
"Ehh, gimana ya, aku masih pera.. maksudku, aku sedang tak subur, Reinhard, eh, Rey..." Joy-joy-an berusaha menghindar dari hal-hal yang halal dilakukan pasutri di manapun itu, ehm-ehm selama tak mengganggu siapa-siapa.
"Justru bagus, kalo mau anak perempuan, kata orang-orang sebaiknya pas tidak subur.." Rey masih ngotot.
"Eh, aku baru dapet itu tuh tadi malam.." alasan Joy-joy-an lagi.
"Masa 'sih? Kayaknya engga deh, minggu lalu baru kelar! Bukankah kamu yang bilang, mau coba hari ini biar cespleng?" Rey masih menuntut jatah-nya juga.
"Tapi, uh.." Joy-joy-an alias Xiao Jie memang sudah lama menginginkan hal ini sih, tapi, dipikir-pikir, kalaupun terjadi, Rey bakal heran, kok Joy rasanya lain ya, yang udah nikah pasti ngerti...
Rey baru hendak meraih gagang pintu kamar tidur mereka begitu Joy-joy-an lagi-lagi berkelit.
"Eh, aduh, maaf sayang, kayaknya ada pesan masuk di ponselku!"
"Masa sih, kayaknya aku gak dengar apa-apa..." Rey mulai curiga.
"Aku dengar bunyi nit nit nit begitu, deringnya memang kukecilkan!" Joy-joy-an buru-buru menuju ponselnya, "Iya, ada chat bos memanggilku kerja lagi! Aku pergi lagi ya, Reinhard, eh, Rey! Maaf hanimun di rumah saja ditunda dulu ya!"
__ADS_1
"Hmmm..." Rey bingung berat. "Okelah kalau begitu. Hati-hati, jangan buru-buru!"
Joy-joy-an mendesah lega lalu buru-buru cabut menuju tempat aman.
"Waduhhhh... gawat, walau aku sekarang mau dibegituin, nanti pasti ketahuan. Aku juga belum pernah, masih tingting alias segelan plastik."
Xiao Jie buru-buru melepas kacamata tebal tanpa ukuran dan beberapa prop penyamaran lainnya. "Setelah ini apalagi yang harus kulakukan? Sebetulnya menyesal juga sih, aku kabur karena panik! Uh, dasar aku pengecut! Besok akan kucoba lagi! Mumpung aku masih in love banget, apapun akan kujalani termasuk ninuninu dengan Reinhard! Lagipula pasti dengan pria berpengalaman itu sensasinya lain ya, kalo engga, pelakor-pelakor pasti sudah tobat!"
Rey masih belum ngeh, bahkan sampai menjemput Mav pulang sekolah. Sementara itu Joy masih bekerja di kantor tanpa tahu apa-apa, tiba-tiba chat Rey masuk. "Kau sudah sampai lagi di kantor? Maaf ya tadi mungkin aku terlalu maksa."
"Eh, maksa apaan, Popse?" chat Joy heran.
"Nanti malam aja yuk." ajak Joy riang membayangkan menggemasi suaminya yang paling cute itu.
"Lho Momse, tadi katanya lagi dapet..."
Joy tambah bingung. Rey salah makan apa ya?
__ADS_1
"Engga, 'kan udahan minggu lalu... Nanti ya, setelah Mav bobo."
"Oke Momse. Met kerja ya, mwah mwah, hati-hati nanti pulangnya."
Rey tambah bingung. Ada yang gak beres di sini. Apa tadi itu...
Sebuah nama terlintas di benaknya. Joy tapi seperti bukan Joy. Mungkinkah tadi itu...
"Papi, macak cpageti jadi? Mav lapel.." bocah Mav si Rey junior mengoceh, membuyarkan lamunan dan analisa papinya.
"Oh, ya, Papi segera buatkan, sebentar ya Sayang!"
"Mami gak jadi libul ya Pi?" polos Mav yang kemarin sempat diberitahu Joy akan libur.
"I, iya, gak jadi, Sayang, besok mungkin Mami liburnya.." Rey sedikit jadi ragu juga, ingin segera mengkroscek setibanya Joy di rumah nanti.
Sore harinya, Joy tiba di rumah dan buru-buru mandi seperti biasa, lalu bersama-sama keluarga kecilnya menikmati makan malam. Rey terus memandanginya lekat-lekat sementara mereka duduk menyantap spaghetti buatan Rey bersama Mav yang mulai bisa makan sendiri.
__ADS_1
"Ada apa sih Popse Rey?" Joy jadi ge-er sendiri.
"Oh, eh, Momse, tadi siang, kau pulang ke rumah ya?"