The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5

The Prince & I : Sang Pangeran & Aku Season 1 - 5
Padang Lavender


__ADS_3

"Kalian mau apa dariku?" tanya Joy, berusaha untuk tetap tenang, tak terprovokasi.


Di-bully, ia sudah biasa. Di sekolah dahulu, saat ia masih begitu polos dan nerd, teman laki-laki tak ada yang suka padanya, jadi ia begitu sering diejek : kutu buku, profesor, mata empat. Bukan tipe cewek favorit semua cowok.


Tapi kali ini dua putri cantik yang seharusnya begitu baik hati seperti putri Disni, malah berubah menjadi malaikat bertanduk. Hanya tak bersayap dan berbuntut iblis.


Joy bisa mencium aroma permusuhan yang begitu anyir, yang tak mudah untuk dilawan begitu saja atau diabaikan.


"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya dalam hati.


"Jauhi Pangeran Rey, Putri Asing. Kau tak bisa mengambilnya begitu saja." Putri Chelsea berbisik perlahan di telinga Joy disertai napas sewangi bunga namun dengan nada sebusuk sampah. "Pangeran Rey adalah teman masa kecilku, cinta monyetku, kami pernah kencan saat SMU. Jadi tentu saja aku menang banyak di matanya, kami bahkan saling mengenal sampai sedekat-dekatnya, seakrab-akrabnya, sedalam-dalamnya."


Dan Putri Velove menambahkan, "Merekalah calon raja dan ratu masa depan yang ideal."


Putri Chelsea mendekat lagi, dicengkeramnya lengan Joy sekuatnya dengan kuku-kuku jari palsunya yang berkuteks norak mengkilap hingga kulit Joy nyaris luka. Sakit, namun Joy tak kuasa melepaskan.


"Ingat itu baik-baik. Kau tak punya kesempatan. Bila kau nekat, kami takkan segan memberi pelajaran berharga untuk kau bawa pulang ke Outer Evertonia."

__ADS_1


Ha - ha - ha - ha - ha.


Dengan tawa paling jahat, menakutkan dan menusuk-nusuk telinga, keduanya segera berlalu dari ruangan. Meninggalkan Joy yang masih deg-degan dan berusaha untuk tetap teguh. Walau ia sendirian. Walau ia merasa ada beban begitu berat di bahunya.


"Rey, kok tega-teganya kau memberiku ujian begini berat?"


Joy tahu, cara mereka ini adalah satu-satunya peluang dimana seluruh dunia akan tahu mereka saling mencintai. Dimana jika ia menang, takkan ada yang berani memisahkannya dari Rey, meskipun nanti akan ketahuan status keputriannya, atau tidak.


"Rey, apa yang harus kulakukan?"


"Jangan menyerah, Joy." tiba-tiba Yin dan Yang datang entah dari mana, memberi kekuatan. "Kau sudah hebat sekali tadi, kau tahu Rey lebih dari siapapun, di luar sana, telah kau berikan jawaban yang benar, dimana semua orang lain terlalu jauh berpikir dan tak menyadarinya."


"Ya. Kami tahu, putri-putri lainnya tak ada yang mencintai Rey sebesar dirimu. Mereka hanya ingin menjadi ratu, kelak duduk di tahta menguasai negara ini, mewarisi kekayaan raja Evertonia, dan tak perduli, apalagi mengerti diri Rey yang sesungguhnya."


"Kalian tahu bagaimana caranya menghadapi putri-putri itu?" tanya Joy, sedikit lebih lega mengetahui duo sahabat kekasihnya memang tak begitu saja tega membiarkannya sendirian.


"Tenang saja, bila ada yang melanggar aturan kerajaan mereka bisa didiskualifikasi. Bersikap kasar, melecehkan, merisak, bila tertangkap kamera pasti akan dikeluarkan. Tapi kali ini biarkan saja, kedua putri itu takkan berani berbuat terlalu jauh."

__ADS_1


"Te.. terima kasih, Yin, Yang. Kalian hebat. Sampaikan salamku untuk Rey."


"Kami akan melakukannya untukmu. Selamat beristirahat, Putri Zoy."


Sepeninggal Yin dan Yang, Joy duduk sendirian. Hari ini acara bebas. "Aku boleh keliling-keliling istana. Semoga tak ada yang menggangguku lagi. Tapi sayang, aku tak diperbolehkan mendekati Pangeran Rey. Aku sungguh sangat rindu.


Bisa melihat sosoknya saja, walau tadi begitu jauh dan berkacamata hitam, sudah sangat membuatku gembira."


"Rey, kamu memang Prince Charming, Pangeran Tampan. Berseragam putih dengan aksen emas, berambut hitam legam halus berkilau. Ingin sekali aku datang membelainya, mengacak-acaknya seperti beberapa waktu yang lalu. Senyummu dingin, tapi aku tahu bibirmu lembut sekali. Sungguh ingin kucium berkali-kali. Tentu manis sekali. Semanis senyummu dan deretan gigi putihmu. Aku rindu tawamu. Tawa riang saat kita nonton film komedi. Jerit spontanmu saat kita nonton film horor. Kau seseorang yang sangat hilarious. Aku sungguh tergila-gila padamu. Rindu padamu mengantarkanku kemari. Aku datang demi kamu, seseorang yang paling indah yang Tuhan izinkan untuk berkenalan denganku."


"Oh ya. Padang lavender itu. Apakah ada di dekat-dekat sini? Aku ingin ke sana. Siapa tahu kau ada di sana."


Joy keluar dari kamar penginapannya, menelusuri lorong-lorong istana yang begitu mewah dan megah. Lantainya berkilau, terang-benderang karena lampu kristal sepanjang langit-langit tinggi, berkarpet merah gelap tebal dari ujung ke ujung. Begitu banyak seperti labirin, dan ia nyaris tersesat.


Evertonia sungguh berbeda dengan Evernesia. Di sini segalanya begitu dreamy, sepertinya juga damai sekali. "Heran, Rey kok pergi? Aku betah di sini. Kecuali bila sehari-hari dikelilingi putri-putri membosankan seperti Chelsea dan Velove!"


Para ksatria dan pengawal di ruangan-ruangan pun tampak gagah, tampan-tampan, walau ada juga yang tinggi besar dan agak 'seram' seperti Yin Yang. Mereka kuat dan tegas, tapi ramah-ramah. Putri Zoy disapa di setiap pintu, ditanyakan keperluannya. Akhirnya setelah bertanya sini-sana, Joy menemukan juga lokasi padang lavender yang ia cari. Tak seberapa jauh, bisa dicapai dengan berjalan kaki menelusuri pinggiran istana.

__ADS_1


"Oh, jadi ini tempat rahasia Rey."


__ADS_2