The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Arus Listrik Cinta


__ADS_3

Detik itu, menit itu, takkan pernah mereka berdua lupakan tuk selamanya, abadi membeku dalam relung waktu.


Rey melepaskan helmnya, dan benar, ya, itu dia.


Di mata Joy yang 'berjumlah empat' itu, yang hampir ia kucek-kucek saking tak percayanya, di lensa kacamata dan matanya, terlukis indah sosok pemuda berkulit bersih, berambut hitam pekat, dengan sepasang mata sipit ber-iris kelabu kecoklatan berbinar-binar, melengkung ke atas bagai sepasang bulan sabit, berpadu dengan senyum manis tulus, penuh kegembiraan. "Ya Tuhan," Joy terpana, Rey tampak masih begitu muda,  baby-face, dan imut sekali. Tubuhnya langsing dan tak seberapa tinggi besar, namun entah mengapa, sulit sekali memalingkan 'keempat' mata ini darinya. "Aku suka, aku suka, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Astaga, pipiku memanas, tubuhku jadi lemas."


Sementara Rey kini melihat gadis yang ada di foto beramai-ramai waktu itu langsung berada di hadapannya, tomboy memang, rambut bob kecoklatan lurus pendek sebahu, berkacamata tapi tak berkesan nerd, melainkan smart. Wajahnya agak bulat kekanakan, keseluruhan tubuhnya serasi, berisi, dan edgy. "Inilah Joy yang kusukai, dan ya, aku menyukainya, lebih, lebih dari suka." Tak terlalu feminin dan tak seperti bangsawati-bangsawati kenalannya, sesuai idaman hatinya.


"Hai. Joy?" Suara rendah yang Joy suka sejak pertama kali mendengarnya di telepon itu, kini ia dengarkan secara langsung.


"Perkenalkan sekali lagi, namaku Rey. Rey The Rebel Prince." masih tersenyum, Rey sedikit bercanda, yang sebenarnya tidak. Joy tentu saja, belum mudeng, masih tak menganggapnya serius.


"Hai. Ya, ini aku." Suara Joy riang, sedikit terlalu tinggi karena gugup.

__ADS_1


Joy buru-buru mendekat, berdiri terpaku di depan pintu pagar. Mereka masih saling memandang bagaikan anak kecil menatap kagum ikan-ikan dalam akuarium untuk pertama kalinya.


"Ehh, aduh.. maaf maaf, aku bengong sampai lupa bukain pintu untukmu." Joy tersipu sendiri. "Kau mau masuk?"


"Kita langsung pergi saja?" Rey tersadar, sepasang mata lain sedang memperhatikan mereka dari balik kaca jendela rumah. Pasti Mama Joy.


"Oh, baik, Rey, uh, kuambil jaketku dulu."


Joy buru-buru membuka pintu pagar setelah mengenakan jaket, dan mereka kini betul-betul berdekatan nyaris tanpa jarak. Joy mengenakan blus lengan pendek merah bergaris putih, celana panjang dan sepatu kets saja, namun Rey tak berhenti jua menatapnya, sementara mereka masih terus tersenyum satu sama lain. Akhirnya, sang pemuda mengulurkan tangan, dan disambut Joy dengan tangannya yang sedikit berkeringat. Lama berjabat, seolah tak ingin melepaskan genggaman. Tangan Rey hangat, halus, kuat. Sedikit terlalu erat, nyaris menyakitkan, namun nyaman dan terasa aman. Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga Joy mesti berdehem karena mamanya masih menunggui mereka dari jarak tak seberapa. Mengawasi mereka bagai anjing herder yang curiga.


Rey tertawa kecil. "Peluk pinggangku juga boleh, daripada kau nanti jatuh."ujarnya sambil mengenakan helm kembali.


"Hati-hati kalian berdua." Mama Joy yang sudah datang mendekat untuk menutup pintu pagar akhirnya tersenyum juga. "Jangan pulang larut malam, jangan lupa nasihat-nasihat mama ya, Joy."

__ADS_1


"Cantik juga wanita setengah baya ini, masih awet muda." Rey sedikit tersipu. "Baik Tante, uh, Mama Joy, kami pergi dulu, saya janji akan jaga Joy baik-baik." sapa Rey ramah sekalian berpamitan. Joy tersenyum juga. "Ma, kami pergi dulu ya."


Rey sedikit grogi juga, walau ia percaya Joy kelihatan betul tertarik padanya. Apalagi saat gadis itu tanpa sungkan melingkarkan kedua lengannya yang kurus ke pinggang ramping Rey, sementara dadanya erat menempel ke punggung pemuda yang baru ia temui untuk pertama kali itu. Jantung Rey jadi berpacu makin kencang seperti putaran roda motornya saat mereka meninggalkan kompleks perumahan itu. Joy juga heran sendiri, biasanya ia malu-malu, kali ini malah malu-maluin! Tapi mereka berdua sungguh akrab, seakan sudah saling mengenal di kehidupan sebelumnya.


"Kita kemana? Kau suka minum kopi? Kita pergi ke mal yuk, duduk di kafe?" tanya Rey sementara memacu motornya pelan-pelan, ingin menikmati momen kebersamaan ini selama mungkin.


"Ya, aku setuju!  Aku suka kopi." sorak Joy.


"Kau senang gak, bertemu denganku?"tanya Rey lagi, sedikit malu-malu.


"Ya. Aku... senang sekali. Aku tak tahu harus bicara apa. Maaf aku gugup." dari tadi Joy tersenyum terus hingga bibirnya nyaris kebas. Ia begitu gembira hari itu. Rasanya ingin menari-nari di pinggir jalan, masa bodoh dikira orang gila! Tapi sisa hari ini masih panjang.. apa yang akan terjadi kemudian? Dan apakah Rey tetap akan seakrab ini sampai nanti?


Di lampu merah, saat mereka berhenti, tiba-tiba tangan Rey mencari tangan Joy, menggenggamnya erat-erat. Lembut. Hangat.

__ADS_1


Joy betul-betul bahagia. Inikah chemistry itu? Inikah rasanya tersengat arus listrik cinta itu?


__ADS_2