The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
"Harus Secepatnya Melamar Joy?"


__ADS_3

"Ehhh... Baru saja lulus kuliah, aku belum bekerja full time, sekarang aku harus...menikahi Joy?" Rey merasa bingung bagaimana harus bersikap. Sedikit malu-malu juga, karena memang ia begitu ingin menjadikan Joy bagian hidupnya. Dan ia yakin Joy menginginkan hal yang sama. Mereka saling mencintai dengan begitu luar biasa, bahkan iming-iming tahta, harta, wanita (lain) pun tak berhasil menggoyahkan hubungan keduanya.


"Bukankah kau ingin segera meresmikan hubungan kalian? Bila kau tunda lagi, Raja akan segera melakukan perjodohan paksa dengan putri dari kerajaan lain. Dan kali ini akan sangat sulit bagimu untuk menolak, karena ibumu sudah berada dalam pengawasannya. Apakah kau ingin ibumu menghilang lagi?" duo Yin Yang menegaskan pendapat mereka.


"Menurut buku referensi ini, apakah aku masih mungkin menikah dengan gadis negara lain di luar negara monarki absolut kita ini, tanpa kehilangan gelarku?" Rey menunjukkan buku perpustakaan pinjamannya kepada duo sahabatnya itu.


"Ya, tentu saja mungkin, dan sangat legal, walaupun kau mungkin takkan pernah bisa lagi menjadi seorang raja." Yin mengutarakan pendapatnya, "Seorang bangsawan lain akan segera naik tahta menggantikan ayahmu bila ia menyerahkannya karena umurkah atau karena ia mengundurkan diri."


"Tak masalah. Aku memang dari dulu rela dan ingin menjadi rakyat biasa. Tapi..."


"Kau masih ragu atau khawatir untuk meninggalkan hakmu sebagai pewaris tahta Evertonia?" selidik Yang.

__ADS_1


"Aku tak ragu sih, tapi aku sedikit takut bila Joy akan menolakku." akhirnya Rey mengakui ganjalan terbesarnya dengan wajah memerah.


Kedua sobatnya berpandang-pandangan, lalu sedikit menjauh, spontan pura-pura berdrama menjadi pasangan yang sedang lamar-melamar; Yin berlutut seolah memegang cincin di hadapan Yang, si gadis yang pura-pura menutup mulut karena terkejut,


"Yang, Sayang, Peyang, Mau Digoyang, maukah kau menjadi pasangan hidup Yin yang akan mendampingiku di sepanjang usiaku ?"


"Awww.. jadi terharu dan terhura.. terima kasih, tapi, pisang kok makan pisang." Yang pura-pura tak mau, buang muka sambil menggeleng.


"Pisangnya mesti diapain, digoreng atau dikukus?" Yin memberi 'penawaran.'


"Sa, sa, sale pisang?" Yin sudah hampir tertawa, membuyarkan drama mereka.

__ADS_1


Rey yang tadi malu-malu, kini pipi merahnya malah menggembung, menahan bibirnya yang mengerucut, sedikit menyemburkan kata "Pfffftttt...." bersusah-payah menahan tawa.


"A ha ha ha ha ha ha.." lepas juga Rey terbahak sambil menahan perutnya.


"Ha ha ha ha ha..."


"Aduhhhh... jangan ngakak Rey. Nanti runtuh langit-langit dan atap istana!"


Ketiganya berakhir tertawa bareng keras-keras sambil terjongkok dan duduk menghentakkan kaki, hampir bergulingan di atas karpet merah ruang tahta, tak perduli lagi pada kesopanan. Ayah Rey Sang Raja untung tak lagi di sini, bisa marah besar bila melihat duh berani-beraninya tiga cowok ini ketawa ngakak di ruang maha suci!


"Ohhh, kau ternyata takut Joy tak ingin buru-buru diajak ke ran.. maksud kami, naik pelaminan !!!" duo Yin Yang tersenyum cengar-cengir.

__ADS_1


"I, i, iya. Pangeran juga takut penolakan, tahu!. Baru berapa lama pacaran. Mama Joy juga galak, walaupun macan, manis cantik. Dulu Joy lama baru diizinkan ketemu aku, juga tak berani tiba-tiba saja bilang beliau, 'Mama Joy, saya ingin menjadikan Joy istri saya..' nanti malah kami dikira mengalami kecelakaan lagi..."


Yin dan Yang berpandang-pandangan. Uhh.. punya ide apa ya, agar Joy pasti bilang mau saat dilamar Rey?


__ADS_2