
"Barusan ia berjalan melewatiku begitu saja. Tanpa perasaan. Apakah itu sengaja ? Atau bagian dari permainan yang kami sedang mainkan ?
Dan apa lagi yang harus kulakukan?"
"Rey melakukannya bukan karena dirimu. Ia wajib berlaku adil kepada semua kontestan. Bila kau diistimewakan, dunia akan segera tahu tentang drama kita dan rencana kalian akan gagal." Yin dan Yang menghibur Joy.
"Ya. Aku harus sabar. Hanya tinggal besok dan lusa. Aku harus fokus dan mencoba mencari solusi agar tiga pesaingku tersingkirkan."
"Putri Chelsea, Velove, dan Agnez. Tak ada yang bisa kupercaya hingga sejauh ini. Rey memilih mereka tentu bukan alasan. Chelsea mengaku cinta monyet Rey. Apakah betul-betul mereka pernah jadian? Mungkin saja putri itu diam-diam masih menyimpan rasa."
"Ah, Rey tentulah bukan tipe seperti itu. Aku tak tahu apakah ia calon raja yang menghalalkan poligami. Banyak kerajaan monarki mengizinkan adanya harem dan selir. Evertonia tak termasuk salah satunya."
"Lagian, kalaupun itu sampai terjadi, aku takkan memaafkan Rey. Terlalu pencemburu dan posesif !"
Malam itu Joy tertidur di atas kasur empuk berseprai kain jacquard pilihan berbantal bulu angsa. Merasa nyaman bagai putri raja sungguhan. Walau batinnya masih terguncang atas perundungan yang ia terima tadi siang.
"Ha ha ha ha ha ha ha."
Tawa 'nenek sihir' ala Chelsea dan Velove masih terngiang-ngiang sampai sekarang.
"Mereka takkan segan-segan menjegal atau mempermalukanku, seperti yang dulu kualami di sekolah. Teman-teman sekolah yang populer dan cantik suka diam-diam menertawakanku. Mereka tak suka kalau aku meraih peringkat sepuluh besar. Apalagi kalau aku naksir cowok yang populer. Joy, mimpi saja! Kau hanya anak bebek jelek yang takkan pernah berubah menjadi angsa. Mau diapain pun matamu kabur, wajahmu bulat, tak enak dilihat!"
Tapi lagi-lagi ada Rey. Rey tak pernah melihatnya dengan mata fisik sebelum mereka benar-benar berjumpa. Mereka saling melihat lewat mata hati. Bertukar kata, mendekatkan diri. Hanya mendengar suara saja sudah merasa nyaman. Dan setelah berjumpa, terlebih lagi keduanya merasa ada chemistry. Hingga detik ini, makin terasa ada hubungan tak terlihat mata, tali kasih yang tak bisa dipandang. Hanya bisa dirasakan dan dinikmati. Hangat sekali.
__ADS_1
"Rey, aku tahu ini jalan satu-satunya yang harus kita tempuh. Walau penuh bara api."
Malam itu Joy tertidur juga saking lelahnya. Jatuh dalam lubang hitam yang dalam. Pada puncak buai nyenyaknya ia seperti terjaga di dunia lain. "Ini di mana?"
Seperti di sebuah pulau terpencil, tak ada siapa-siapa. Langit cerah. Lautan biru luas, debur ombak, suara camar, pantai berpasir putih. Indah sekali.
Di sisinya ada seseorang. Seorang pemuda yang wajahnya seperti di-blur, ada kilau putih terang bagai topeng cahaya mengaburkan pandangan Joy.
"Kamu siapa?" tanya Joy.
"Ini aku, suamimu." jawab sosok itu. "Kita baru menikah, dan di sini hanya ada kita berdua."
"Astaga." Joy merasa jengah.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan ya?" tanya sosok misterius yang mengaku suaminya itu.
"Kita bisa melakukan apa saja yang kita mau sekarang. Kita sudah bebas." 'suami'-nya menarik Joy mendekat. Menciumnya bibirnya dalam-dalam, lalu membawa tubuhnya merendah ke atas pasir.
Dan sontak Joy terbangun. Jantungnya berdebar-debar.
"Astaga. Masa itu Rey."
Keesokan hari, lagi-lagi Putri Zoy dirias cantik dan menghadap Mr. Brokoli dan ketiga putri cantik kontestan Royal Games of Love yang tersisa di depan kamera TV Evertonia.
__ADS_1
Hari ini babak penyisihan kedua. Anehnya, tak dilakukan di tempat biasanya dan tak banyak penonton seperti siaran perdana kemarin. Hanya para peserta, kamera dan MC. Pangeran Rey tak tampak hadir. Tapi mereka senang sekali, karena tempat shooting hari ini sangat indah. Kebun mawar merah kerajaan Evertonia!
"Selamat datang di hari kedua babak penyisihan Royal Games of Love. Para putri tersisa, 4 orang putri tercantik dan terbaik, Putri Chelsea, Putri Velove, Putri Agnez dan Putri Zoy. Yang mana akan tersingkir hari ini?" MC Mr. Brokoli menunjukkan ke arah kamera setangkai panjang mawar merah merekah, besar dan indah, wanginya harum sekali. Mawar Evertonia.
"Di bagian kebun yang kalian akan jelajahi ini tak ada bunga mawar. Kalian harus menemukannya, karena Pangeran Rey telah menyembunyikan mawar-mawar itu entah di mana. Tapi hanya ada tiga kuntum mawar. Satu putri yang tak berhasil mendapatkan mawar, harus pulang hari ini dari istana dengan tangan hampa."
"Aww, asyik. Pasti mudah sekali." Sorak Velove dan Chelsea berbarengan. "Kami penyuka bunga mawar, mencium wanginya saja dari jauh sudah tahu di mana letaknya. Semudah mengendus aroma kue lezat yang baru matang disajikan di piring pesta minum teh kerajaan."
"Ah, bunga mawar. Rey tak mungkin memberi kemudahan untukku. Aku harus mencoba sendiri." Tangan Joy mengepal erat, berjanji untuk berusaha sebaik mungkin.
"Tiga, dua, satu, mulai !!!"
Keempat putri mulai berpencar ke seluruh pelosok kebun berdaun hijau subur, sibuk menyibak setiap semak mawar, mencari di setiap pot dan celah. Dengan teliti sekaligus berdebar-debar, mereka mulai menyebar secara acak di kebun yang luas dan berlika-liku seperti labirin hijau itu.
"Astaga, beruntungnya aku." Joy tak lama berhasil meraih satu mawar di pojok yang sepi, dimana tak ada putri-putri lain memperhatikan sebelumnya.
"Dapat !!" Seru Velove sambil mengangkat tinggi-tinggi sebatang mawar, disusul Chelsea, "Yes !!!" sambil menarik sekuntum bunga dari kejauhan. Tapi sebenarnya kuntum itu terlebih dahulu diraih putri lain di ujung yang berbeda.
"Lho, kok ditarik, itu milikku.. !!!" pecah jerit tangis seseorang di seberang. Ternyata Putri Agnez, yang sedikit nerdy juga seperti dirinya.
"Putri Agnez?" Joy, yang melihat sendiri kejadian itu, tiba-tiba merasa trenyuh.
"Aku yang menemukan dan mengambil duluan, tapi ia menariknya paksa dariku." Terang Putri Agnez sambil terisak kepada Joy. "Sungguh curang Putri Chelsea. Hu hu hu hu hu."
__ADS_1
"Aduh, apa yang harus kulakukan?" gamang, Joy menatap tangkai mawar yang ada di dalam genggamannya.