The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Sekeping Puzzle Kebahagiaan Joy


__ADS_3

Rey dan Joy sama-sama bingung plus garuk-garuk kepala saat Mama Joy berdiri di muka pagar membukakan pintu.


"Pukul sepuluh malam? Kenapa tak sampai pagi sekalian, tanggung, dua jam lagi!" seringai lebar di wajah awet mudanya seperti menyindir baik Rey maupun Joy.


"Maaf Ma, uh, saya, eh, kami ingin membicarakan sesuatu yang penting." Rey akhirnya berbicara dengan suara tegas.


"Jangan bilang padaku kalian tadi ninuninu ya, dan sekarang mau agar kuizinkan kalian kawin lari.." nada suara Mama Joy sedikit galak, sedikit membuat Rey dan Joy keder bin gemetaran karena kaget.


"Uhhh, kami cuma habis dinner kok, bukan seperti yang Mama Joy duga." Rey tersenyum malu-malu, "Sesekali manjain Joy, Ma."


"Iya Ma, tadi Joy makan Beef Wellington sama apa tuh, kue yang ada krim dibakar atasnya, enak sekali, jadi lama deh.."

__ADS_1


"Iya, Mama baru nonton Sinetron Bunyi Nurani Binny, sedih ya, jadi terbawa suasana. Disambung lagi sama Jeratan Asmara di Asrama. Waduh tambah baper. Maaf yah." Mama Joy membukakan pintu.


Akhirnya Rey dan Joy duduk di sofa berhadapan Mama Joy yang bingung melihat kedua anak muda ini duduknya sedikit lebih berani berdempetan.


"Begini Ma, ayahanda saya Raja Friedrich sedang bermaksud menjodohkan saya."


"Dengan Joy?"


"Jangan bilang kau mau memutuskan Joy, yah....." macan Mama Joy bangun lagi. "Karena Mama tahu kau sangat mencintai dan dicintai Joy. Jangan jadi seperti itu tuh, putra pimpinan negara seberang sana, bukan Evernesia ya, yang putusin ceweknya gegara entah apa, gaje, di saat ceweknya masih sayang-sayangnya!"


"Justru itu, Mama Joy!" Rey merasa senang. "Saya bermaksud menikung kehendak ayahandaku itu. Dan cara satu-satunya adalah......"

__ADS_1


Sunyi.... senyap.... Hanya suara cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap dan mendecak, menunggu seekor nyamuk...


"Saya ingin melamar Joy dan besok menikahi Joy di suatu tempat rahasia. Dan Mama Joy akan hadir di sana juga untuk memberikan restu. Ups.. maaf bila terlalu mendadak. Saya hanya tak ingin ayah saya menyakiti ibu kandung saya yang baru berhasil menemukanku setelah kami kemarin berhasil jadi model iklan."


Sunyi lagi. Cicak pun berhenti berdecak. Jarum detik berdetak keras nyaris seperti debar di jantung Rey dan Joy. Satu detik terasa seperti satu abad!


"Mama bukan tak setuju. Mama hanya ingin Joy bahagia. Mama hanya punya satu gadis kecil. Sejak Papa Joy tak ada, kami tak punya siapa-siapa. Ibarat kepingan puzzle kebahagiaan yang hilang. Dan Joy tak semudah itu juga bisa mencintai seseorang seperti ia mencintai papanya. Karena itulah Joy begitu berarti untuk Mama. Dan Mama harap siapapun yang menyayangi Joy, bisa menyayangi Joy seperti, bahkan lebih, dari papanya dulu. Bukan untuk menggantikan. Melainkan untuk memberikan dan melengkapi kepingan puzzle kebahagiaan Joy kembali dan sekaligus mendampingi satu sama lain seperti orangtua kalian dahulu."


Oh... Rey terpana. Joy memang anak Papa, dan ia memang ada bukan untuk menggantikan posisi beliau, melainkan melengkapi hidup Joy dengan sesuatu yang baru. Ibarat menyatukan kiri dan kanan menjadi sepasang sayap, tangan, atau kaki.


"Ya, Ma. Saya akan melengkapi puzzle kebahagiaan Joy. Saya berjanji akan selalu menyukai, menyayangi dan mencintai Joy."

__ADS_1


__ADS_2