
"Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu, aku tak tahu mana yang akan kau berikan padakuuuu.."
Terngiang lagi di telinga Rey, lagu jadul Evernesia kegemaran Raja Friedrich pada jaman PBG (Pangeran Baru Gede)-nya yang pernah Rey dengar dari koleksi kaset pita di gudang istana Evertonia. Penyanyinya kalo gak salah Arie Wee Bo-Wow, lagu bertema dilema cinta. Hits di tahun 80'an sebelum beliau diangkat menjadi raja sepeninggal almarhum ayahandanya Raja Xavier, kakek Rey.
Uh, kok bingung ya, aku sama sekali belum pernah digoda sedahsyat ini sebelum bertemu Joy. Karena semua cewek cantik terasa gak ada feeling-nya sama sekali walau enak dilihat mata. Apalagi kalo cuma seksi. Tapi yang ini udah mirip Joy, seksi menggoda dan juga manis.
"Madu di tangan kananmu."
"Pangeran Reinhard, sedikit saja. Sesekali gapapa. Aku bukan Naga." Putri Xiao Jie tergelak melihat wajah Rey yang melongo dan merona, dimana matanya jelas tertumbuk pada dua gundukan empuk seukuran milik Joy di antara lengan putih jenjang dan tangan berjari lentik. Kuku Xiao Jie yang berkuteks merah mengkilat seakan bersaing dengan kilau pantulan lampu dalam anggur putih di gelasnya.
"Oke, sedikit saja. Toh, aku tak gampang mabuk." Rey maju ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan maksi yang berpotensi mengundang hal-hal tak diinginkan ini. Jangan sampai meeting berubah jadi mijit yang penting-penting.
__ADS_1
"Gitu dong, Pangeran Reinhard yang gentleman. Aku merasa tersanjung. Walau baru pertama kali bertemu denganmu."
Xiao Jie menuangkan segelas anggur putih dan memberikannya ke tangan Rey, sedikit menyentuhnya. Terasa kulitnya licin halus bagai wanita Zepun di film-film ZAV.
"Hidangan Everiental spesial sudah tersedia. Cap cay dengan truffle, wonton noodle dan bebek panggang super crispy." ucap Xiao Jie sambil menunjukkan aneka masakan yang masih hangat mengepul di atas meja makan.
"Aku tak ingin berlama-lama di sini. Ada hal penting yang harus kuurus di studio."
Rey minum di hadapan Xiao Jie yang lagi-lagi duduk sambil memamerkan kaki jenjangnya yang tak ditutupi stoking. Belahan gaun tinggi di sebelah pahanya lagi-lagi tersingkap seolah-olah sengaja memamerkan kulit mulus bebas bulu seperti di iklan-iklan TV.
"Sayang, dulu aku tak terpilih ikut Royal Games. Dari dulu gak kepikiran ingin punya calon suami. Aku terlalu mandiri. Sejak kedua orangtuaku tiada, aku diasuh almarhumah nenek di East Everiental." curcol Xiao Jie sambil memperhatikan sosok Rey yang duduk gelisah di hadapannya.
__ADS_1
"Uh, oh, ya?" Rey mulai merasa ada hal aneh pada tubuhnya, terjadi begitu saja tanpa ia harapkan.
Curcol sang putri terus berlanjut, "Aku tak tahu kenapa saat ini semua begitu berbeda. Aku.."
Kata-kata Xiao Jie itu mulai terdengar agak jauh di telinga Rey dan pandangannya pun mulai mendua. Ada apa sih?
"Reinhard, duh, aku kok pusing.." Xiao Jie juga berhenti minum, tiba-tiba gelas di tangannya terjatuh ke atas karpet, anggurnya tumpah membasahi sebagian gaunnya. Xiao Jie ikut tergolek di atas meja.
"Putri, kau tak apa-apa?" Rey yang juga mulai setengah sadar entah gegara apa spontan maju menahan kepala Xiao Jie agar tak terantuk pada kayu meja.
"Aww, kok aku merasa pusing.. aku mau tiduran di sofa sebentar. Gendong aku, Pangeran Reinhard.."
__ADS_1
Uhh.. Joy? Lho, bukan Joy.. tapi ini betulan Joy, aku, aku..