
Akhirnya semua keindahan dan kenangan di Pulau Cinta harus berakhir juga setelah semingguan Rey dan Joy berbulan madu. Rey memanggil kapal pesiar yang akan menjemput mereka pulang ke daratan utama Evernesia. Tak ada apapun yang mereka bawa kecuali memori indah yang hanya mereka simpan dalam hati saja.
Keduanya berkacamata hitam dan diam saja dalam perjalanan pulang membelah lautan yang tenang.
"Joy, jangan takut ya, tenang saja, Bila ada yang bertanya kepadamu, mohon jangan diladeni. Sebab hal itu sudah biasa terjadi. Santai saja. Aku akan hadapi semuanya sebagai suami yang baik."
"Ya, Rey, aku akan menahan diri. Semoga saja kita tak mendapat kesulitan."
Dan Rey sudah menduga sebelumnya, setibanya mereka di dermaga, tak ada lagi yang namanya privasi. Sudah menyemut fans-fans beratnya berikut wartawan. Nyamuk-nyamuk pers itu langsung memberondongnya dengan sejuta pertanyaan membabi-buta mengenai pernikahan dadakannya dengan Joy,
"Akhirnya Anda dan istri hadir kembali! Apakah Anda bersedia kami wawancarai dan memberikan klarifikasi mengenai apa yang terjadi di sebuah pulau di Evernesia?"
"Selamat atas pernikahan Anda, Yang Mulia. Satu pertanyaan saja! Apakah benar Anda menikahi Nona Joy karena Nona Joy diam-diam sudah, ehh, isi?"
"Kami turut berbahagia. Bila Anda tak keberatan menjawab, satu pertanyaan penting saja dari kami. Apakah Anda akan kehilangan gelar masa depan Anda sebagai Calon Raja Masa Depan Evertonia karena menikahi seorang gadis rakyat jelata dari negara kami?"
__ADS_1
Semua pertanyaan itu hanya dibalas dengan sederhana oleh Rey, yang lembut tersenyum ramah namun dengan cepat mendiamkan semua pertanyaan, "No comment, terima kasih."
Dan dengan berani Rey merangkul bahu Joy menembus kerumunan kuli tinta itu, menepiskan semua mikrofon, gawai dan alat perekam serta kamera-kamera video dan digital yang berusaha merekam mereka.
"Rey, REY !!! Kami tahu kau sudah menikah! Kami tak kau undang apalagi berfoto denganmu! Biasanya kau sangat ramah dan bersahabat. Kami keberatan bila kau menikah dengan Joy lalu jadi berubah begini!" beberapa perwakilan dari fans berat Rey datang juga mencegat mereka.
Rey tersenyum manis sekali, diam sejenak, lalu berkata tegas, "Sekarang sudah berbeda, sebab aku bukan lagi Rey yang dulu. Silahkan kalian tetap mengagumiku, tetapi aku tak akan jauh-jauh dari pasangan hidupku."
"Rey, kami.. ah, kami hanya ingin agar kau tetap seperti dulu, kami.."
Rey dan Joy segera masuk ke dalam limo yang menjemput, langsung meluncur ke rumah Rey, tanpa banyak bicara lagi kepada siapapun.
"Rey, apa tak apa-apa bila kau bersikap begini?" Joy jadi sedikit khawatir pada perubahan sikap Rey yang dulu dikenal ramah pada wartawan dan penggemarnya.
"Ya, kita pulang dulu saja dan menenangkan diri dahulu di rumahku."
__ADS_1
Akhirnya Rey dan Joy tiba di rumah mungil Rey yang serba minimalis tapi telah tertata manis. Rey telah mempersiapkan segalanya termasuk ruang tidur utama mereka. Ranjang baru, empuk dan mengundang.
"Selamat datang, mulai sekarang, mulai hari ini dan seterusnya, inilah pondok cinta kita berdua. Maaf, mungkin tak semewah istana Evertonia, tetapi kita akan bersama-sama memulai hidup baru di sini," Rey menaruh tangannya di bahu Joy. "Sekarang kita mandi dan beristirahat dulu seharian yuk. Besok, kita berangkat ke Evertonia. Pertarungan final menanti kita."
"Uhh, aku takut. Apa yang akan terjadi, akankah kita disuruh berpisah?"
"Aku takkan membiarkan apapun terjadi pada kita!" Rey memandang mata Joy, dilepaskannya kacamata hitam yang menutup mata Joy, "Sekarang bebas pakai kacamata biasamu lagi. Tapi kita berendam dulu yuk di bathtub."
"Uhh, berdua?" pipi Joy jengah.
"Ya, masa dengan istri sendiri gak boleh mabar, mandi bareng, terus juga lanjut main bareng?" mata sipit Rey berkedip sebelah.
"Uhh.." Joy merutuk sebal. Rey selalu berhasil menggodanya, wajahnya dari merona pink berangsur memerah seperti udang rebus.
Keduanya bergegas masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Lalu apa yang terjadi di baliknya, hanya pasangan pengantin baru itu saja saja yang tahu.
__ADS_1