
"Joy, maaf, aku tadi cuma ngob.."
"Sudahlah! Aku sedang tak ingin bicara denganmu, kau ngobrol saja sana sama gadis yang lebih menyenangkan daripada aku yang galak, pencemburu, nyebelin, sombong dan buruk rupa sepertiku."
"Lho, Joy, aku tak bermaksud untuk.."
Tapi Joy malah menjauh lagi hingga ke ujung bangku dan berdiri. "Aku mau pulang saja. Aku sedang tak mau bicara denganmu saat ini, toh tak ada gunanya membandingkan diriku dengan cewek putri kerajaan yang luar biasa cantik menarik dengan segudang kelebihan."
Rey hendak menahan tangan Joy, tapi Joy menepisnya dan malah berlari menyeberangi jalan menembus gerimis yang kembali turun.
"Uhh, Joy, maaf, maafkan aku. Tapi, ah, tak sopan juga meninggalkan para tamu yang sedang menungguku." Rey menunduk, menggeleng, sedikit merasa bingung karena sikap aneh Joy itu.
Akhirnya ia masuk kembali ke dalam galeri barunya, di sana Elsa masih menunggunya,
"Ada apa, Pangeran Rey? Maaf ya, ikut kepo, apa kalian sedang bertengkar?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Joy cuma salah paham saja. Aku nanti telepon dia atau ke rumahnya setelah acara ini selesai."
"Sudah, sini, ngobrol denganku saja yuk. Aku juga teman yang menyenangkan."
Dan lagi-lagi Elsa berhasil menawannya dalam serentetan percakapan nostalgia mengenai SMA Kerajaan dan semua yang mereka alami dan kenang di sekolah, guru-guru, pelajaran, dan apa saja. Rey sejenak jadi lupa pada Joy.
Sementara Elsa pun diam-diam mengamati wajah Rey, yang relatif tak berubah semenjak kepergian mendadaknya dari Evertonia. Tak sedikitpun kelihatan menua, malah semakin dewasa dan maskulin sementara tetap cute dan baby face.
Lalu tanpa Elsa sadari, tatapan Rey yang teduh dari matanya yang sipit itu seperti mengantarkan sihir ke dalam bola mata birunya. Seperti menariknya masuk ke dunia lain, membuatnya gemetaran tanpa pernah ia inginkan. Sekaligus timbul suatu perasaan lain yang bukan sekedar kagum atau suka.
Iblis wanita cantik nan maha jahat mulai muncul menggoda di bahu kiri Elsa. Tidak ada salahnya sama sekali, malah ini akan jadi tindakan yang benar, karena Evertonia mengizinkan pernikahan dengan negara manapun asal keluarga kerajaan berdarah biru. Malah akan mempererat hubungan diplomatis Evertonia dan Eversnow!
Dan tentu saja akhirnya Elsa mengiyakan kata-kata Iblis itu.
Ya, betul juga, aku akan mencoba. Demi negaraku dan juga demi kebaikan semua, terutama kedua negara kerajaan, ini adalah ide terbaik.
__ADS_1
"Eh, maaf, aku pamit dulu, aku mau pidato pembukaan dulu ya!" Rey akhirnya tersadar dan menjauh dari Elsa.
"Tunggu dulu, boleh aku minta nomor teleponmu? Suatu hari nanti kita bisa ketemuan di kafe sambil ngopi, aku suka kopi. Dan aku juga suka karya-karyamu. Bisa kubeli beberapa dan kusumbangkan ke galeri kerajaan negaraku."
Rey, yang memang berhati baik dan tulus, tentu saja mengiyakan dan tanpa prasangka memberikan nomornya.
Bagus, bagus. Hari ini aku sangat beruntung. Elsa tertawa gembira.
Sementara Joy dalam perjalanan pulang sendirian di dalam bus merasa terpuruk, kalah. Elsa mungkin tak bermaksud buruk, namun tetap saja ia menang banyak dibanding aku.
Setelah acara di galeri selesai, Rey merasa terlalu lelah untuk mengunjungi Joy, maka ia berusaha menelepon. Tak diangkat.
"Uh, sungguh keterlaluan aku, maafkan aku ya Joy, maaf, maaf, maaf.."
Malah yang ada Elsa menelepon misscall. Dan kemudian masuk pesan.
__ADS_1
"Tes, tes, tes. Rey, ini Elsa. Selamat ya. Maaf ganggu terus. Boleh kan aku sesekali chat denganmu?"