The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
"Tiba-tiba Saja..."


__ADS_3

Joy masih terbengong tak percaya. Malam itu di bawah cerahnya langit malam penuh bintang, serta iringan debur ombak pantai di kejauhan, Rey menanyakan sesuatu yang disebut Pop the Big Question.


Sepertinya pacaran belum terlalu lama...


Baru kemarin bertemu di dunia maya.


Baru kemarin juga hubungan mereka ditentang banyak orang, lalu juga dipuji-puji, dan masih ada tantangan hingga detik ini.


"Oh, lupa bilang. Joy cantik sekali. Dalam penampilan paling tomboy maupun paling feminin, Joy tetap gadis favoritku. Yang bukan hanya luarnya yang kusukai, kucintai dan kusayangi, tapi juga keseluruhannya. Kadang bukan kecantikan dan ketampanan lahiriah yang membuat cinta itu lahir dan tumbuh serta bertahan. Tetapi sesuatu yang tak terlihat. Hanya bisa dirasakan, diresapi dan dinikmati oleh mereka yang terjalin takdir cinta sejati."


Rey meraih kedua tangan Joy. "Aku tak bermaksud memaksamu, aku hanya ingin memastikan, kau dan aku tetap bersama tanpa ada apapun lagi yang mampu memisahkan kita."


Joy memandang kekasih pangeran imutnya dalam-dalam. Berpikir sejenak, sementara Rey sabar menanti dengan hangat di sepasang tangan mereka yang masih bergandengan.


Mengapa pesona Rey begitu luar biasa. Mengapa mata sipit Rey selalu menghipnotisnya, mengapa senyumnya begitu indah dengan bibir lembutnya yang semanis gulali, wajahnya yang baby face selalu membuatnya gemas. Suaranya yang rendah merdu merayu, namun tetap tegas bila sedang lantang membela pendapatnya. Sosoknya yang tak seberapa tinggi besar atletis bin fantastis, namun ramping menawan. Terlebih dari semua itu, Joy mengagumi hati Rey yang tulus, murni sederhana, bersih. Tak pernah ada dan takkan ada lagi pemuda yang begitu bersinar seperti ini. Saat mereka bersama, selalu ada kontak elektrik dan magnetik tak kasat mata, menciptakan gelombang-gelombang keajaiban, menghangatkan hati dan menciptakan senyum. Joy ingin setiap hari selama sisa hidupnya terjalin dengan seseorang yang istimewa ini. Seseorang yang tak ingin ia lepas lagi, karena mereka saling membutuhkan. Saling terjalin.


Jalinan cinta, bukan ikatan. Sebab ikatan dapat terkesan begitu kencang dan erat, malah bisa jadi menyakitkan. Terikat juga adalah konotasi lain dari sebentuk kewajiban. Namun jalinan adalah pertalian yang saling menguatkan, saling mendukung, namun masih terasa nyaman.


Joy akhirnya buka suara. "Rey, aku tak pernah mempermasalahkan singkat atau lamanya kita jadian. Bagiku, waktu bukanlah ukuran bagi sepasang kekasih asalkan jangan terlalu singkat, dan kita telah melalui begitu banyak hal bersama-sama.."

__ADS_1


"Jadi? Jangan pernah katakan ya, bila hatimu berkata tidak."


"Satu-satunya yang kupikirkan saat ini hanyalah Mama, aku ingin ia tak terkejut dan turut bahagia, apabila ia tahu, aku sudah menentukan jalan hidupku. Karena aku sudah dewasa, dan sejak bertemu denganmu, aku bertambah yakin, cinta itu ada dan nyata. Dewasa bukan hanya secara umur dan fisik, namun juga hati."


"Jadi, apakah kau sudah bisa menekan tombol itu sekarang?"


Tulisan neon putih di atas sana masih menunggu.


Rey ... Joy


Rey ditolak Joy (eh, belum deh...)


Ready, Joy?


Joy sekali lagi menengadah, memejamkan mata, dan menekan salah satu tombol.


Hijau.


Rey diterima Joy.

__ADS_1


Rey terpaku. Detik itu ia seakan terhisap kembali ke dalam lorong waktu. Gadis itu random saja di antara deretan nama dan angka. Ia bilang hai-hai juga acak saja. Tapi tiba-tiba saja mereka berkomunikasi. Bertemu dengan begitu sulitnya sekaligus begitu mudahnya.


Dan tiba-tiba di sini, Joy mengiyakan ajakannya untuk selalu bersama di sepanjang hidup mereka, bahkan hingga ke dalam keabadian.


"Aku mau, Rey. Aku ingin di setiap hariku, ada kamu, mendengar tawamu, melihat ketiga senyummu. Aku ingin mendampingimu menjadi sahabat, kekasih, pasangan hati dan jiwamu.


Ya, Pangeranku. Aku ingin menjadi Putri di hatimu."


Senyum manis Rey terbit dan air mata Joy tumpah, mereka bergandengan lagi semakin erat, dan saling merangkul sehangat-hangatnya, berciuman kening sambil menyentuh pipi. Bulan purnama di langit cerah hanya bisa tersenyum iri, demikian pula pembaca yang mengintip mereka saat ini.


"Terima kasih Joy. Maaf tak ada acara berlutut di hadapanmu segala. Aku lupa beli cincin pertunangan."


"Uhh..."


"Tapi besok akan segera kusematkan cincin pernikahan di jarimu."


"Be, be, besok?"


Ehhh..... ???

__ADS_1


__ADS_2