
Joy diam saja, dingin. Oh, jadi Rey dadakan datang diam-diam di hari biasa begini. Mau apa dia, apakah ia curiga padaku?
"Joy?' Rey memanggil sekali lagi. "Kau sedang sakit? Kau lelah? Kelihatannya kau sedang resah. Kedatanganku mengganggumu? "
"Tidak, tidak. Aku gapapa." Joy berusaha tersenyum, tapi kaku. "Aku agak terkejut saja, selama ini kau susah dihubungi."
"Maaf, aku juga sedang sibuk." Rey sedikit terbawa suasana, jadi kaku juga.
"Kita jalan sekarang?"
"Ayo." Joy menyahut malas, sedang tak berminat.
Lalu mereka naik sepeda motor ke mal terdekat, namun sepanjang jalan Joy tak memeluk pinggang Rey seperti biasanya. Hanya berpegangan sebelah tangan pada besi di jok belakang. (Duh, Joy, kok jadi kayak boncenger ojek online?)
Rey masih diam saja. Demikian pula ketika masuk mal, Joy enggan digandeng. Malah keduanya berjalan sendiri-sendiri. Rey asyik membaca komik online sedangkan Joy masih mengulik iklan lowongan kerja.
Mereka betul-betul nyaris hanya berdiam diri sepanjang kencan dadakan itu. Bahkan gadis-gadis pengunjung mal yang sempat mengenali Rey sebagai Pangeran Negeri Jiran yang jadian dengan gadis Evernesia pun ikut kepo mengintip dari jauh, "Tumben, Rey kok diam saja saat kencan bareng si Joy itu."
"Jangan-jangan mereka mau putus,"
__ADS_1
"Iya ya, kok enggak semesra di siaran TV Royal Game kemarin itu ya?"
"Jangan-jangan setting-an,"
Rey diam saja walau tahu mereka sesekali ditonton orang lewat. Mereka lalu pergi makan, nonton, terus pulang. Tapi tak ada mesra-mesraan. Hampir tak bicara pula!
"Selamat malam, Rey."
"Selamat malam juga, Joy."
"Hati-hati."
Lalu Rey pulang begitu saja. Tak ada mwah mwah. Tak ada kata love you.
Joy baru tersadar. Kok kali ini kencan mereka kaku benar. Apa sih yang salah?
Apakah Rey betul-betul ingin memutuskan diriku? Apakah ia sudah bosan padaku?
Joy menangis di bantal diam-diam dalam sepinya malam. Bingung harus berkata atau berbuat apa. Lama baru ia bisa terlelap.
__ADS_1
Sementara Rey di rumahnya juga bingung.Tadi ia gembira saat melihat Joy. Tapi Joy tidak, tuh. Apakah Joy diam-diam sedang pedekate alias pendekatan dengan cowok lain di kampusnya saat mencari kerja? Apakah Joy tak suka ia diam-diam datang, seolah sedang diinspeksi?
Rey belum pernah merasakan hal aneh seperti ini. Ia tahu Joy di sana sedang bermasalah, tapi apa? Mengapa Joy tak mau juga bercerita?
Tidakkah Joy rindu padaku? Apakah statusku terlalu tinggi baginya hingga ia merasa begitu terbebani dengan hubungan kami ini?
Rey tak bisa tidur nyenyak juga. Ia jadi kesal pada dirinya sendiri. Mungkin ia besok harus datang lagi dan berusaha memperbaiki. Tapi mulai darimana? Dan bagaimana bila Joy masih bersikap sedingin ini?
Bagaimana bila Joy malah marah? Ia sangat mengerikan bila marah, ngamuk parah dan muncul kata-kata mengerikan. Seperti singa betina sakit gigi saja. Tapi Rey kangen suaranya. Walau Joy tak selalu bisa manis ceria, Rey tetap kangen.
Ya, besok pagi aku akan datang lagi! Aku gak perduli.
Sementara paginya, Joy terbangun dalam galau. Tidurnya semalam tak nyenyak. Joy masih berharap Rey tak sekaku itu. Kok bisa-bisanya ia kemarin berubah total hingga terjadi kencan paling dingin sepanjang hubungan mereka.
Joy belum membuka ponsel. Ia ragu, sebab semalam Rey tak ia hubungi untuk menanyakan "Sudah sampai di rumahmu belum?" seperti yang biasa ia lakukan.
Duh Rey, aku rinduuu !!!
Tiba-tiba ponsel Joy berdering. Sebuah email masuk. Dari rey@evertonia.com.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Jangan-jangan... email pemutusan hubungan cinta?