
"Jadi, Mayvelina itu adalah betul Pustakawati Mei?" Rey yang segera dikabari oleh Joy hari itu juga tak ingin berlama-lama lagi menunda ketidakjelasan ini.
Ia berusaha untuk berpikir jernih. Antara kebingungan, bahagia dan juga bertanya-tanya. Selama beberapa minggu ini, ternyata seseorang yang menjadi misteri terbesar dalam hidupnya ternyata tak lagi jauh.
"Ya. Dan dia adalah...Ibu kandungmu. Ibundamu adalah penjaga perpustakaan yang sering mengintaimu..." tambah Joy.
"Jadi, Sepupuku Lyn itu orang yang tak pernah ada? Siapakah dia sebenarnya?" Rey masih memutar otak. Uh, andai saja aku bisa bertemu lagi dengannya.
"Apalagi ada info dari surat kabar lama yang ditemukan Yin dan Yang berikut foto tua di sebuah toko buku tua di pojokan Ibukota Evertonia." Rey menunjukkan kepada Joy scan koran lama yang dikirimkan Duo Yin Yang.
"Raja Friedrich Diam-diam Telah Menikahi Sekretarisnya Sendiri? Ms. Mayvelina Tampil Beda dengan Gaun Hamil!" demikian headline besar dan kecil di beberapa surat kabar dengan kertas menguning.
"Foto.. foto.." Rey dan Joy terus meng-klik foto-foto selanjutnya, tak sabar ingin menggali lebih banyak fakta.
"Ada!" mata minus Joy dan mata sipit Rey bertemu kompak pada satu foto.
__ADS_1
Dalam cetakan koran hitam putih, sebuah potret candid berjudul Mayvelina si Mawar Liar tampak sedang berdiri di halaman istana bergandengan tangan bersama ayah Rey yang masih tampak muda, menoleh ke belakang seolah takut kebersamaan mereka sedang diintai.
Rambutnya berwarna muda, tentunya pirang. Cantik sekali, dan raut wajahnya sekilas sangat mirip dengan orang yang belum lama ini bertemu beberapa kali dengan Rey dan Joy.
Pengawas perpus. Juga Sepupu Lyn yang berambut pirang walaupun telah dipotong pendek. Mereka berkacamata hitam, tapi tak bisa disangkal sosok dalam foto ini secara fisik sangat serupa!
"Mereka orang yang sama. Ini ibumu, Rey. Ayo, cari tempat tinggal Pustakawan Mei!"
Dari alamat di resume dari tempat bekerja Mayvelina yang tak lain adalah kampus universitas Rey, kedua sejoli kita tak lama sudah berada di depan pintu kamar sewaan sederhana di sebuah apartemen tua. Rey perlahan mengetuk pintu kayu tua yang penuh coretan tangan-tangan iseng. Sunyi. Sepertinya tak ada jawaban.
"Bu Mayvelina, saya Joy, seorang gadis, ehmmm, yang pernah kau temui beberapa hari yang lalu di perpustakaan." Joy ikut mengetuk pintu. Merasa kurang sabar, disentuh dan diputarnya gagang pintu yang dingin dan kusam.Terbuka dengan mudah, tak terkunci.
Keduanya menyerbu masuk.
"Ibu !!!" emosi Rey sedikit berkecamuk, "Di mana engkau, Bu? Keluarlah, aku datang untukmu. Aku sudah sangat lama menantikan..."
__ADS_1
Kata-katanya berhenti. Baik Rey maupun Joy sudah selesai berkeliling. Seluruh bagian dalam kamar itu kosong, tak ada sepotong pakaian maupun sebuah barangpun. Penghuninya sudah pergi.
Sudah tak ada di sini lagi. "Kita terlambat." lirih Rey sambil duduk di ranjang reot tak berseprai.
"Mungkin ia segera pergi. Takut penyamarannya ketahuan. Tak mau kita maupun siapapun sampai tahu keberadaannya saat ini." ucap Rey penuh penyesalan.
"Tunggu, Rey, ini lihat." Joy menemukan sesuatu di dekat kaca wastafel kamar mandi. Anting-anting emas berbentuk mawar.
"Ini sama seperti yang Sepupu Lyn berikan di kafe, ini milik ibumu. Ibumu memang sempat berada di sini."
Jadi, dimanakah dan bagaimana nasib ibuku sekarang? pikir Rey gundah sambil menyatukan kedua anting mawar emas itu menjadi sepasang lagi dalam telapak tangannya.
Bersinar tipis memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela tak bertirai, seakan mencoba memberi petunjuk.
Mawar Liar Evertonia. Mawar. Mawar di Evertonia. Di Evertonia.
__ADS_1
"Astaga. Aku tahu. Joy, aku akan berangkat sekarang juga ke Evertonia! Aku sangat yakin ibuku sudah kembali ke sana!"