
Akhirnya setelah lama berpikir, Rey menemukan ide sekaligus nasihat untuk kembaran tak sedarahnya itu.
"Shuai Tian, tenang saja ya. Hari ini kau bekerja saja seperti biasa. Kau bilang Xiao Jie suka masakanmu 'kan? Kurasa hari ini dia pasti akan datang mengunjungimu.."
"Ehhhh... aduh, takut..." belum apa-apa koki jones itu sudah gemetaran duluan seperti domba yang hendak digunting bulunya.
"Gak perlu takut! Kemarin kau menemuinya sebagai aku! Aku yang harus takut. Kau pakai saja dulu kacamata hitammu dan bekerja saja seperti biasa. Tapi kusarankan 'sih, jika memang kau suka padanya, kau perlahan-lahan mendekatinya sebagai dirimu sendiri. Tak perlu bilang apa-apa atau mengakui apa-apa dulu. Nanti aku yang akan membuka rahasia ini kepadanya, jadi kau diam saja dan tak perlu takut, karena kau tak bersalah!" urai Rey panjang lebar.
"Memang 'sih, jujur adalah jalan keluar yang terbaik. Tapi itu nanti saja. Sekarang ayo kerja dan bikin dia jatuh hati bila ia mampir lagi ke kafemu! Kami belum akan pulang hari ini, menunggu hasilmu!" tambah Joy bersemangat. Ia suka banget menjodohkan orang, di balik sifat pendiamnya, ia suka bila ada teman yang ia bisa pasang-pasangkan sesuka hati!
"Oke, terima kasih, Pangeran Rey dan Joy! Doakan aku saja supaya Xiao Jie tak ngamuk terlalu parah ya!" akhirnya Shuai Tian pamit.
__ADS_1
Dan sesuai dengan dugaannya, tepat pada pukul sepuluh pada saat kafe Shuai Tian masih sepi, pelanggan pertama yang datang...
Naga Wanita dengan wajah tertekuk dan ekspresi muram yang tak seperti biasanya. Ia duduk termenung.
Shuai Tian tak segera mendatanginya, buru-buru pakai kacamata hitamnya dulu, baru ia diam-diam menunggui Sang Putri Naga yang masih asyik bermonolog menatap pantai.
"Hilang sudah senjata pamungkasku. Begitu pula harapanku untuk CLBK. Rasanya gak mungkin lagi bisa jatuh cinta sama cowok! Mereka semua sama saja, ada maunya, pembohong! Pencuri!"
"Pencuri hatiku!" sahut Xiao Jie kesal. Sampai detik ini ia belum betul-betul ngeh pada Shuai Tian. Meskipun begitu, ia merasa sedikit tenang bisa berkomunikasi dengan seseorang yang pernah ia curcoli saat makan nasi goreng waktu itu.
"Aku mau makan bubur ayam saja, seperti hatiku jadi nasi yang hancur lebur dan juga harapanku untuk tetap tinggal di sini, karena sebentar lagi raja pasti akan menangkapku karena aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan dan harus segera pulang ke sangkar emasku, istri-istrian yang malang hanya sekedar istri pajangan seperti di novel-novel mainstream yang boring itu."
__ADS_1
Shuai Tian segera memenuhi order itu, bubur ayam buatannya selalu tersedia untuk yang hobi sarapan pagi, tersaji hangat dengan cakwe renyah dan potongan ayam empuk, sedikit minyak wijen gurih serta taburan daun bawang segar dan kecap asin khas Everiental.
Xiao Jie langsung buru-buru memakannya, sepeti biasa minta ditemani si koki. Rasa hangat lembut makanan yang seringnya disajikan untuk bayi dan orang tua yang tak lagi punya gigi itu melegakannya.
"Shuai Tian, ini juga lezat sekali. Aku betul-betul ingin kau jadi juru masak pribadiku. Sayangnya aku akan segera pulang ke istana."
"Aduh, Ma'am, andai ada yang bisa kulakukan." ucap Shuai Tian kecil, merasa tersanjung dipuji lagi tapi juga deg-degan.
"Sepertinya aku memang jones. Kau mau sedikit menghibur hatiku, koki? Yuk berfoto wefie denganku!"
Ups... wefie, fotooooo bareng ???
__ADS_1