The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Me - U = Blue


__ADS_3

"Uh. Gak siap. E-dear Jane Letter, or E-dear Joy Letter?) alias surat pemutusan hubungan-kah ini?"


Joy jadi bingung sendiri. Diputusin si mantan alias cowok pertamanya yang ia memang gak cinta, rasanya biasa-biasa saja. Agak sedih, kehilangan atau menyesal sih pasti, karena sempat merasa gagal, gak bisa mempertahankan hubungan. Gak bisa menjadi pacar yang baik. Pacaran hanya karena enak dan nyaman, karena takut kesepian, karena takut dicap gak laku. Tapi karena gak cinta, gak lama sudah berasa biasa aja, tuh.


Kalau diputusin Rey? Hmm. Beda lagi masalahnya. Bukan karena Rey seorang pangeran. Joy gak perduli status. Siapapun Rey, gelandangan atau pangeran katak sekalipun, Joy tetap suka, sayang, cinta. Nah, karena tiga kata ajaib itulah, Joy merasa berat.


Rey, memang aku yang salah. Aku akui, aku yang mulai, kemarin cuekin kamu. Tapi mungkin penyesalan Joy sudah terlambat.


Dengan ragu, siap-siap banjir air mata, dibukanya email dari rey@evertonia.com itu.


"With all my heart, I pledge my love forever.


You've got my word, you and I will always be together..."


Astaga. Itu lirik lagu kesukaan Rey. Me Minus You Equals Blue. Dipopulerkan penyanyi lawas Glenn Medeiros, bukan Glenn Fredly (alm.).


Hanya itu saja isi email Rey.


Joy bingung. Kok bukan Dear Joy Letter?

__ADS_1


Jadi ia balas saja, "Me minus you equals blue."


Dan sent. Uh, kira-kira Rey jawab apa?


Tak lama kemudian, Rey sudah me-reply.


"There will never be me minus you."


"Rey?" Joy tiba-tiba curiga. Kok cepat banget balasnya, pasti dia online.


"Kamu di mana sih? Kamu lagi online ya?" Joy langsung beralih ke chat.


Rey tentu saja membalas. "Aku sudah menunggu di depan pagar rumahmu dari tadi."


Di luar sana Rey duduk di atas motornya, tampak sudah rapi. Ia senyum kecil,


"Hai Joy. Maaf, aku email dulu. Takut kamu masih marah."


Joy mendekat setelah membuka pintu pagar. Tiba-tiba saja, mereka berpelukan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rey." tangis Joy meledak.


Rey menyahut pelan, "Sudah. Tidak perlu. Aku yang salah kok Joy. Aku yang cuekin kamu. Aku sudah lama gak ajak kamu kencan. Aku selalu batalin janji." Rey lembut mengusap air mata Joy. "Aku juga ingin cepat lulus jadi sarjana eskom alias baskom, biar bisa cari kerja."


Joy mewek banget. Tak seperti Joy yang biasanya galak, kasar dan menakutkan. Rey jadi terharu.


"Tidak. Aku yang selalu cari kerja tanpa memperdulikan kamu. Aku masih suka ngambek. Alangkah gak dewasanya aku." Joy masih sesegukan di bahu Rey.


"Sudahlah, Joy. Semalam kencan terkaku dan paling nyebelin ya. Sekarang kita kencan lagi yuk, kali ini seharian penuh. Aku bolos kuliah dulu. Dan kau juga ya, libur cari kerja dulu." Rey tersenyum penuh arti. "Seharian ini interview denganku saja."


Uh, kencan seharian? - Joy terkejut, malu. Apa maksud Rey?


"Tapi jangan ke tempat rame-rame dulu ya. Sedikit trauma aku pada mata-mata fans-mu yang memandangku miris."


"Haters ya." Rey tertawa kecil. Joy sudah tak mewek lagi. "Haters gonna hate. Dan sebagai seorang 'royal' alias ningrat terkutuk aku sudah lama terbiasa digituin. Kekasih Pangeran Katak juga harus belajar cuek ya." Rey mengacak-acak rambut cokelat kemerahan kasar Joy.


"Yuk, ambil tas. Sana, sikat gigimu dulu. Gak usah mandi."


"Kok?"

__ADS_1


"Kita mau main air."


Hah ??? Joy agak malu juga ketahuan belum mandi pagi. Kira-kira mau apa sih Rey kali ini?


__ADS_2