
Xiao Jie kali ini tak langsung mengungkapkan bagaimana kesannya pada nasi goreng Everiental buatan koki Shuai Tian.
Tapi ia bisa merasakan bagaimana nasi yang hangat dan wangi itu membuatnya terkenang pada masa-masa dimana almarhumah neneknya yang juga suka memasak selalu membuatkannya nasi goreng yang hampir sama rasanya untuk sarapan.
"Jangan menyia-nyiakan sebutir nasipun! Karena petani sudah menanamnya dengan susah payah dan diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan segenggam beras, bahkan hingga sekarang pun bekerja keras masih diibaratkan 'mencari sesuap nasi' bagi mereka yang kesusahan untuk memperoleh cukup makanan. Jadi nasi lama tak Nenek buang, harus dihabiskan atau dimanfaatkan kembali!" demikian oceh nenek Xiao Jie sambil mengolah nasi itu menjadi masakan sederhana kesukaan Xiao Jie hingga saat ini.
Xiao Jie segera menghabiskan nasi goreng Shuai Tian itu dengan penuh rasa haru.
"Aduh, Koki Shuai Tian! Kau terlalu luar biasa dan berbakat, kalau saja semua ini sudah berakhir, kau ikut aku saja kembali ke mansion-ku untuk menjadi juru masak pribadiku!"
Xiao Jie tampak begitu gembira dan terburu-buru menghabiskan semuanya hingga piringnya nyaris licin, mungkin bila tak ada orang lain, sudah ingin dijilatnya piring itu!
"Mau ya, ikut aku ke mansion-ku?"
Ehhhhh...??? Shuai Tian terbengong.
__ADS_1
"Tapi, tak bisa sekarang." Xiao Jie kembali jual mahal. "Aku sedang dalam, eh, misi rahasia. Aku tak ingin siapa-siapa juga, termasuk raja yang sebenarnya hanya suami-suamianku itu! Kuharap aku bisa segera berpisah atau membatalkan pernikahan kami karenaaaa... aku tak pernah diapa-apain olehnya!" Xiao Jie dalam ocehannya diam-diam curcol, membuat Shuai Tian terkejut dengan pengakuannya yang dadakan itu.
"Anda, oh, bukan istri raja yang dulu dilamar dan segera dinikahi karena cinta? Saya sungguh tak percaya." Shuai Tian masih berusaha agar nada suaranya berbeda dengan Rey.
Xiao Jie minum segelas teh dingin segar sebagai penuntas makan siang, membetulkan lipstiknya dengan kaca lipat kecil, lalu tersenyum puas sambil membuka dompet.
"Cukup kau saja yang tahu ya, Koki Shuai Tian! Awas jangan bocorkan kepada wartawan atau sosmed ya! Nih, kubayar nasi gorengnya, seperti kemarin. Tak usah ada kembalinya, untukmu saja!"
"Ba, baiklah, terima kasih!" Shuai Tian membungkukkan badan dalam-dalam.
Dan bukannya aku ge-er atau merasa bagaimana, kok Xiao Jie sepertinya semakin akrab saja denganku? Duh, belum lagi pas tadi dia bilang belum pernah diapa-apain oleh raja yang notabene adalah suaminya. Kok dia bilang suami-suamian 'sih? Masa sudah nikah bertahun-tahun Xiao Jie masih belum pernah ninuninu sama sekali, tak mudah dipercaya! Tapi bisa jadi benar, karena Xiao Jie dan raja belum juga punya anak hingga sekarang.
Shuai Tian menunggui kafe hingga menjelang pukul sembilan, seperti biasa kafe tutup setelah tamu terakhir menyelesaikan makan malam terakhir.
Dan malam itu Shuai Tian hampir lupa bila Xiao Jie mungkin belum kembali ke kamar sewaannya, sehingga ia harus memastikan bila mereka takkan pernah berpapasan.
__ADS_1
Duduk menunggu di balik pohon, ia mengintip, memang lampu kamar Xiao Jie belum dinyalakan!
Mesti ditunggu atau aku masuk saja ke kamarku dan membiarkan dia hari ini, mencoba besok saja? Tapi hari ini belum ada hasil apa-apa, nanti Pangeran Rey kecewa!
Minimal aku harus berhasil memotretnya secara diam-diam sebagai bukti bila aku benar-benar menemukannya dan ia benar-benar tinggal di sini!
Akhirnya Xiao Jie yang ditunggu-tunggu muncul juga! Seperti biasa, ia pulang belanja, kali ini dibelinya segala macam bahan makanan dan minuman, barangkali ingin belajar memasak?
Putri Xiao Jie meletakkan belanjaan seabrek-abreknya di lantai dan merogoh tas mahalnya, mencari kunci kamar kost.
Shuai Tian segera mengambil ponsel, bermaksud hendak memotret Xiao Jie secara candid. Jepret....
Tapi ada hal yang ia lupa. Lampu flash ponsel!
"HAH ??? Siapa di sana?"
__ADS_1