
Tak seberapa lama, Rey dan Joy telah berlabuh di daratan Evernesia dan kembali ke rumah. Namun tanpa kehebohan dan sangat diam-diam, sebab Rey tak ingin memancing perhatian media apalagi ayahnya, yang tentu saja berusaha mengusik 'air tenang' dalam dirinya.
Mav tampak sangat gembira, "Papi Mami cepet banget pulangnya, adek bayi udah jadi?" sambutnya sambil menggelayut manja pada kedua orangtuanya.
"Belum jadi, tapi lihat nanti ya, siapa tahu Tuhan berikan kepada kita setahun lagi." Rey tersenyum sambil mengacak-acak rambut Mav yang hitam tebal.
"Cembilan bulan cepulu hali kata bu gulu di cekolahan! Dali buku celita keluarga tentang si Budi yang yang mau jadi kakak balu!"
"Oh, begitu... nanti ya Mav pasti jadi kakak, cewek cowok sama aja ya!" Joy memeluk putra kecil duplikat Rey itu dengan gembira. Bocah kecil itu menunjukkan kecerdasan luar biasa dari kecil. Tentu saja, hobi dan sifat ortunya membaca alias kutu buku menurun pada si bocah.
"Syukurlah kalian kembali lebih cepat! Ayahmu kali ini mulai keterlaluan!" Mayvelina kembali menunjukkan ketidaksetujuannya pada rencana Friedrich.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan, Bu. Mav masuk dulu ke dalam, ya main sendiri di kamar." ujar Joy.
"Baik, Mami! Mav di kamal ya main lobot-lobotan dan ailen men dulu!"
"Oke Mav! Jangan lupa minum air putih yang banyak ya, nanti setelah kami selesai ngobrol, kita makan malam bersama dengan masakan Nenek yang super nikmat."
Lalu setelah hanya ada Rey-Joy dan May, ketiganya duduk di ruang tamu, para wanita minum teh hangat. Kecuali Rey yang menyesap secangkir kopi susu tanpa gula.
Sang ibunda mendesah. "Ayahmu baru kali ini berlagak selebriti di depan media. Ia pamer foto mesra bareng Xiao Jie juga dan masuk koran. Ini di headline beberapa hari silam." May menunjukkan sebuah surat kabar ternama dunia Ever. "Ini mereka."
Foto Raja Friedrich dan Xiao Jie itu seperti ayah dan anak, pasangan yang berbeda usia tapi maksa. Ibarat kuda veteran dan burung merak, tampil rupawan dan semarak namun cek dan ricek, gak nyambung jek.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Aku tahu Xiao Jie bukan perempuan biasa. Ia juga bukan putri biasa. Tak seperti Chelsea atau Elsa yang suka padaku dulu. Yah, aku tahu Xiao Jie lebih cerdas dari mereka. Ia dipanggil Naga bukan tanpa sebab." Rey meringis mengingat pernah sangat dekat bersama Xiao Jie si penyamar, ngobrol, makan dan nonton film action bareng lagi! Syukurlah tak sampai berbuat yang aneh-aneh bin nyeleneh!
"Kau juga sih, tak ngeh kalau itu bukan diriku!" rutuk Joy.
"Siapa yang tahu kalo ia bisa sebegitu sempurna menjadi stuntwoman. Kecuali seleranya dan sifatnya yang tak cucok meong denganku!" bela diri Rey berlagak kesal.
"Ha ha ha... Ibu mengerti, Xiao Jie dan semua cewek suka padamu karena kau pemuda yang baik dan menarik. Jadi bukan salahmu juga. Kau sudah sangat dewasa, mau berterus terang dan minta maaf kepada Joy."
"Lalu, kapan dan bagaimana kita akan beraksi?" tanya Joy.
"Pada hari H saja, kita diam-diam kembali ke Evertonia untuk pergi." jawab Rey, tersenyum penuh misteri.
__ADS_1