
Hati Joy berbunga-bunga, malam itu ia merasa seperti Cinder Ella sedang dipakaikan sepatu kaca oleh Pangeran Rey yang memang adalah Prince Charming-nya selama beberapa lama ini. Yang ia betul-betul suka, sayang dan cinta to the moon and back.
Tapiiii... kok mesti besoooookkk ???
"Astaga! Bahkan belum ngapa-ngapain. Tak ada lamar-lamaran, ketemuan keluarga, upacara di mana, resepsi di mana, makan prasmanan atau makan meja (makan di atas meja tentunya, bukan mejanya dimakan !!!), menunya apa, undang siapa, undangannya warna apa, suvenirnya gimana. Bingung aku, Rey. Belum lagi nanti apa kata orang. Joy kok dadakan, jangan-jangan accident, kayak di sinetron-sinetron 'esek-esek' atau novel-novel 'ninuninu', atau diapa-apain Rey.." Joy juga bisa cerewet ala burung cucakrawa bila sedang gundah.
"Jangan khawatir, tak ada yang akan heboh, dan semua sudah tersedia, aku kan pangeran, literally. Tapi kurasa sih status itu takkan pernah berubah menjadi raja. Kau tahu kan, aku tak berminat naik tahta. Apakah itu tak masalah bagimu?"
"Aku memang maunya dari dulu dengan Rey, bukan Pangeran Rey. Atau kata pangerannya. Itu tak penting. Asal kau jadi raja di hatiku saja."
"Joy bisa puitis juga kadang-kadang!"
Setelah lampu neon Rey diterima Joy menyala terang, plong sudah perasaan Rey yang selama ini memikirkan matang-matang segalanya. Syukurlah Yin dan Yang serta Putri Agnez bersedia membantu.
__ADS_1
Jadi, besok pagi-pagi sekali, kami kawin lari - pikirnya sedikit nakal. Bos Bee sudah diberitahu. Hampir semua sahabat sudah diberitahu, tentunya secara rahasia.
Kecuali calon mertua. Mama Joy !!!!
"Malam ini selesai kita makan, kita ke rumahmu dan merayu Mama Joy, jadi tak usah takut!"
"Astaga... Rey, iya, tadi Mama sedikit curiga sih melihatku dadakan dandan dan pakai gaun cantik, dikiranya ada job modelling lagi. Kok aneh, malam-malam hari biasa? - katanya."
"Ya, sebentar lagi anak gadisnya mau diculik, diperawa.. ups" Rey sedikit nakal juga kadang-kadang. Joy sih gak keberatan, ia selalu menganggap cowok sedikit nakal itu justru sangat-amat normal.
Rey tergelak mendengar pengakuan Joy yang ia ucapkan itu. "Sekarang langka sekali yang sepertimu. Aku tak tahu kok begitu beruntung bisa menemukan yang sama-sama belum."
"Rey juga ga pernah? Masa sih? Pangeran gitu lho.."
__ADS_1
"Pangeran yang terlalu sopan, naif dan banyak maunya jadi tak pernah begituan."
Joy tersenyum. "Sama-sama bodoh, nanti bisa kan belajar bareng."
"Yuk kita pulang, naik sepeda motor butut lagi ya, sebab limo sewaan sudah kusuruh pulang. Nanti kita juga hidup sederhana lho, bukan di istana Evertonia seperti kisah Disni Cinder Ella kesukaanmu itu."
"Memang aku tak demen yang begitu, Rey. Hidup di istana mewah tapi takkan seindah dongeng."
Rey tersenyum lagi, nakal, manis, bibirnya seakan minta dicium. "Sungguh kau calon istri yang tepat bagiku! Yuk kita habiskan semua ini, lupakan diet calon pengantin, kita berdua gak bisa gemuk!"
Malam itu di bawah taburan bintang di malam yang cerah, Rey dan Joy berboncengan pulang ke rumah Joy, keduanya berpeluk mesra seperti di adegan baperan film-film roman picisan SMA. Malam terakhir tanpa Bachelor and Bachelorette Party. Tanpa siram-siraman, guyur-guyuran, lamar-lamaran jor-joran seperti seleb-seleb cari sensasi di televisi. Tapi sudah begitu lengkap, sangat berkesan, sangat indah.
Tinggal satu macan lagi yang harus dihadapi.
__ADS_1
"Mama, kami pulang..."