
Aduh, gimana yah? Rey garuk-garuk kepala walau tak terasa gatal. Kok bisa sih ada cewek putri sungguhan yang begitu berani mengundangnya makan malam berdua saja padahal kenal baru beberapa jam yang lalu? Itupun sebenarnya bukan karena pertemanan yang disengaja, melainkan karena sesi foto saja.
Atau mungkin Rey hanya merasa ge-er alias gede rasa. Sebab ia memang sudah sering dibegitukan. Tapi setelah menikah dan semua tahu statusnya sudah jadi seorang suami sekaligus ayah seorang anak yang masih kecil, tentu saja godaan jauh berkurang.
Jadi, baru kali ini ada lagi, dan juga sangat terus terang.
Putri Xiao Jie juga sepertinya bertambah berani, apalagi dalam studio yang sepi, gelap dan dingin, hanya ada mereka berdua dalam jarak yang tak terlalu jauh.
Uhh, sesekali gapapa kan? - Goda setan kecil imajiner nan lucu dan imut di bahu Rey. Bilang saja sama Joy dan Mav bila kamu mau makan malam dengan teman-teman, sesekali pasti diizinkan!
Iya juga ya, leh uga idemu, Tan! Rey mengangguk mengiyakan. Tapi sebaliknya, malaikat imajiner yang cute di bahu kanan pun gak mau kalah. Ia turut angkat suara, Rey, kamu tak boleh mulai api-api kecil atau riak-riak kecil dalam bahtera rumah tanggamu. Nanti tambah tak terkendali dan juga kamu takkan sanggup menanggung akibatnya. Ingat anak dan istrimu menunggu di rumah!
"Oke, oke, baiklah.." Rey akhirnya mengambil keputusan setelah lama berdebat dalam batinnya.
Dibisikkannya sesuatu ke dekat telinga Putri Xiao Jie, hampir menyentuh leher dan tengkuknya yang wangi parfum bunga sakura.
__ADS_1
"Astaga, kau menolakku?" sang putri Everiental itu terperanjat.
"Bukan begitu, Putri, tapi ini sudah hampir malam, dan aku ingin segera kembali ke rumah untuk bertemu keluargaku, aku seorang suami dan juga seorang ayah. Studio ini tutup tepat pukul lima, dan aku bos di sini jadi tak ada jam lembur. Jadi maafkanlah aku, sebaiknya Anda segera pulang."
"Aku tahu. Aku juga ingin suatu hari nanti bisa mendapatkan seseorang sepertimu."
Putri Xiao Jie sepertinya enggan beranjak, sengaja berlama-lama menahan Rey agar tetap berada di dekatnya.
"Pangeran, Joy sangat beruntung memilikimu. Tapi jangan khawatir, aku takkan menjadikanmu siapa-siapaku, sebab aku hanya ingin menjadikanmu rekan. Rekan bisnis yang baik dan akrab."
Kok aku lega sekaligus deg-degan begini ya? Rey merasa pusing dan ingin buru-buru cepat pulang saja. Setelah menutup semua pintu dan mematikan lampu-lampu, Rey bergegas mengunci pintu dan pulang.
Semoga aku tak bertemu lagi dengan cewek itu. Uhh, kok mirip banget sih sama Joy! Bisa kebetulan sekali, apakah ini hanya mimpi?
Rey sore itu pulang sedikit berbeda, tak seceria biasanya. Joy yang setia menyambut dan menyiapkan air mandi, sedikit curiga bila Rey mengalami sesuatu di studio. Begitu pula Mav kecil, yang sempat bertanya dengan suara kecil cadelnya, "Papi kenapa, cakit ya?"
__ADS_1
"Oh, tidak, Mav-ku Sayang! Papi hanya lelah." Rey mencoba tersenyum sambil memandang mata bening putra kecil semata wayangnya yang masih berusia batita, diraihnya dan dipangkunya dengan rasa rindu sekaligus agak bersalah. Duh, Nak...
"Rey Papimut, cepatlah tidur, jangan begadang lagi ya." Joy turut khawatir.
Malam itu Rey tidur lebih awal, memunggungi Joy. Bila biasanya Joy memeluk dan menciumnya mesra sebelum mematikan lampu dan dibalas dengan pelukan dan ciuman yang sama (atau lebih ganas!) malam ini Rey diam saja saat Joy memeluknya manja. Tumben benar. Tapi Joy maklum, mungkin Rey lelah.
"Selamat Malam, Papimut."
"Ehm... iya, Putri, eh, Mami.." jawab Rey setengah tidur.
Putri?
Malam itu Joy terbangun karena ingin ke toilet. Tapi saat ia kembali, malah didengarnya gumaman dalam tidur atau igauan Rey yang tak biasanya,
"Jangan, Putri Jie, jangan.."
__ADS_1