
Rey si fotografer sebetulnya malas memotret cewek, apalagi setelah memotret Elsa waktu itu, rasanya sedikit trauma. Bukan karena takut tergoda karena modelnya terlalu seksi atau takut ada apa-apa terjadi kemudian, tapi kebanyakan model-modelnya itu ada maunya alias ada udang di balik batu.
"Kali ini siapa ya? Mr. Bee juga sebenarnya kedengaran ragu." Rey masih mencium ada hal yang tak beres di sini.
Rey sedang mempersiapkan peralatannya; tripod, lampu studio, layar latar dan kamera, ketika model yang dimaksud tiba di studio.
Reaksi pertama sang pangeran fotografer adalah.. Haaaaaah ????
"Selamat siang, Yang Mulia Pangeran Reinhard."
"Joy, mau apa kau kemari? Kok pakai baju seksi ala cheongsam begitu siang-siang begini? Dan kok panggil aku dengan nama panjang segala... Terus, kok kamu bisa keluar kantor jam segini, Bos Bee memang mengizinkan?"
"Joy? Namaku bukan Joy, Yang Mulia. Perkenalkan. Aku Putri Xiao Jie."
__ADS_1
Rey masih sedikit tak percaya. Apa Joy sedang mengerjaiku dengan dandan begini cantik, tanpa kacamata, dan gaya jalan yang menggoda?
Sungguh cantik. Cheongsam yang ia kenakan tanpa lengan, penuh sulaman bunga dominan merah emas, seksi ketat seperti di film-film East Everiental. Sedikit hiasan di rambut bergaya Everiental juga, plus bibir merah merona.
"Aku Putri Evertonia juga kok, Pangeran. Anda boleh telepon ayahmu kalau gak percaya." Putri Xiao Jie duduk di sebuah bangku, menyilangkan kaki jenjangnya yang bersepatu merah senada. Belahan di pahanya nyaris robek, membuat jantung Rey kebat-kebit.
"Uh, oke, maaf, Anda mirip sekali dengan istri saya." Rey mencoba profesional. Ramah tamah tapi berusaha jaga jarak. Uh, susah.
"Terima kasih." Rey tak ingin bersalaman tangan dengan putri yang mirip Joy ini, takut kenapa-napa. "Si, si, silahkan duduk di tempat yang sudah saya persiapkan, kita mulai sesi foto kita sekarang." Rey tersenyum kaku, lalu mengambil posisi di balik kamera.
"Oh, ya, jangan khawatir, saya bukan buaya, apalagi Bu Aya," Putri Xiao Jie tersenyum manis.
Duh, kok bisa mirip banget sama Joy. Saudari kembar atau siapa sih kok bisa bak pinang dibelah dua begini?
__ADS_1
Rey berusaha untuk tetap cool dan memotret dalam diam. Pose-pose Putri Xiao Jie biasa saja, tapi memang sangat menggoyang iman, apalagi dengan pemandangan dua gunung kembar di bagian dadanya yang ketat itu. Sesekali diangkatnya pula lengannya, memberi pemandangan ketiak mulus yang takkan ingin dilewatkan pria manapun.
"Dan selesai." Rey menghembuskan napas lega. Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore dan Rey hanya ingin cepat-cepat pulang dan bertemu kembali dengan Mav kecilnya dan tentu saja Joy yang asli.
"Eh, tunggu dulu, Pangeran Rey." Putri Xiao Jie ternyata masih belum selesai. "Pangeran Rey keberatan tidak, jika aku undang ke jamuan makan malam East Everiental di kediaman pribadiku?"
Ehhhhh ????
"Duh, bagaimana ya?" Rey sedikit kaget juga. Beberapa kali ia mendapat undangan serupa dari fans atau klien, yang selalu berhasil ia tolak dengan halus.
"Berdua saja. Sebentar saja, dan tak perlu ada yang tahu." Putri Xiao Jie berkedip sebelah dengan bulu mata palsu cetar membahana. Menyiratkan undangan yang lain, bukan sekedar makan malam.
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bersedianya Yang Mulia menjadi fotograferku. Mau ya, ya, ya?" tambahnya dengan nada manja.
__ADS_1