
Di sebuah ruangan dalam istana Evertonia, di sebuah menara tinggi dengan balkon menghadap ke pelataran utama.
Aku akhirnya tiba kembali di sini setelah lebih dari dua puluh tahunan silam diusir dengan begitu tiba-tiba. Terpisah dari semua yang kucinta. Suami dan anakku yang masih bayi.
Tanpa harta dan tempat tinggal tetap, aku hidup terlunta-lunta di negeri seberang. Hingga kuputuskan untuk diam, tenang, mencoba memaafkan semua yang menyakitiku dan memulai hidup baru dari nol. Tapi tetap saja, seorang ibu takkan pernah bisa lupa pada putra yang dilahirkannya.
Rey hadir lagi saat Royal Games. Dan ia menyatakan cinta pada Joy. Sama seperti dulu Friedrich menyatakan cinta padaku. Bukan kehilangan harta yang kusesali, bahkan aku tak perduli pada cinta lama pada ayah anakku. Yang kuinginkan sederhana; diizinkan bertemu kembali dan memeluk anakku, lalu aku akan kembali menghilang seperti dahulu.
Ada apa itu? Sepertinya sebuah kendaraan penjemputan mendekat. Sedan mewah. Tamu kerajaan? Tapi tak ada iringan pengawalan maupun polisi.
Aku berlari ke balkon dan menjenguk ke pelataran nan jauh di bawah sana.
Astaga. Seseorang keluar dari pintu belakang sedan itu, dibukakan pengawal.
"Ms. Mayvelina,"
Aku hendak melihat lebih lama lagi, tapi seseorang di luar kamarku mengetuk pintu dan memanggilku.
"Ms. May, Anda dipanggil menghadap Yang Mulia sekarang juga."
__ADS_1
********************
Tak lama kemudian seorang wanita berambut bob pirang dikawal dua penjaga segera tiba di hadapan Raja Friedrich. Ia mengenakan gaun merah kerajaan yang anggun bagaikan seorang ratu, hanya saja tanpa mahkota, sebab ia tak berhak menerima gelar itu.
"Mayvelina, Mayvelina-ku yang cantik jelita, bidadari yang jatuh dari langit di kebun mawar Evertonia, yang hingga sekarang masih begitu mempesona." terdengar suara rendah Friedrich, hampir seramah nada suara Rey.
"Di mana Rey? Kau membawaku kembali kemari karena kau berjanji akan mempertemukanku dengannya. Jangan apa-apakan anakku! Ia satu-satunya milik kita."
Raja yang sedari tadi berdiri tegap memunggungi tahta perlahan berbalik.
May terkesiap. "Friedrich." matanya mulai berkaca-kaca. Masih seperti dulu. Sangat mirip dengan Rey, kecuali beberapa lembar uban telah hadir di sela-sela rambutnya.
"Penjaga! Tinggalkan ruangan ini!" titahnya sambil melambai kepada semua yang ada kecuali mantan istrinya.
Setelah semua pergi dan menutup pintu, Friedrich mendekati May.
"Selamat datang, Mawar Liarku. Rambutmu tak lagi panjang terurai, tapi aku suka..." dicobanya untuk mendekati May untuk menyambutnya, ke dalam sebuah pelukan. Tapi spontan May menjauh. Ditepiskannya tangan Friedrich yang hendak membelai rambutnya.
"Uh, maafkan aku, Yang Mulia. Kita bukan lagi suami-istri yang sah dan juga tak ada lagi cinta di antara kita. Jadi, kumohon, jangan coba sentuh aku lagi."
__ADS_1
Walaupun May sesungguhnya masih merindukan figur Friedrich yang dulu sangat ia kagumi, khususnya karena sebetulnya ia raja yang sangat berwibawa pada masa mudanya. Namun lagi-lagi rasa sakit hatinya karena diceraikan membekukan rasa cinta itu.
"Baiklah. Aku juga tak mungkin lagi ingin bersama dirimu. Sekarang, ada satu permintaanku bila kau ingin bertemu dengan putra kesayanganmu lagi. Ya, ia telah ada di sini, dan akan kuhadirkan ke hadapan kita hanya apabila kau menuruti permintaanku."
Raja Friedrich tersenyum penuh rasa yakin akan kemenangan absolut di depan mata.
"Dan ini sebuah order, bukan request. Atau lebih tepatnya, sebuah command." tambahnya.
"Katakan saja, jangan buang-buang waktuku." May tak ingin berlama-lama.
"Katakan kepada Rey nanti, bila dia ingin kau tetap berada di sisinya, ia bisa juga memiliki apapun yang ia inginkan. Bila perlu, ada bonus spesial yang kutawarkan. Mumpung aku sedang baik hati.
Kau mau keluarga yang utuh? Kita bisa menikah lagi dan Rey segera naik tahta menggantikanku. Tapi tentu saja ada syaratnya. Rey milik kita, tanpa Joy.
Sebab memang tak perlu menambah bunga liar nan buruk rupa lagi di vas bunga kerajaan kita."
Mayvelina terdiam. Bagaimana mungkin? Apa yang harus aku lakukan? Aku dan Joy bernasib serupa. Tak mungkin kupintakan hal ini kepada Rey. Hati putraku akan begitu tersakiti.
Antara ibunda atau gadis yang dicintai, betapa beratnya bila harus memilih...
__ADS_1
Sementara May masih berpikir keras, tiba-tiba terdengar suara pria muda rendah yang begitu familiar di ujung ruangan, di balik sebuah pilar, entah sejak kapan ia telah berada di sana.
"Ayah, ibu, aku pulang, aku di sini..I'm home."