
Rey sudah menduga, momen seperti ini akan terjadi. Ia dan Joy sudah membahas setiap skenario, setiap maksud Elsa, termasuk yang ini. Sebuah kemungkinan terburuk.
Bisa saja Rey langsung menolak. Bisa saja Rey berdiri, angkat kaki sebelum berkata tegas, "But I don't love you. Sorry, good bye." Dan selesai.
Tapi cara itu sungguh tak elegan. Lagipula, betul kata Joy, Elsa itu seorang putri. Walaupun ia tak berkuasa di sini, akan tetapi di negaranya ia putri raja sungguhan, dan hubungan diplomatik Evertonia dan Eversnow akan memanas apabila tersiar kabar akan hal penolakan menyakitkan ini.
Ayahanda Rey akan marah besar, bayangkan, belum direstui saja sudah cukup dianggap melawan karena berani pacaran melanggar undang-undang, apalagi sekarang seorang putri sungguhan sudah menaruh hati. Bisa jadi Rey akan langsung dipingit bak keturunan raja jaman dahulu. Gak lucu bukan, kalo ada pangeran dikurung di menara, adanya juga istilah bule damsel-in-distress, bukannya prince-in-distress alias putra mahkota dalam lara?
Rey mencoba untuk tetap tenang. Diam seribu bahasa, memberikan senyum termanis dan tatapan mata terteduh, yang selalu membuat cewek geregetan.
__ADS_1
"Begini ya. Janji, aku takkan mengatakan No atau tidak. Dengarkan dulu, inilah gambaran perasaanku terhadapmu." ujarnya perlahan-lahan dan hati-hati.
Ya, ya, ya, lanjutkan. Iblis di bahu kiri Elsa menari-nari kegirangan, ia tahu Rey akan menjawab Yes atau iya pada akhirnya.
"Elsa sungguh gadis cantik yang sempurna, baik hati, manis dan dibutuhkan semua orang. Sangat disukai, sangat istimewa, sangat penting. Ibarat bahan makanan dan minuman utama di dapur ini," Rey mengambil sebuah guci kecil di meja berisi gula untuk minuman, "Seperti gula yang penting dan manis ini."
Hati Elsa berbunga-bunga. Ia bilang aku manis seperti gula? Oh so sweet. Berarti ia juga menyukaiku. Sudah kuduga Rey akan menyukaiku dan meninggalkan Joy.
"Kurasa sih gula bukan favoritku, walaupun ia penting dan manis, jadi, dengan ini kuletakkan saja guci gula ini, dan menghabiskan kopiku tanpa sebutirpun pemberi rasa manis ini." Rey menyelesaikan minumannya dan berdiri. Dipanggilnya waiter dan diberikannya uang pembayaran plus tip.
__ADS_1
"Selesai sudah jawabanku, dan tak satupun kuucapkan kata NO atau TIDAK, bukan?"
Elsa terperangah. Astaga. Betapa luar biasanya permainan perumpamaan Rey. Ia diangkat tinggi-tinggi dulu, dibilang manis dan penting, namun pada akhirnya dikembalikan ke atas meja kopi tanpa digunakan sama sekali. Tidak dibanting tapi diletakkan saja. Tak pakai kata tidak.
"Tapi, masa sekalipun seumur hidup kau tak pernah minum kopi manis atau makanan manis, pasti anyway kau masih butuh asupan gula kan?" ia masih berusaha menahan Rey.
"Oh, tentu saja. Tapi semua orang memiliki favorit dan pilihan masing-masing. Terhadap rasa, sayangnya, manis bukanlah pilihan utamaku."
Uh. Oh. Wajah Elsa memerah. Ia ikut berdiri. Tapi ia tak ingin kelihatan marah-marah apalagi dalam dandanan seanggun ini, jadi ia berusaha untuk tetap bersikap semanis gula, "Baiklah, jadi kau saat ini tak butuh gula, tapi percayalah suatu hari nanti kau akan merasakan keinginan mencicipi manisnya seseorang seperti diriku. Aku pergi sekarang, tapi kau tahu perasaanku, dan aku akan tetap menunggumu." ujarnya berbisik mesra di dekat telinga Rey.
__ADS_1
"Ketahuilah, Joy itu begitu polos dan hambar, tak istimewa sepertiku. Bila kau sudah bosan dengan yang hambar-hambar, datanglah padaku..."