
"Jadi, apa yang barus kulakukan, tak mungkin aku menolak bertemu dengannya, akan terasa sangat tak profesional, bukan?" ujar Rey saat membahas ajakan mencurigakan dari Elsa itu bersama Joy.
"Iya, selain itu, bagaimanapun ia seorang putri raja, kau harus sangat berhati-hati memperlakukannya. Kalau aku menjauh darinya sih tak masalah, toh aku bukan siapa-siapa. Tapi bila kau menyakiti hatinya, bisa berpengaruh pada hubungan diplomatis antara Eversnow dan Evertonia lho." Joy sedikit banyak berpikir cukup jauh juga, sehingga Rey tak bertindak gegabah.
"Baiklah, begini saja."
.....
Pada sore harinya, seperti yang sudah dijanjikan, Rey menepati janji untuk kencan privat dengan Elsa Sang Putri Cantik dari Eversnow, berdua saja di sebuah kafe yang mewah. Tapi dari jauh sebenarnya seseorang mengintai. Ya, siapa lagi kalau bukan si tomboy Joy. Hanya saja, ia tak ikut duduk dalam kafe, melainkan menunggu saja di luar sambil mengenakan pakaian sehari-hari yang berbeda dari biasanya plus kacamata hitam, sehingga Elsa pun tak bakal ngeh akan kehadirannya.
Lagipula, Elsa sedang mabuk kepayang, jadi mana sempat lagi diperhatikannya orang-orang lain. Selain Rey, tentunya, yang sore itu sengaja berpakaian jas keren hingga mirip selebritis di televisi, begitu rapi dan tampan, bahkan lebih dari yang biasa ia kenakan saat jalan dengan Joy.
__ADS_1
Elsa sore itu berdandan cantik, tak glamor, tapi natural look dengan dewy face ala artis Khoreya. Rambut panjang pirang full kepang. Gaun biru panjangnya berbelahan paha tinggi plus berpotongan leher rendah, memamerkan belahan ketapel menggoda, membentuk huruf Y sempurna. Rey menahan liur, berusaha untuk tak terpaku pada pemandangan gratis itu.
"Hai, Prince Charming," Elsa menyapanya, duduk sambil menyilangkan sebelah kaki, memamerkan high heels yang memamerkan kaki jenjangnya, anggun dan feminin.
"Ya, aku datang." Rey duduk di seberangnya, "Kupesankan kopi untukmu. Dingin?"
"Ya, aku suka kopi dingin tapi manis dan diberi whipped cream yang lembut putih dan creamy sepertiku." Elsa terkikih ala putri raja jaman dahulu, sopan menutupi mulut dan deretan gigi putihnya dengan sebelah tangan.
"Mana foto-fotoku yang sudah jadi? Kupilih dulu sekarang, baru kau cetakkan ya." Elsa mencari alasan untuk menggeser duduknya agar bisa berdempetan dengan Rey.
Rey agak terkejut, tapi tak kuasa menghindar, hanya bisa tersenyum saja. Putri yang satu ini memang SKSD alias sok kenal sok dekat, plus kali ini benar-benar menunjukkan atensi yang tak biasa. Merasa sedikit gerah juga, tapi Rey tetap berusaha cool, seperti saat ia berhadapan dengan Putri Chelsea dulu.
__ADS_1
Bila saat SMA dulu ia masih begitu naif, kali ini ia mengerti, wanita semacam ini bukan hanya ramah dan manis tanpa tujuan. Dari tatapannya, cara bicara hingga wangi parfumnya terasa betul aroma pedekate alias memikat pria idaman. Ibarat bunga merekah sedang memikat lebah.
"Wah, bagusnya! Aku cantik betul bukan di sini? Lihat, kau sangat jenius mengambil fotoku dari angle ini. Kau betul-betul berbakat. Tajam semua, tak ada satupun yang blur. Rey, kau mengagumkan!" tak henti-hentinya memuji sambil mencengkeram lengan Rey, sesekali mendekatkan dadanya ke sana hingga bersentuhan.
"Uh, ya, tentu saja, Elsa." syukurlah, kopi pesanan mereka sudah datang, dan Rey buru-buru menyesapnya agar bisa sedikit memberi jarak di antara dirinya dan Elsa.
"Nah, karena aku gadis yang baik dan jujur, aku ingin segera saja mengutarakan maksudku yang paling tulus dan mulia, Rey." ujar Elsa sambil menjilat whipped cream dari kopi dingin yang baru ia hirup, bibirnya yang berlipstik tak mudah luntur merekah seksi, pink menggoda.
"Dan seumur hidupku aku tak pernah ditolak, serta tak menerima penolakan." tambah sang putri sambil menatap tajam mata hitam sipit Rey dengan mata birunya yang bagai kristal es indah berkilauan.
"Rey, I love you, and I'm not accepting the word NO."
__ADS_1