
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Joy mengikuti Rey ke kampus dan mereka segera masuk dan bersembunyi di pojok perpustakaan tepat sebelum Ms. Mei datang. Wanita itu masih berkacamata hitam, dan buru-buru membenahi buku-buku yang berserakan di atas meja panjang sebelum para mahasiswa datang untuk membaca dan meminjam buku.
"Kok sepertinya aku kenal ya, atau punya suatu firasat aneh tentang dia. Deja vu atau apa gitu," bisik Rey sedikit dreamy.
"Jangan bilang dia dan kamu saling menyukai atau berjodoh ya. Umurnya sudah hampir kepala lima, cocoknya jadi ibumu." timpal Joy sedikit cemburu dan kesal, sedikit terlalu keras.
Ms. Mei seperti mendengar, sempat menoleh, tapi enggan berjalan ke arah mereka, masih belum menyelesaikan tugasnya
"Ssshh.. jangan berisik, nanti Ms. Mei tahu ada kita di sini." Rey malah buru-buru membungkam Joy dengan satu kecupan dadakan di bibirnya.
"Uhhhhhhmm.. Rey!" wajah Joy memerah, disebutnya nama Rey setelah megap-megap sedikit mengambil napas. "Apa-apaan sih."
"Makanya diam. Nanti kutambah lho kalau kau berisik." Rey melepas bibirnya sedikit deg-degan dan pipinya ikut merona.
Ms. Mei kembali duduk di belakang counter. Beberapa mahasiswi masuk perpus sambil mengobrol pelan.
__ADS_1
"Duh, jangan sampai mereka cari duduk di dekat kita." harap Rey cemas.
Tapi sayang sekali, cewek-cewek itu menuju ke arah Rey dan Joy dan tentunya segera duduk di dekat mereka.
Rey tadinya hendak meraih satu buku besar dan menutupi wajah mereka berdua di baliknya, tapi tiba-tiba ponsel Joy berbunyi keras.
"Aduh, ada telepon masuk dari Bos Bee, lupa aku silent!" rutuk Joy sambil menekan tombol tolak.
"Ah, maaf, Nona, di perpustakaan harap matikan ponsel." Ms. Mei segera melaksanakan tugas menegur dan menghampiri Joy, sementara Rey pura-pura membuang muka.
"Wah wah wah! Lihat! Ada Pangeran Rey !!!"
Astaganaga !! Ternyata mereka cewek-cewek fans garis keras Rey dan Joy. Keduanya baru hendak berdiri menghindar ingin keluar dari perpus sebelum terjadi meet-and-greet dadakan. Tapi anehnya, Ms. Mei yang malah buru-buru berbalik.
"Eh, Ms. Mei, tung... gu..." Rey berusaha mengejarnya, ingin segera tahu kebenaran dan sekaligus sedikit curiga kenapa wanita itu kabur begitu mendengar nama Pangeran Rey.
__ADS_1
Kedua pasangan kita berusaha mengejar Ms. Mei, namun wanita itu ternyata masih cukup gesit. Ia keburu menghilang di tengah-tengah kerumunan mahasiswa yang baru datang dan kumpul-kumpul di lobi kampus.
"Aku jadi tambah curiga." Rey sedikit kesal juga karena belum berhasil mengetahui wanita misterius itu.
"Mata-mata ayahanda rajamu setelah kita berhasil menjadi model dadakan?" duga Joy.
"Tapi caranya mengamatiku seperti seseorang yang takut aku akan mengungkap kedoknya. Bukan seperti orang yang ingin mengapa-apakanku. Seperti mengawasiku tapi tak ingin berkomunikasi denganku."
Joy tahu kadang Rey memang suka berpikir abstrak, namun hari ini ia sungguh-sungguh berkhayal jauh ngelantur bahwa Ms. Mei itu seseorang yang tak ia kenal sebelumnya tapi begitu penting.
Uh, cemburukah aku? Batin Joy. Mungkinkah Ms. Mei ini sungguhan di sini untuk mengamati Rey atau hanya fans biasa?
Joy tahu, Ms. Mei takkan pernah mau dikonfrontasi begitu saja. Ia harus diselidiki, tetapi mulai dari mana?
Mungkin dari pihak kampus Rey, tempat ia bekerja, ada yang tahu?
__ADS_1