
Hari itu juga, Rey segera kembali ke Evernesia dengan hati lega karena berhasil menemukan ibundanya, namun juga gundah. Benarkah bila ayah akan tetap berusaha melakukan apapun demi memisahkanku dengan Joy? Apalagi Ibu sekarang hadir lagi di antara kami. Tak mungkin kupertaruhkan lagi kebahagiaanku bersama dua wanita yang paling kucintai dan kuhormati ini. Aku harus mencari win-win solution. Agar semua pihak bahagia.
Walaupun Ayahku belum bisa kubahagiakan seutuhnya, karena aku mengulang kesalahan masa lalunya. Memperistri Joy sebetulnya diperbolehkan, tapi harus di luar Evertonia. Jadi aku harus mencari cara dan tempat agar pernikahan itu bisa segera dilaksanakan.
Tapi !!!!!
Astaga, Joy dan mamanya belum tahu apa-apa dan kami juga tak memiliki persiapan apa-apa. Dalam adat dunia Ever, tak cuma sekedar kasih cincin dan say I do segala, ada yang namanya lamaran dan seserahan segala macam pemberian yang sedikit ribet namun penuh makna ritual. Pula di istana Evertonia, hal yang sama bahkan lebih jor-joran, bila perlu ada jumpa pers, liputan siaran pengumuman Royal Engagement disusul Royal Wedding.
Padahal kalau boleh jujur, Rey menyukai sesuatu yang sederhana saja, privat dan serba tertutup saja. Ia yakin Joy juga akan menyukai hal yang sama sebab Joy tak begitu suka sesuatu yang berlebihan.
Hanya saja bagaimana cara menyatakan keinginan untuk melamar itu, dan apakah Joy pasti mau? Joy harus mau. Karena kelanjutan hubungan mereka memang harus diperkuat dengan cara ini.
__ADS_1
Rey ingin sekali memberi kejutan pada Joy, yang pasti sudah cemas menunggu kepulangannya. Ia bermaksud segera ke kantor Joy, karena kebetulan hari itu masih hari kerja dan jam kantor belum berakhir.
Jadi ia segera datang ke kantor Bee Advertising dan segera menjumpai Joy yang seharusnya masih duduk di depan komputer melaksanakan tugas sehari-harinya.
Sementara itu, Joy di kantor belum tahu Rey datang, masih memikirkan mengapa Rey belum memberinya kabar setelah hampir seharian pulang ke Evertonia. Apakah ia baik-baik saja? Mengapa ia tak meneleponku atau chat sedikitpun, berhasilkah ia bertemu dengan ibundanya?
"Joy.."
"Kau sudah pulang? Kau... aduh, aku rindu !!! Kau kembali juga !!! Apakah ibumu sudah ketemu, bagaimana jadinya hubungan kalian, dan apakah ayahmu tidak marah karena kalian akhirnya saling menemukan?"
Joy si pendiam yang bisa tiba-tiba berubah cerewet langsung nemplok di tubuh Rey, menggelayutinya dengan manja dan menciumnya habis-habisan hingga wajah tampan dan baby face sang pangeran imut memerah.
__ADS_1
"i. i, iya.. Joy, aku juga rindu banget. Aku kemari mau, eh, oh, memberi kejutan, Iya, kabar baik, syukurlah, ibuku sudah ketemu, walaupun ayahku belum begitu senang atas apa yang terjadi. Tapi untuk sementara ini ibuku masih ada di istana berusaha membujuk ayah untuk.." Rey terdiam.
"Untuk apa? Ayo katakan kepadaku apa lagi yang kalian rencanakan dan bagaimana kelajutan hubungan kalian, setelah kau tahu tak ada sepupu bernama Lyn dan pustakawati bernama Mei."
Rey senyum-senyum saja. "Bagaimana bila nanti sore kita kencan bersama di suatu tempat, hanya berdua saja, akan kukirimkan beberapa hadiah untuk kau kenakan, dan tunggu sampai aku jemput."
"Ba, ba, baiklah... " hmm, ada apa sih, kencan di hari biasa malam-malam, "Ya, Rey, tapi aku harus izin pulang cepat kepada Mr. Bee dulu."
"Tentu saja sudah kumintakan izin. Kembali ke rumah dulu, mandi hingga bersih dan wangi, lalu tunggu paketku datang. Nanti kau kenakan ya, pasti Joy akan tampil beda."
"O, o, oke." huuuh, Rey mau ngapain sih, tak seperti biasanya. Jadi tambah penasaran!
__ADS_1