
Putri ???? What the...
Joy yang masih mengantuk karena ini masih witching hours alias tengah malam menuju pagi spontan terbelalak.
Uh, Putri, Putri.. Kayaknya Rey jarang banget panggil aku Putri..paling-paling 'Mamimut' atau 'Momse' aja... Hmm.. Jangan-jangan dia mimpi Elsa atau Chelsea atau putri lainnya mantan penggemarnya atau cinta monyet..
Joy cemburuan, tapi masih mendiamkan saja. Malah dalam penasarannya itu dipeluknya tubuh langsing Rey. Merasa gemas, ia bangunkan suaminya yang masih begitu awet imutnya dengan beberapa ciuman lembut.
"Uh, Joy?" Rey terjaga juga. "Nakal. Aku jadi bangun."
"Biarin. Kamu ngigau sebut-sebut siapa tadi? Mimpi cewek lain yaaaa?"
Uhhh.. pipi Rey memanas. "Enggak. Joy nakal. Aku malah tiba-tiba ingin main."
"Hmm.. besok saja yah Pi. Capek."
"Gak mau. Pokoknya mau sekarang." Rey tersenyum nakal.
"Malu, tuh ada yang lagi baca." Joy merasa pipinya panas, buru-buru ngumpet.
"Cut, cut..." usir Rey sambil ikut masuk ke balik selimut.
__ADS_1
Dan penulis tutup pintu kamar mereka dulu ya, ha ha ha.
...**************...
Keesokan harinya, seperti biasa, Rey bersiap berangkat kerja setelah mandi dan menyesap secangkir kopi susu tanpa gula. Joy baru selesai memandikan Maverick si Rey junior. Belum sempat memakai sepatu, tiba-tiba ponsel Rey berbunyi.
"Uh, pagi-pagi udah berisik." keluh ayah muda itu.
"Mungkin chat Mr. Bee. Bilang saja nanti aku berangkat kerja agak siang setelah mengantarkan Mav ke Nursery." Joy selesai memakaikan baju seragam sekolah pada Mav, lalu memberinya sarapan.
"Oke," Rey mengambil ponselnya. Uhhh, kok, bukan chat dari Mr. Bee, tapi..
Putri itu lagi.
"Nanti siang datang ya ke kediaman resmiku di Evernesia. Dan tolong datang sendiri saja. Aku ingin berterima kasih setelah kemarin Anda bersedia memotret."
Rey bingung. "Uhh, kenapa feeling-ku tak enak betul ya?" ucapnya pelan seorang diri.
"Siapa, Papi? Mr. Bee?" suara Joy riang di belakangnya.
Rey baru sadar ia tadi bermonolog. Duh, moga Joy tak dengar. "Bu, bu, bukan. Eh, iya. Mr. Bee. Cuma bicara soal kerjaan kantor."
__ADS_1
Baru kali ini Rey tak bicara jujur. Supaya Joy gak marah aja. Bukan bermaksud nutup-nutupin atau apa-apa. Maaf ya, Sayang.
"Iya, sana pergilah kerja, Papimut Sayang. Yang semangat ya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
"Mwah. Kamu juga ya, Momse. Luvya. Bye Mav, Papi berangkat kerja dulu. " pamit Rey sambil memakai jaket-helm dan menaiki sepeda motornya.
"Bye Papi, hati-hati." Mav melambaikan tangan kecilnya.
Uhh, Joy belum curiga sih... moga tak ketahuan dulu deh masalah ini. Aku cari solusi sendiri dulu.
Sementara Joy pun sibuk membatin, "Rey sedikit beda hari ini."
Semalam memang Rey sedikit lebih nakal. Mereka main dalam selimut lebih lama dan juga lebih hot seakan-akan Rey sedang menebus rasa bersalah atau menutup-nutupi sesuatu. Joy sih gembira-gembira saja menerima gelora asmara Rey yang meluap-luap itu, sekaligus agak heran.
Tapi sungguh, Joy belum kepikiran ke arah yang tidak-tidak, karena ia sangat percaya pada Rey. Pangerannya yang selalu manis dan homey. Sangat jarang pulang malam kecuali ada teman sesama cowok yang mentraktir makan. Lebih sering pulang tepat waktu dan makan malam bersama. Apalagi sejak Maverick lahir. Rey sayang betul sama putra batitanya ini, begitu banyak mainan maupun makanan cemilan sehat dibawakannya sepulang kerja.
"Mami, udah ciang, cekolah yuk." ajak bocah Mav membuyarkan lamunan ibu muda Joy.
"Ayo, Sayang." Joy tersenyum, lalu menggandeng putra kecilnya keluar rumah.
Duh, duh, duh. Rey yang masih duduk di atas sepeda motor tuanya sepanjang jalan masih memikirkan undangan makan siang dari Putri Xiao Jie. Terima atau hindari lagi? Apa alasanku kali ini?
__ADS_1