The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Kekuatan Cinta


__ADS_3

"Mungkinkah Rey mau turun tahta mengejarku, atau malah senang aku kabur dari sini?"


Princess Zoy alias si tomboy Joy terus berlari dengan kekuatan gaib yang tak ia sadari karena kakinya tiba-tiba bergerak sendiri, seakan-akan tak perduli pada sepatunya yang ber-hak cukup tinggi. Ia tiba di taman mawar istana, terengah-engah, menoleh ke belakang, siapa tahu ada pengawal atau pengawas acara yang mengejarnya, lalu meringkusnya.


Pandangannya sudah kembali normal. Napasnya juga.


Ia sebenarnya bukan hanya takut karena tak bisa berdansa. Ia sudah tak kuat memendam kekecewaan mengapa Pangeran Rey mengajak Putri Chelsea ke kencan mereka, dan kenapa mereka mengabaikan dia dan asyik ngobrol-ngobrol berdua saja.


Ia ingin sekali ada petunjuk atau sedikit saja perhatian khusus dari Rey, apakah Rey masih mencintainya seperti beberapa bulan yang lalu ataukah ia sudah berubah pikiran.


Apalagi Rey sampai saat ini belum membuka kacamata hitamnya, jadi Joy tak pernah tahu apakah Rey memperhatikannya atau tidak.


"Siapa tahu acara ini sengaja dibuat untuk menyingkirkanku, karena Rey tak tega mutusin aku secara langsung. Jadi dengan terdepaknya aku, maka ia dengan mulus bisa bersama dengan putri yang kini ia suka."


Uh, Chelsea. Walau dari cerita Putri Agnez, sahabat barunya, Joy tahu kalau Chelsea memang dulu dekat dengan Rey, tapi Rey tak pernah mau jadian dengan Chelsea. Walau mereka sering dijodohkan, digadang-gadang sebagai Raja dan Ratu masa depan Evertonia. Walau katanya Chelsea pernah jadi model bagi Rey waktu Rey pertama kali menggemari kamera.


Chemistry antara Chelsea dan Rey saat berdansa tadi juga 'mungkin' ada. Hanya 'mungkin', karena Rey memakai kacamata hitam jadi tak pernah ada yang tahu apakah ia menatap pasangannya saat berdansa atau tidak.


"JOY !!! Rupanya kau ada di sini !!!"


"REY !!!"


Joy tersentak, hampir terlompat.

__ADS_1


Rey ternyata diam-diam ikut keluar istana menyusulnya, napasnya sedikit terengah-engah juga. Dan ajaib, ia tak memakai kacamata hitam 'keren tapi jelek'-nya lagi. Matanya yang sipit tapi tajam dan seksi itu kini menatap langsung mata Joy yang dilapisi softlens. Joy tak kuasa mengalihkan pandangan juga. Berkaca-kaca.


"Maafkan aku semalam. Aku sebenarnya hanya mengetesmu saja." Rey berkata selembut mungkin, nadanya tak lagi formal seperti kemarin-kemarin. Sama seperti Rey yang dulu. "Kau tampak cantik sekali, Joy. Aku sungguh suka."


Pemuda itu mendekat. Ia tampak gagah dengan seragam pangeran kerajaan putih-emas itu, seperti pangeran-pangeran di kisah-kisah Disni. Tapi yang ini nyata, dan jauh lebih memikat daripada pangeran-pangeran dalam film manapun.


Tapi Joy malah refleks menjauh.


"Rey, aku, aku..." gadis itu masih ragu. "Apakah kau masih Rey yang dulu? Mahasiswa IT yang kukenal secara random lewat chat lalu kita telepon-teleponan, SMS-an, chatting-an dan email-email-an, lalu bertukar foto, lalu bertemu dan berkencan?"


"Tentu saja."


"Apakah kau masih tak hanya menyukaiku, tapi juga mencintaiku?"


Rey mendekat, dan seketika merengkuh Joy dalam pelukannya. Deg.


"Aku bisa merasakan cintamu padaku." Rey sekali lagi mengucapkan itu, memegang dagu Joy, hendak menciumnya.


Deg.


"Rey, tapi... Aku di sini sadar, aku hanya putri palsu, putri aspal, cuma benalu pengganggu di antara mawar-mawar, tidak layak.."


Rey menghentikan kata-kata Joy itu dengan sebuah kecupan. Lama, hangat, dan bibirnya lembut sekali. Seperti ada listrik puluhan ribu volt menyengat, seperti magnet maha dahsyat menempel erat-erat dan tak mau lepas di antara mereka berdua.

__ADS_1


Duh, malu, tapi kebekuan hati Joy luluh seketika seperti bunga es terkena sinar matahari langsung, mencair hingga habis.


"Eh, maaf, aku rindu padamu." akhirnya dilepasnya bibir Joy. "Di sini ada CCTV."


Mereka berdua tertawa lepas. "Ah, masa bodoh." Rey tersenyum, matanya melengkung ke atas, manis seperti dua bulan sabit terbalik.


"Rey, aku tak bisa dansa." aku Joy dengan suara kecil. Bibirnya masih terasa nyut-nyutan. Tapi ia senang sekali, karena sudah 'baikan' dengan Rey. Dan kini ia yakin bila Rey masih mencintainya, bahkan lebih dari dulu.


"A ha ha ha ha." Rey tertawa lagi, membuat Joy heran. "Kebetulan sekali, jadi aku bisa memberimu kursus kilat, instan, di sini."


"Sungguh?" Joy tiba-tiba deg-degan lagi.


Rey mendekat lagi, mengambil posisi dan mengatur lengan Joy. "Begini. Pelan-pelan, kita belajar yang sederhana saja. Satu lenganmu di bahuku. Satu tangan  berpegangan dengan tanganku. Lalu tanganku di pinggangmu, tak masalah kan?"


Lalu mereka bergerak perlahan, kiri-kanan, sesekali berputar sesuai petunjuk Rey. Mata mereka saling memandang. Joy takjub, baru kali ini ia berdansa dengan kekasihnya. Di rumah dulu mereka sering nonton DVD, main video game atau masak bersama, kali ini mereka seperti pasangan dalam dongeng-dongeng.


"Sudah siap? Mudah kan, ayo kita kembali ke ruangan dan tuntaskan Royal Game. Aku takkan memberimu kemudahan, kau suka tantangan dan aku tahu itu. Kau kan 'singa alfa' bukan 'kucing betina'." ledek Rey.


"Grrr. Singa. Rambutku sih iya." geram Joy sebal. "Ayo, kita hajar mereka!" Joy kali ini merasa pede. Percaya diri, percaya pada Rey. Energi, semangat dan kekuatannya sudah kembali.


Percaya pada kekuatan cinta.


Mereka berdua bergandengan tangan untuk masuk kembali ke dalam ballroom.

__ADS_1


__ADS_2