran Reinhard, aku mau jujur sedikit.. Aku tahu ini terlalu cepat dan kurang ajar sekali bagi seorang wanita ningrat terpelajar sepertiku. Tapi aku suka pada Yang Mulia."
Ehhh ??? Rey kebingungan.
"Aku, aku, kamu bukan Joy 'kan? Jangan bercanda ah, Joy, gak lucu. Aku lagi gak mau dibeginiin walau hari ini April Mop. Aku sayang kamu, istriku."
__ADS_1
"Iya, aku Joy." Xiao Jie dapat ide dadakan. "Aku memang kerjasama dengan Bee untuk ngerjain kamu, Suamiku."
"Uhh.. nakal." Rey belum yakin betul tapi kok memang cewek ini mirip Joy ya? Mata sipitnya masih nanar.
Cium, cium, cium - Setan Kecil di bahu kirinya bersorak-sorai. Lalu buka, buka, buka..
Aduh, jangan, jangan, jangan.. - Malaikat Imut di bahu kanan tampak cemas.
............................................
Tiba-tiba keheningan terpecah. Nada ponsel Rey yang khas mengalun. Sekali, dua kali.
Ehhhh... Rey seperti tersadar dari magic spell.
Diraihnya ponsel. "Halo.."
__ADS_1
"Papi !!! Cepat pulang ya, Mav mau beli lobot-lobotan!"