
Hari itu Joy lalui dengan Rey di kolam renang sewaan itu hingga menjelang malam, kencan terlama pertama mereka setelah go public, berdua saja dan lama bicara tentang masa depan.
Dan tentu saja, mereka begitu gembira bisa bersama-sama ngobrol dan main air dengan asyiknya seperti sepasang anak-anak kecil. Meskipun tentu saja, baik Joy maupun Rey sama-sama merasakan ada sensasi baru saat melihat diri pasangan masing-masing dalam busana renang itu. Uh, semakin tergoda saja. Semakin sulit untuk menghindar dari suatu perasaan aneh mengusik jiwa raga.
Bagaikan dua kutub magnet yang walau berbeda, ingin segera menempel erat, tak mau terlepas lagi.
Rey berjanji ingin segera mencari pekerjaan apapun itu walau belum lulus kuliah, sementara Joy juga diizinkan Rey untuk melamar pekerjaan sebanyak mungkin. Terus berusaha, pantang menyerah.
Dan tentu saja, mereka berjanji untuk tak lagi saling cuek atau marahan. Sebab, tak ada gunanya bila satu pihak tak mau bicara baik-baik dan yang lain pun tak mau mendengarkan.
Walau mereka belum terlalu lama jadian, Rey dan Joy mulai mengenal kelemahan dan kekurangan mereka masing-masing, dimana hal itu adalah sebuah proses yang takkan pernah selesai. Harus terus dipelajari dan diperbaiki.
__ADS_1
Dan akhirnya, beberapa hari kemudian, Joy menerima telepon panggilan kerja pertamanya yang berhasil dilamar, memintanya untuk mulai masuk kerja minggu depan.
Beberapa kali gagal karena banyaknya saingan dalam tes penerimaan dan interview di banyak kantor lain, kali ini Joy berhasil diterima kerja di sebuah perusahaan iklan kecil, walaupun masih dalam masa 3 bulan percobaan.
Aduh, akhirnya aku kerja juga sebagai desainer junior. Joy sangat gembira sekaligus gugup. Apa aku bisa ya? Pasti akan sangat sulit juga sekarang curi waktu bertemu dengan Rey di sela hari kerja biasa seperti dahulu.
"Selamat ya. Usaha yang baik sekali, Joy." ucap Rey di telepon malam itu. "Astaga, kamu duluan kerja dan aku si Pangeran Katak masih pengangguran."
"Masih belum bekerja. Aku kan masih kuliah. Bisanya cuma foto-foto saja, tukang motret." tiba-tiba Rey terdiam. "Eh, Joy. Aku dapat ide. Aku suka minum kopi, foto makanan. Aku bisa jadikan koleksi foto-foto koleksi gelas dan cangkir kopiku, atau obyek apa saja, untuk dipajang di pameran kecil-kecilan, ala galeri seni. Bagaimana?"
"Hmm, boleh juga. Kau juga fotografer berbakat. Asal bukan fotoku yang di tepi kolam renang waktu itu." Joy kadang malu sendiri mengingat momen di kolam renang.
__ADS_1
"Ha ha ha, itu hanya koleksi pribadiku saja, gak ada cowok yang boleh lihat Joy yang seksi dalam balutan baju renang, nanti cowok-cowok juga mau sama Joy," memang diam-diam Rey posesif berat dan tak suka bila Joy berdekatan dengan lawan jenis.
"Asal," Rey menambahkan, "Bila nanti bosmu cowok, om-om, bapak-bapak, atau ada teman kerjamu yang cowok, Joy jangan terlalu akrab atau dekat ya, terus terang aja, aku pencemburu berat." suara Rey berat, setengah menggoda, setengah mengancam.
"Aduh Rey, aku memang gak banyak punya teman, cewek maupun cowok. Jangan kuatir. Aku yang justru cemburuan karena fansmu di negeri ini mulai banyak." Joy pura-pura merajuk.
"Ingat ya, kerja nanti jangan mau di-pedekate cowok."
Uhh, Rey. Tapi Joy senang juga. Rey perhatian banget sih.Semoga kami bisa segera bekerja, jadi bisa segera miliki penghasilan sendiri.
Ups, kok Joy tiba-tiba teringat pada janji Rey untuk segera menikahinya. Jadi malu sendiri. Apalagi Rey pangeran, apa jadinya nanti bila mereka nekat? Restu ayahanda Rey saja belum berhasil didapat!
__ADS_1