
"Well, well, well.. tiga wanita cantik dan putraku. Siapa lagi? Evertonia hari ini ditantang oleh kaum wanita perkasa dan Anak Raja Baru Gede yang tak mau mendengar titah orangtuanya sendiri?" Raja Friedrich mulai merasa galau.
"Ayah, ini hadiah kecil dariku, tadi kutemukan di luar kebun kita..." Rey mendekat kepada Raja Friedrich. Di tangannya ada setangkai Bunga Matahari.
"Bunga ini tak begitu cantik, ya, benar. Tapi ia berhasil tumbuh subur berkat sinar mentari dan air hujan, juga kelak pada waktunya ia tak hanya gugur ke bumi ibarat bunga lainnya. Ia akan menghasilkan banyak biji yang bisa ditanam lagi menjadi bunga lainnya. Ia bunga liar dan tak dirawat khusus oleh tukang kebun, tapi sangat penurut. Ia ikuti perjalanan matahari hingga tenggelam di senja hari, lalu menunggu dengan setia hingga terbit lagi esok pagi."
"Uh.. bagaimanapun, seluruh Evertonia masih ada di belakangku. Tak ada siapapun bersama kalian, sangat sendirian jauh dari Evernesia." Raja Friedrich tersenyum kecut.
"Kami adalah saksi dan wakil Rey dan Joy..." selain kehadiran Putri Agnez dan Duo Yin Yang, tiba-tiba muncul juga tamu-tamu Rey di pernikahan termasuk Bos Bee dan MC Mr. Brokoli.
"Uhh... apa-apaan ini? Rey, kau mengundang mereka?" Raja Friedrich kian tersudut.
__ADS_1
"Tidak. Kami ada karena kami ingin berkata, Bunga Matahari tak seorang diri. Sama seperti semua wanita di dunia, ia butuh cinta. Dan cintanya dibutuhkan, dan hanya bisa diberikan oleh Pangeran Rey."
"Dan aku bukan Bunga Mawar Ayah," bisik Rey sambil meninggalkan hadapan Raja Friedrich. "Aku lebih memilih Bunga Matahariku yang tulus daripada mawar-mawar kemewahan. Aku mohon pamit dan undur diri dari semua urusan kenegaraan, mohon maaf, Ayahanda Yang Mulia, apabila pernikahanku tak berkenan di hati Anda. Aku siap menyemai Bunga Matahari di kebun kami sendiri yang mungil dan sederhana di Evernesia. Kita kembali, Joy."
"Tu, tu, tunggu.. " Raja Friedrich belum rela bidak-bidak caturnya diskak-mat Rey. "Aku belum selesai! Tetap di sini, ini command, bukan request!"
Mayvelina maju lagi. "Ups, Rey putraku, tak apa-apa, abaikan beliau, pergilah pulang. Rajaku, lebih baik kita bernostalgia saja di kebun mawar, seperti dua puluhan tahun silam. Biarkanlah putra kita memulai kehidupan barunya."
"Yang Mulia, mereka memang sudah sah. Kita tak dapat berbuat apa-apa. Lagipula selama Anda masih menjabat dan tak mau turun tahta, Rey pun tak bisa menggantikan tanpa alasan yang jelas. Ia butuh waktu dan pengalaman. Seorang raja bukan hanya dihasilkan dari keturunan. Tapi dari pengalaman. Kami menganggap Rey belum layak untuk menjadi raja. Raja Friedrich pasti tahu juga, walau dahulu kala Anda menjadi raja karena mangkatnya Almarhum Yang Mulia Raja Xavier, Ayah Anda sendiri."
"Uhhhh.. baiklah. Rey, ini belum selesai. Langkah caturku masih ada sebelum aku mangkat. Jadi, bersiap-siaplah untuk segala kemungkinan.
__ADS_1
Kau akan pulang lagi. Kali ini, sendirian. Dan untuk selama-lamanya."
Raja setengah baya itu tersungging, menutup sidang, sementara Mayvelina segera mengikutinya, berharap agar mantan suaminya tak berbuat bodoh lagi.
"Ayah..." Rey sedikit lega, namun sedih juga karena belum mendapat restu.
Maafkan aku, Yah. Aku akan buktikan bila aku bisa lebih darimu, tentu tanpa harus berpisah dengan Joy. Dengan Joy di sisiku, aku pasti bisa!
"Rey, ayo kita kembali. Kita mulai hidup kita di rumah Evernesia." ajak Joy.
"Kami selalu ada untuk kalian!" sorak teman-teman dan keluarga.
__ADS_1
Ya, ya. Bunga Matahariku, kau adalah inspirasi dan kekuatan. Kita mulai hidup baru kita di Evernesia. Kisah keluarga kecil kita dan segala yang kecil saja dahulu, yang kelak akan mekar dengan indahnya.