
"Dear Rey, Pangeranku yang Pemberontak. Di padang lavender ini, kuharap bisa menjumpai sosokmu. Walau sebentar saja. Tapi padang bunga keunguan maha luas ini sunyi saja, tak ada tanda-tanda kehadiran seorangpun, hanya desir angin lembut sesekali membelai telingaku."
Joy duduk di tengah-tengah jalan setapak kecil yang membelah padang bunga itu, berharap bisa menenangkan diri dari sedikit tekanan yang baru dialaminya.
Berada di istana megah, diberi kamar indah, makanan lezat dan fasilitas mewah ternyata tak selamanya menyenangkan, ditambah lagi intervensi dan intimidasi dari pihak tak berwenang, saingan-saingan putri-putri Disni berwajah super cantik, tapi berwatak sangat mengerikan.
"Rey, sekarang aku mengerti kenapa kau pergi dari sini. Hidup bersama ayahanda Raja, yang jadi idaman semua orang, barangkali sama saja dengan apa yang barusan kualami. Tekanan, tuntutan, dan perundungan begitu tinggi. Kau pasti harus selalu sempurna di matanya. Kau adalah pewaris tahta, namun sebelum kau kelak akan dapatkan, kau harus lebih dulu 'berkorban'. Kehilangan cita-citamu, kehilangan kehidupan 'normal' yang dibenci dan disesali banyak orang biasa.
Mereka kira, "Oh, betapa beruntungnya para ningrat berdarah biru, lahir dari kelimpahan dan hidup dalam ketenaran."
"Rey, aku tak ingin kau tinggalkan semua itu demi aku. Tapi asal apa yang kau idamkan tercapai, aku sungguh bahagia."
Sementara itu, di mana Pangeran Rey berada? Ia malah pergi ke tepi pantai. Tanpa diketahui siapa-siapa, ia menyelinap keluar dari istana, seperti biasa dilakukannya saat ia masih remaja.
"Tadi kulihat Joy sangat berbeda. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, akhirnya ia datang juga. Lebih dewasa, anggun, sungguh pangling melihat wajah polos kini berpoles make-up minimalis tapi manis. Tapi jujur saja, aku jauh lebih rindu pada sosok tomboynya."
__ADS_1
"Pantai ini sunyi saja, dan sebentar lagi mentari akan terbenam. Besok aku akan melihat lagi sosoknya. Ia begitu dekat, namun sekaligus begitu jauh. Tadi ingin rasanya aku turun dari tahta dan berlari ke atas panggung Royal Games of Love, menciumnya mesra, memeluknya erat-erat, serta langsung melamarnya di sana, disaksikan seluruh dunia.
Tapi itu di luar rencana kami, dan terlalu gila, tentu saja! Bisa-bisa kami berdua dijebloskan ke penjara!"
Lalu di lembayung senja, seolah-olah muncul sosok Joy terlukis di awan-awan kelabu keperakan. Rey terkesiap. "Joy, kau datang?"
"Rey, aku jadi datang kemari kan? Sabar ya, aku sedikit lagi akan menjadi milikmu. Aku tak kemana-mana. Ini tempat kesukaanku. Di sini, kau selalu akan bertemu denganku." Seperti terdengar ucap Joy yang ada di langit senja itu. Rey berusaha mengedipkan mata, mengucek-ucek mata sipit kecilnya. Tapi sebenarnya tak ada wajah Joy di langit seperti wajah King Mufasa di animasi The Lion King, itu hanya sebuah ilusi, halusinasi.
"Tapi bayangan itu cukup menghiburku, ya, Joy tak terlalu jauh lagi sekarang. Hanya sebatas beberapa hari. Tak pernah pupus harapanku untuk hidup dalam ketenangan masyarakat jelata bersamamu suatu hari nanti.
Aku akan sabar menunggu."
"Joy, kau datang ke tempat favoritku. Aku senang sekali kau ada di sini hari ini. Bahkan melihatmu dari jauh saja aku sudah sangat gembira. Tak terlukiskan dengan kata-kata. Seandainya saja kau tahu, aku teramat sangat rindu." Suara rendah ramah itu, yang biasanya diiringi senyumnya yang lucu menggemaskan.
"Rey, kamu disini juga? Mau kupeluk erat dirimu, mau kusayang sepuasnya, aku rindu, aku nyaris putus asa. Ingin menangis tersedu, mengisi bulan-bulan hampa terlewati tanpa dirimu, habiskan hutang cium sayangmu dengan bersandar di bahumu."
__ADS_1
"Aku tak di sini, tapi aku kan dekat." Suara Rey yang tak ada sosok nyatanya itu kembali bicara. "Jangan biarkan satu-satunya kesempatan emas bagi kita berdua berlalu. Karena kau harus menang untukku. Majulah, hadapi semua. Ingat, kau si Tomboy Joy, yang telah melawan semua penghalangmu dan menang."
Joy sadar, itu bukan Rey, hanya ilusi optik di mega-mega yang berlalu bersama terbenamnya mentari senja. Tapi Joy sudah sangat gembira. Rey yang sungguhan pasti akan mengatakan hal yang sama.
"Aku pulang ke istana, Rey. Di sini walau hanya bertemu dengan bayangan imajinermu, suaramu seperti bergema dalam batin, memberi kekuatan."
Joy kembali.
Ksatria Yin dan Yang kembali menyambutnya di pintu.
"Dari mana saja, Putri Zoy? Kami mencari-carimu dan juga Pangeran Rey. Kami pikir kalian berdua berkencan rahasia di suatu tempat. Royal Game bisa mendiskualifikasi kalian dan permainan bisa ketahuan." Panik Yin.
"Yin, aku di sini." Suara itu mengejutkan Yin Yang dan Joy.
"Pangeran Rey! Dari mana saja kau?" Yang terkejut.
__ADS_1
Namun Rey tak langsung menyahut, berlalu melewati mereka bertiga dengan punggung dingin. "Pantai." Singkat ia menjawab datar. Lalu ia melambaikan tangan secara formal dan segera menghilang di salah satu lorong istana.
Yin dan Yang berpandang-pandangan. Joy mendengus kesal. "Uh, sombongnya. Tapi tadi dia bilang Pantai? Aduh, tempat kesukaanku. Ternyata..."