The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Pandangan Pertama


__ADS_3

"Aku suka kamu. Tunggu aku, Joy. Pasti aku akan ke sana. Jangan kemana-mana. Tetap semangat dan good luck untuk ujian akhirmu."


Setelah si pemuda pelarian Rey dan si gadis tomboy Joy sama-sama tahu perasaan suka masing-masing, satu ganjalan terbesar dalam hati seakan lenyap. Joy jadi lebih bersemangat menghadapi tugas akhir kuliahnya di bulan Agustus, dan Rey pun tak lagi cemas saat harus rela menunggu hingga Joy dinyatakan lulus.


Dan waktu yang berlalu ia habiskan melamunkan bagaimana seandainya Joy tahu, ia siapa. Apakah Joy tipe cewek yang senang bila tahu gebetannya seorang pangeran sungguhan, atau malah marah-marah karena Rey dari awal tak berterus terang.


"Aww, kelak jadi putri atau ratu? Minum teh bersama-sama sesama ningrat di taman, duduk manis di tahta sembari dikipasi dayang-dayang, pesta dansa?" demikian dibayangkan Rey bila Joy sampai tahu dirinya seorang putra mahkota. dan jawabannya entah, "Yay! Lucu benar. Asyik! Impian masa kecil banget, bisa jadi putri." atau "Nay, pakai gaun? Sehari-hari celana panjang butut dan t-shirt kebesaran, terus pakai gaun? Ogah ah.."


"Aku bukan pangeran tampan yang sering digambarkan naik kuda putih gagah, berjubah berkilauan dengan pedang terhunus, dan biasa duduk manis di atas tahta. Rasanya hanya seragam kerajaan biasa, sama seperti yang dikenakan teman-temanku, Yin dan Yang, semua bangsawan muda lainnya, yang sehari-hari kugunakan dahulu. Bukan jubah kebesaran dan mahkota seperti di film-film kartun animasi Disni. Malah kini, tungganganku hanya kuda besi pemberian Raja Evertonia. Ayah kandungku. Kurasa beliau pun sudah pelan-pelan melupakanku. Hah, ayah. Tak ingin kuingat lagi masa laluku, termasuk ayahku!"


"Ia tak sayang padaku!"


"Buktinya, selama bertahun-tahun, tak ada agen rahasia Evertonia mencariku. Entah mereka belum berhasil, atau pencarian terhadapku sudah dihentikan." Dan Rey masih aman, setidaknya sampai saat ini. Entah sampai kapan. "Yang jelas, aku takkan pernah pulang! Bila bisa, untuk selamanya. Apalagi, setelah ada Joy. Aku ingin menetap di sini, lulus kuliah juga, bekerja, berkeluarga!"

__ADS_1


Kembali pada Joy. Membayangkan akan bertemu langsung dengan cowok yang ia rindukan, orang yang paling asyik diajak tertawa bareng, yang mengisi malam-malamnya dengan senyum, yang jadi hadiah terindahnya di malam ulang tahunnya, seakan menjadi pengisi waktunya sebelum ujian selain belajar dan menyusun materi terakhir di hari-hari jelang sidang TA-nya.


"Sebenarnya, cinta pertamaku pun bukan si cowok yang mirip orang Jepang itu. Bukan Kyo. Tetapi cowok berkostum pangeran di karnaval atau parade taman hiburan Fantasy World, di pertengahan 1980-an, yang ia kunjungi bersama papa. Cowok bule Pangeran Tampan yang jadi pasangan Cinder Ella. Walau aku tak begitu ingin jadi Cinder Ella. Tapi ide itu boleh juga. Seandainya Rey jadi Pangeran Tampan. Ups. Bertemu saja belum. Sabar, sabar." Dan hari hari berlalu begitu cepat bagi keduanya. 


Singkat cerita, ujian Joy berhasil dilalui dengan sukses!


Lulus. 4 tahun melelahkan sudah berhasil dilalui. Sebentar lagi, wisuda. Dan gelar sarjana akan resmi melekat di namanya.


Dan tentu saja, ini juga yang sudah dinanti-nantikan oleh mereka berdua. "Ya Tuhan, Rey. Aku sudah boleh menghubungi Rey kembali!" Joy hampir saja lupa karena larut dalam kegembiraan. Dan segera dikabarinya Rey, yang tentu saja sudah menunggu-nunggu Joy menghubunginya.


Joy seketika merasa keringat terbit di tangannya, yang memang sweaty palms alias mudah basah bila nervous. Grogi banget. "Apa yang harus kukenakan, Ma?" tanyanya pada Mama.


"Kenakan apa yang kau suka, yang membuatmu nyaman, tetap jadi diri sendiri." saran Mama.

__ADS_1


"Uh, semoga Rey tak terkejut saat melihatku langsung." Joy masih belum terlalu pede. "Sayang, aku harus memakai kacamata, softlens saja sudah tak ada yang bisa menolong minus yang tinggi ini. Kalaupun ada, tak cocok untukku yang kurang bisa menjaga kebersihan, yang ada malah bisa-bisa mataku iritasi gegara kejorokanku." lagi-lagi Joy berpikir gloomy.


"Ayolah, semangat, Joy." Mama Joy tak ingin melihat putrinya bermuram durja. "Bila Rey memang pemuda yang baik, ia akan menerimamu apa adanya. Dan tulus menyukaimu tanpa perlu berdandan berlebihan.


Jadilah dirimu sendiri."


"Baik, Ma." Joy berusaha tersenyum. Ia tahu, beberapa menit lagi, tak sampai satu jam, akan bertemu langsung, face-to-face, kopi darat, apapun istilahnya, dengan seseorang yang ia ingin betul kenal lebih dalam.


Tiba-tiba, terdengar suara klakson sepeda motor dari halaman depan. Joy berlari tak sabar ke pintu.


"Itu dia. Aku akan segera melihatnya. Apakah ia cowok yang sama seperti yang ada di foto itu?"


Dan di luar sana, di depan pagar alamat yang disebutkan Joy, Rey memarkirkan sepeda motor tuanya. Ia tampil rapi dengan kemeja lengan panjang abu-abu dan celana bahan hitam. Dilihatnya ada bayangan seseorang di kaca jendela di dalam rumah.

__ADS_1


"Joy, kaukah itu?"


Dan pintu pun terbuka. Untuk pertama kalinya, pandangan mereka bertemu.


__ADS_2