The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Saved By The Bell


__ADS_3

Uhh, Mav? "Hai Sayang! Papi, Papi... nanti akan segera pulang, tapi robot-robotannya nanti saja belinya ya!" mendengar suara putra kecilnya, Rey seperti tersadar dari mimpi dan juga rasa aneh yang tadi membelenggunya.


Alam sadarnya seakan-akan pulih kembali hingga ia tak lagi dreamy, dan segera sadar bila wanita di hadapannya ini bukan Joy.


"Maaf ya Nona, aku sebaiknya segera kembali. Karena anak dan istriku menunggu di rumah. Sementara urusan kita di sini tak jelas. Bila Anda sakit sebaiknya segera ke dokter ya. Terima kasih atas undangan makan siangnya." Rey berdiri dan tersenyum ramah. "Oh ya, hasil foto Anda akan segera kami kirimkan."


Uhh.. what the... Putri Xiao Jie tersadar dan kemudian tersenyum membalas Rey, berusaha menutupi kekecewaan hatinya.


Padahal sebentar lagi, sedikit lagi, Rey hampir saja jatuh ke dalam Venus Flytrap-ku. Sebel sebel sebel!


Dan Rey berlalu dengan perasaan lega yang luar biasa, "Dasar Maverick nakal mainin ponsel maminya! Tapi telepon isengnya berhasil menyelamatkanku dari hal-hal yang berpotensi membuatku.." Rey tak ingin membayangkannya.


Duh, gak bisa begini terus, aku harus berterus terang kepada Joy, sedari dulu bila ada apapun aku selalu terbuka dan membicarakannya dengan Joy. Tapi memang belum ada apapun yang terjadi antara Xiao Jie dan aku. Bagaimanapun sebaiknya aku menghindari hal-hal semacam ini.

__ADS_1


Sore harinya Rey pulang lebih cepat. Setibanya di rumah, ia langsung terbengong melihat keluarga kecilnya sedang menunggunya sambil duduk di depan televisi. Pemandangan biasa saja, tapi entah kenapa membuatnya begitu terharu.


"Hai, Sayang! Ayo mandi, air hangatmu dan handuk mandi sudah tersedia. Cepat bersihkan dirimu dan makanlah, pasti kamu sudah sangat lapar." sapa Joy sambil tersenyum gembira.


"Celamat datang Papi, mana lobot-lobotan Mav? Belum beli ya? Becok ya Pi." suara bening bocah Mav ikut riang menyambut papinya


Mereka begitu setia menungguku. Uh, terima kasih ya Joy, terima kasih, Anakku! - ucap Rey dalam hati.


"Oh, gapapa kok, Momse. Tak usah dimarahi. Lain kali ponselmu diletakkan di tempat yang lebih tinggi saja agar bocah kita tak bisa mengambilnya, ya." Rey mengecup kening Joy dengan penuh kasih sayang.


"Sebenarnya ada apa sih? Kok belakangan kau terlihat sedikit gugupan?"


Rey terduduk di ranjang. "Begini, aku..." akhirnya diceritakannya juga perihal kemunculan putri yang mirip dengan Joy, hingga kejadian tadi siang, "begitulah ceritanya, dan aku sangat tak ingin menutup-nutupi. Kau mau memaafkanku kan?"

__ADS_1


Joy terdiam. Lama baru ia menyahut, "Sepertinya ujian hubungan dan keluarga kita belum berakhir ya. Aku yakin Putri Xiao Jie ini tak muncul begitu saja out of the blue tanpa ada apa-apanya."


"Ya, kau benar. Bila aku mau ber-affair, akan sangat mudah karena Putri Xiao Jie itu kelihatan betul ada maunya. Tapi telepon iseng anak kita menyelamatkanku dari perbuatan bodoh itu. Sekarang aku sadar, mencintai saja tak cukup. Kita harus berjaga-jaga sepenuh hati dan jiwa-raga atas semua godaan."


Joy meraih tangan Rey, "Kau tak salah, dan aku tak perlu memaafkanmu. Tapi memang kamu perlu dihukum karena sudah membuatku cemburu banget sama Putri Xiao Jie yang tiba-tiba muncul! Nanti malam awas ya!" rutuk Joy.


Ih, melihat Rey hanya handukan begitu sungguh membuatnya gemas. Kok bisa sih udah jadi ayah tapi masih berbodi langsing seperti pemuda belasan tahun! Hampir saja ia ingin menarik lepas handuk di pinggul Rey kalau saja tak terdengar suara panggilan Mav dari ruang depan.


"Mami, Papi, Mav mau ke kamal mandi!"


"Oh, iya Sayang, Mami datang, sebentar!" Joy tersipu-sipu.


Rey tersenyum nakal penuh tantangan, "Nanti malam saja!"

__ADS_1


__ADS_2