
"Rey !!!"
Kedua orangtuanya, Raja Friedrich dan Ms. Mayvelina, memandang sosok putra semata wayang mereka yang memunculkan diri dari balik pilar. Rey berseragam kerajaan putih, sangat tampan bersinar. Semua mata terpukau bagai tersilau memandang matahari, terutama Mayvelina.
Anakku...
"Sedari kapan kau ada di sana? Aku tak melihat kau telah datang. Seperti pencuri saja, tak lewat pintu utama!" Raja sedikit gusar, namun diam-diam kagum juga pada keahlian putranya menyelinap.
"Tak penting, Yang Mulia. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan ibuku."
Rey...
Mata cokelat muda May sedari tadi sudah berkaca-kaca. Air matanya nyaris tumpah.
Putraku, kita berjumpa kembali.
"Rey, kau datang juga. Ma, ma, maafkan aku.. selama ini, aku, aku.." May terbata-bata sambil mengusap air mata yang mulai menggenangi pelupuknya.
"Ibunda." Rey tak langsung mendekat. Ia betul-betul ibuku. Orang yang melahirkanku, yang kurindukan selama ini. Tapi ia sekarang masih seseorang yang asing bagiku. Haruskah aku menjaga jarakku dahulu, sebab aku tak yakin pada motivasinya.
__ADS_1
Ia hadir gegara ingin uang atau hartakah, ingin terkenal atau viralkah?
Ia datang karena alasan apa, bahkan aku tak tahu jelas maksud kehadirannya tiba-tiba setelah dua puluh tahun meninggalkanku?
Tapi Rey tersadar, ibunya dalam sosok Sepupu Lyn pernah berkata "Tak bisa bukan karena tak ingin. Akan tetapi karena mereka berdua tak boleh bertemu."
Jadi...
"Ibu..." Rey akhirnya berjalan ke arah ibunya. "Aku yang seharusnya minta maaf. Kelahirankulah yang membuat hubungan kalian terbuka dan Ayah terpaksa menceraikan ibu karena tak mampu lagi menutupi pernikahan kalian. Aku bahkan tak mengenalimu, karena begitu minimnya naluriku sebagai seorang anak. Ibu, maafkanlah aku yang sedari dulu tak mencarimu."
Rey dan May kini berhadap-hadapan. Tiba-tiba pemuda itu mendekap mesra ibundanya.
Kedua lengan Rey memeluk ibunya yang sedikit lebih mungil. "Bu, kubawakan anting-anting mawar emasmu."
Diberinya sedikit jarak dan dipasangkannya anting-anting itu di telinga May. Indah sempurna, berkilau di bawah sinar lampu-lampu kristal ruang tahta.
"Wah wah wah wah, sungguh pertemuan yang sangat amat mengharukan. Reuni keluarga Friedrich dari Evertonia." Raja bertepuk tangan tiga kali, sedikit pelan dan keras seakan menyindir.
"Tapi ini hanya sebuah awal, icip-icip, test drive. Jadi belum deal." tambahnya sambil mendekatkan diri pada Rey, memberinya jarak antara May sehingga tak bisa meraih sang ibunda lagi.
__ADS_1
Kedua pria berdarah biru itu berhadap-hadapan, nyaris seperti kembar, hanya warna rambut yang berbeda serta tatapan mata sipit mereka. Milik Rey masih menyorot hangat, sementara Friedrich membalasnya sedingin es.
"Aku kemari memang ingin membahasnya dengan Ayahanda Yang Mulia." Rey mulai berkata-kata dengan suara rendah dan sesabar mungkin.
"Aku tahu semuanya, permintaanmu agar aku berpisah dan melupakan Joy. Membuat keputusan apakah aku akan memilih Ibunda dan kembali bersama kalian di sini. Aku tahu, aku memang anak yang kurang berbakti."
"Jadi bagaimana, akankah kau setuju, karena yang kutawarkan kepadamu adalah pilihan terbaik sedunia." Friedrich masih merasa di atas angin.
"Kau sudah memperoleh segalanya dariku.
Aku memeliharamu sendirian selama kau lahir, hingga kau melarikan diri pun aku masih menunggu kepulanganmu.
Aku mencintaimu, Putra Tunggalku."
Ucapan Raja Friedrich tak seperti hal yang diharapkan Rey.
"Ya, Ayah. Tapi ada sebentuk cinta yang tak mampu kau berikan."
Raja terhenyak. Apa???
__ADS_1