
Semalaman itu Shuai Tian tidur dengan kegelisahan yang tidak seperti biasanya. Ia bingung apakah harus senang atau malah takut karena tidur tepat di sebelah sarang Naga Wanita yang akan jadi target sasarannya.
Sebenarnya 'sih gampang banget kalau cuma mau mencari cincin yang Pangeran Rey maksud. Memang 'sih Shuai Tian seumur-umur belum pernah jadi maling, tapi karena tetangga kost itu ibarat rumah beda kamar doang, tentunya saat Xiao Jie pergi, ada beragam cara untuk Shuai Tian menyelinap ke dalam, entah dengan mengorek kunci pintu atau jendela belakang kamar kost atau mencari kelemahan lainnya, yang jelas bisa menyelinap dengan mudah dan pulang secepat mungkin. Pemuda itu tahu di kost-an murah ini tak ada CCTV jadi semuanya akan aman-aman saja!
Tapi, Xiao Jie sangat lihai, jadi mungkin sekali ia punya CCTV pribadi, namanya juga Sultan Lokal Everiental! Dan Shuai Tian bahkan tak pernah mengambil sebutir permen atau secuil makananpun saat ia masih diasuh oleh Panti Asuhannya, karena ia seorang yatim piatu. Makanya Shuai Tian begitu lulus sekolah, lebih memilih ikut kursus memasak dibanding kuliah atau melakukan hal lain. Dan ia tumbuh menjadi pribadi yang sangat menghargai nilai sebutir nasi sekaligus mahir dalam mengolah rasa.
Dan setelah berpikir semalaman, Shuai Tian pagi-pagi melapor lagi kepada pasangan Rey dan Joy yang masih berada di hotel dalam rangka bulan madu mereka (yang kali ini masih di hotel saja dan tak berkeliaran kemana-mana karena sedang ingin menunggu aksi Shuai Tian).
"Astaga, Pangeran Rey! Ternyata Naga Wanita itu..." Shuai Tian, yang sudah berseragam kafe, melapor pada Rey dan Joy yang sedang duduk berjemur di kursi kolam renang dengan cueknya. "Ia sempat mampir di kafeku untuk makan, lalu malam harinya..."
__ADS_1
"Hmm, kau bilang Xiao Jie tinggal di sebelahmu? Malah jadi sangat mudah! Tapi untuk sementara jangan sampai ketahuan dulu kau tinggal di sana! Dan sebaiknya, saat kau nanti bertemu dengannya, langsung mengaku sebagai diriku saja!" usul Rey dengan bersemangat. Lalu dibisikkannya sesuatu, dua buah atau lebih kalimat rencana rancangannya dan Joy ke telinga kembarannya itu.
"Maksud Pangeran Rey, aku harus mendatanginya saat ia hendak pulang seolah-olah berpapasan dengannya lalu ingin melepas rindu?" wajah Shuai Tian spontan memerah muda alias merona pink bagaikan buah persik.
"Iya, Xiao Jie sepertinya masih sangat suka dan sayang dan cinta dengan Pangeran Rey," Joy bernada sedikit cemburu saat mengatakannya, "Jadi ia takkan pernah bisa menolak pesona Pangeran Rey dan akan menerimamu dengan begitu mudah!"
"Betul juga 'sih, pasti Xiao Jie takkan pernah akan menyangka bila aku bukan aku melainkan dirimu! Hanya saja, kau harus sangat berhati-hati dan segera pergi begitu mendapatkan cincinnya." tambah Rey lagi.
"Iya, hanya rayu-rayuan kecil dan ajak dia minum bir saja atau apapun yang dia suka, lalu begitu dia lengah, cari cincinnya dan keluar dan tugasmu selesai!" Joy meyakinkan pemuda jones itu, bahkan meremas lengannya sedikit untuk menambah motivasinya. "Kau pasti bisa, karena kau sebenarnya punya daya tarik tersendiri soal rasa! Tadi kau bilang ia datang ke kafemu dan akan datang lagi? Berarti ia sebenarnya sudah jatuh cinta pada masakanmu!"
__ADS_1
Syukurlah Shuai Tian hanya memiliki darah merah dan bukan darah biru, karena kata-kata Joy itu membuatnya lebih merah lagi seperti hampir terbang ke langit ketujuh!
Pagi itu ia langsung ke kafe untuk memulai pekerjaan sehari-harinya. Dari jauh saja, si pemuda jones kembaran Rey sudah melihat deja vu lagi, hampir seperti kemarin, hanya saja kali ini ia telah memakai kacamata hitamnya.
Xiao Jie !!!
Uhh, tenang, Shuai Tian... Ujarnya kepada diri sendiri. Kau bisa, kau pasti takkan ketahuan bila mirip Pangeran Rey, sebelum kau benaran nanti jadi Pangeran Rey!
Ia berdeham dan berusaha agar suaranya tak mirip-mirip amat dengan suara Rey.
__ADS_1
"Selamat pagi, Ma'am. Ada yang hendak Anda pesan hari ini?" Shuai Tian memberikan Buku Menu kepada Xiao Jie yang duduk di meja yang sama seperti kemarin.
"Tak perlu Buku Menu! Masakkan saja masakan terbaikmu sesuai seleramu sendiri yang ingin kau hidangkan kepadaku hari ini! Dan aku harus melihatnya! Aku harus ikut ke dapur bersamamu!"